Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Gerakan Ini Jadi Tanda Motorik Kasar Balita Makin Berkembang
Ilustrasi balita bermain (pexels.com/tatianasyrikova)
  • Gerakan berjongkok lalu berdiri menandakan stabilitas, keseimbangan, dan kontrol tubuh balita makin berkembang, sekaligus mendukung kemandirian saat mengambil benda di lantai.
  • Melempar benda, menari mengikuti musik, dan berjalan mundur melatih koordinasi, kelincahan, kekuatan, serta keseimbangan; kemampuan ini umumnya mulai terlihat sejak sekitar usia 15 bulan.
  • Menaiki tangga dan melompat menunjukkan perkembangan otot besar, perpindahan berat badan, koordinasi, serta kemampuan mendarat; orangtua perlu menyediakan area aman dan pendampingan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat balita mulai berjalan memang menjadi salah satu momen yang bikin orangtua bangga. Namun, perkembangan motorik kasar masih terus berlanjut lewat gerakan sederhana, seperti berjongkok, melempar, berjalan mundur, menaiki tangga, hingga melompat. Gerakan-gerakan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi tubuh si kecil semakin berkembang.

Menariknya, berbagai kemampuan itu bisa terlihat dari aktivitas yang dilakukan balita sehari-hari. Lantas, apa saja gerakan yang bisa menjadi tanda motorik kasar balita makin berkembang? Berikut beberapa di antaranya.

1. Mulai bisa berjongkok dan kembali berdiri

ilustrasi balita bermain (pexels.com/yankrukov)

Jangan menganggap sepele ketika si kecil berhenti berjalan, lalu berjongkok untuk mengambil mainan sebelum kembali berdiri. Gerakan ini butuh keseimbangan sekaligus kemampuan mengontrol tubuh saat menurunkan dan menaikkan badan. Jika sebelumnya ia masih harus berpegangan atau meminta bantuan untuk mengambil benda di lantai, kemampuan berjongkok menunjukkan tubuhnya mulai lebih stabil.

“Berjongkok berarti anak Anda sudah stabil saat berdiri di atas kedua kakinya, dan hal itu membutuhkan keseimbangan yang cukup besar,” ujar Claire McCarthy, M.D., dokter anak di Boston Children's Hospital, dikutip dari Parents.

Kemampuan berjongkok juga menjadi salah satu langkah menuju kemandirian karena anak mulai bisa mengambil benda sendiri tanpa selalu bergantung pada orangtua. Tak perlu memberikan latihan khusus, cukup biarkan berbagai mainan berada di lantai agar si kecil terdorong berjalan, berhenti, berjongkok, mengambil mainan, lalu berdiri kembali secara alami.

2. Mulai gemar melempar benda

ilustrasi balita bermain (pexels.com/dhemer)

Ketika balita mulai mengambil bola dan melemparkannya, ia sedang melatih keseimbangan, kelincahan, kekuatan tangan, serta koordinasi mata dan tangan. Kemampuan ini biasanya mulai muncul pada usia 15–18 bulan dan menjadi salah satu tanda perkembangan motorik kasarnya semakin baik.

“Sekitar usia 2 tahun, anak mulai menunjukkan dominasi tangan kiri atau kanan,” ujar Raymond Tervo, M.D., dokter anak bidang perkembangan saraf di Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, dikutip dari Parents.

Orangtua juga bisa memperhatikan tangan yang lebih sering digunakan si kecil saat melempar. Untuk melatihnya, pilih benda yang ringan dan mudah digenggam, seperti beanbag atau bola sensorik agar anak dapat fokus mengembangkan koordinasi dan kontrol geraknya.

3. Mulai bergoyang atau menari mengikuti musik

ilustrasi balita berbaju hijau sedang bermain (pexels.com/Emma Bauso)

Saat mendengar musik lalu mulai menggoyangkan badan, si kecil sebenarnya sedang melatih kemampuan motoriknya. Menari membantu anak menggabungkan berbagai gerakan tubuh mengikuti irama, yang biasanya mulai terlihat pada usia 15–20 bulan.

“Bergerak mengikuti irama berarti anak telah menemukan cara yang menyenangkan untuk menantang tubuhnya dan belajar menggabungkan berbagai gerakan menjadi satu rangkaian,” ujar Laura Prosser, Ph.D., fisioterapis anak di The Children's Hospital of Philadelphia, dikutip dari Parents.

Orangtua bisa mendukungnya dengan memutar musik favorit dan mengajak si kecil menari bersama. Memberikan alat musik sederhana seperti marakas atau tamborin juga bisa membuat aktivitas lebih seru sekaligus mendorong anak mengikuti irama dan meniru gerakan orang di sekitarnya.

4. Mulai mencoba berjalan mundur

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/gustavo-fring)

Berjalan mundur ternyata cukup menantang bagi balita karena membutuhkan kontrol tubuh, keseimbangan, serta penggunaan otot bokong dan paha depan yang berbeda dari berjalan ke depan. Sebagian anak mulai mencobanya sekitar usia 15 bulan, tetapi waktu munculnya kemampuan ini bisa berbeda pada setiap anak.

Untuk mendorongnya, orangtua bisa menggunakan mainan tarik yang membuat anak terdorong berbalik dan berjalan mundur saat mainan mendekati tubuhnya. Tidak perlu memaksa jika si kecil belum tertarik, cukup berikan kesempatan melalui permainan di area yang aman agar ia bisa mengeksplorasi gerakan tanpa mudah terjatuh.

5. Balita mulai tertarik menaiki tangga

ilustrasi anak balita bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Ketika si kecil mulai mencoba menaiki tangga, ia sedang melatih kekuatan otot besar, keseimbangan, dan kemampuan memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya. Awalnya, balita biasanya membungkuk dan menggunakan tangan untuk membantu naik sebelum perlahan mampu berpegangan pada pagar atau tangan orang dewasa, yang umumnya mulai berkembang sekitar usia 18–22 bulan.

Sementara itu, kemampuan menuruni tangga dengan kedua kaki biasanya baru muncul setelah usia 2 tahun, sehingga sebelumnya anak mungkin lebih nyaman turun sambil duduk atau menggeser bokong. Karena tangga cukup berisiko, pastikan ada pagar pengaman di bagian atas dan bawah serta selalu dampingi si kecil saat berlatih.

6. Mulai mampu melompat di tempat

ilustrasi bermain dengan anak (pexels.com/tatianasyrikova)

Sekitar usia 2–3 tahun, balita mulai belajar melompat di tempat, meski awalnya kedua kaki mungkin hanya terangkat sedikit dari lantai. Seiring kekuatan otot dan keseimbangannya meningkat, lompatan akan menjadi lebih tinggi dan jauh karena gerakan ini membutuhkan kekuatan, koordinasi, serta kemampuan mendarat dengan kedua kaki.

“Pelajaran berenang membantu meningkatkan tonus otot dan koordinasi yang merupakan kemampuan penting untuk melompat dan berbagai keterampilan motorik kasar lainnya,” ujar Raymond Tervo.

Orangtua bisa menyediakan area latihan yang aman dan empuk, seperti karpet atau matras. Setelah menguasai lompatan di tempat, si kecil biasanya akan mulai mencoba gerakan yang lebih kompleks, seperti melompat dengan satu kaki, skipping, hingga berlari.

Setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda, jadi tak perlu membandingkan kemampuan si kecil dengan anak lain. Yang terpenting, beri ruang untuk bergerak dan bereksplorasi dengan aman agar motorik kasarnya berkembang secara optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article