ilustrasi anak kecil makan bersama (pexels.com/naomishi)
Menjelang usia sekolah, anak semakin banyak belajar tentang pertemanan, kerja sama, dan cara menempatkan diri dalam kelompok. Beberapa kemampuan berikut biasanya mulai terlihat.
1. Menunjukkan ketertarikan untuk menjadi bagian dari kelompok
Anak mulai menikmati kegiatan bersama kelompok dan berinteraksi dengan lebih banyak teman sebaya. Orangtua bisa memperkenalkan olahraga tim, seperti sepak bola atau T-ball, untuk melatih pengalaman bermain bersama.
Namun, Wittenberg menyarankan agar orangtua memilih aktivitas yang tidak memiliki terlalu banyak aturan atau batasan. Dengan begitu, anak bisa menikmati kegiatan tanpa merasa terbebani.
2. Mulai lebih mampu berbagi dan bekerja sama dengan orang lain
Meski terkadang masih berebut mainan, anak mulai memahami konsep berbagi dan menunggu giliran. Mereka juga semakin mampu mempertimbangkan pikiran serta kebutuhan orang lain ketika berinteraksi.
Kalpidou menjelaskan, kesadaran tersebut membantu anak mengembangkan kemampuan bernegosiasi dan menyelesaikan konflik secara verbal. Mereka juga mulai belajar memahami suasana emosional dalam kelompok.
3. Mulai menunjukkan kasih sayang secara fisik
Anak usia 4 tahun biasanya semakin sering menunjukkan kasih sayang melalui pelukan dan ciuman kepada orangtua, keluarga, maupun teman. Mereka juga mulai memperlihatkan kepedulian ketika melihat orang lain mengalami kesulitan atau kesedihan.
Menurut Kalpidou, anak-anak pada usia ini menunjukkan lebih banyak perilaku prososial, seperti berbagi dan mengungkapkan rasa simpati. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa anak mulai belajar memperhatikan perasaan orang lain.
4. Mulai menunjukkan kemandirian yang lebih besar
Keinginan melakukan berbagai hal sendiri semakin kuat, termasuk memilih dan mengenakan pakaian tanpa bantuan orangtua. Meski terkadang muncul pada waktu yang kurang tepat, keinginan tersebut merupakan bagian dari proses membangun kepercayaan diri.
Wittenberg menjelaskan bahwa anak perlu menunjukkan kemandirian sekaligus memahami situasi sosial yang sesuai. Karena itu, orangtua bisa memberi ruang bagi anak untuk mencoba melakukan sesuatu sendiri.
Perkembangan sosial anak gak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Daripada sibuk membandingkan pencapaiannya dengan anak lain, orangtua bisa mendukung proses tersebut melalui interaksi sehari-hari dan memberi kesempatan si kecil mengenal lingkungan sekitarnya.