Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Alasan Anak Muda Rentan Chronic Anxiety, Kamu Mengalaminya?
ilustrasi mengalami chronical anxiety (pexels.com/kaboompics.com)
  • Harga rumah yang melampaui kemampuan menabung membuat banyak anak muda cemas soal kemandirian dan tempat tinggal, meski mereka telah berhemat atau mencari pemasukan tambahan.
  • Stagnasi upah di tengah kenaikan kebutuhan, cicilan, iuran, dan transportasi membuat pekerja muda merasa terjebak dalam kelelahan finansial dari bulan ke bulan.
  • Media sosial memicu perbandingan dengan standar hidup tak realistis, sementara banyaknya pilihan dan ketidakpastian masa depan menambah kebingungan serta kecemasan anak muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berniat healing, saat kamu scroll media sosial malah bikin dada semakin sesak karena melihat pencapaian orang lain yang seolah melesat jauh meninggalkanmu. Perasaan cemas yang konstan dan bikin dada deg-degan tanpa sebab yang jelas ini adalah salah satu alasan anak muda sekarang alami chronical anxiety. Kehidupan yang serba cepat ditambah beban finansial seakan jadi kombinasi sempurna yang membuat energi kamu gampang terkuras habis.

Kalau perasaan cemas ini terus kamu abaikan, dampaknya bisa merembet ke segala aspek kehidupanmu, lho. Kamu mungkin bakal merasa selalu kehabisan energi setiap kali bangun tidur, sampai-sampai sulit buat fokus menyelesaikan pekerjaan harian. Hubungan dengan orang terdekat pun bisa ikut renggang karena kamu jadi lebih gampang terpancing emosi atau malah menarik diri dari pergaulan. Agar bisa mencegah hal ini, simak alasan anak muda saat ini sangat mudah mengalami chronical anxiety!


1. Hadapi harga rumah yang makin gak masuk akal

ilustrasi harga rumah semakin naik dari tahun ke tahun (pexels.com/Thirdman)

Memiliki rumah sendiri sering dianggap sebagai pencapaian puncak menuju fase dewasa yang mandiri dan mapan. Sayangnya, realita harga properti saat ini justru jauh lebih cepat daripada kemampuan menabungmu setiap bulannya. Kamu mungkin sudah berusaha mati-matian berhemat, memotong anggaran jajan kopi susu, hingga mencari kerja sampingan buat menambah pemasukan. Namun, angka down payment (DP) rumah yang terus melangit seolah jadi tembok tebal yang mustahil buat ditembus oleh generasi saat ini.

Kondisi ini kerap bikin kamu merasa gagal, padahal sebenarnya kamu hanya korban dari sistem ekonomi yang emang lagi gak baik-baik saja. Bayangkan saja, gaji naik cuma setahun sekali dengan persentase yang sering habis dimakan inflasi, tapi harga tanah naiknya bisa berkali-kali lipat tanpa permisi. Makanya, wajar kalau memikirkan masa depan tempat tinggal ini bikin kepala rasanya mau pecah berkeping-keping. Tenang, kamu gak sendirian, karena ngontrak atau ngekos dalam jangka waktu lama kini mulai jadi gaya hidup wajar yang gak perlu bikin kamu merasa minder, kok.


2. Bertahan dengan gaji yang terus jalan di tempat

ilustrasi gaji gak sesuai ekspektasi (pexels.com/Defrino Maasy)

Di tengah kebutuhan hidup yang serba mahal, pemasukan bulanan justru sering kali hanya numpang rekening. Fenomena stagnasi upah ini bukan cuma ilusi, melainkan fakta pahit yang harus ditelan oleh jutaan pekerja muda di berbagai sektor industri saat ini. Beban kerja yang terus bertambah seiring berjalannya waktu nyatanya gak selalu dibarengi dengan penyesuaian kompensasi yang sepadan dan layak. Alhasil, banyak yang merasa terjebak dalam siklus kelelahan tanpa akhir demi sekadar menyambung hidup dari bulan ke bulan.

Belum lagi kalau ada tagihan cicilan, iuran BPJS, hingga biaya transportasi harian yang diam-diam terus menggerogoti sisa gaji yang sudah pas-pasan. Gak heran kalau sekadar merencanakan liburan tipis-tipis saja butuh waktu berminggu-minggu buat menata ulang pos keuangan biar kantong gak defisit.

3. Batasi paparan standar hidup dari media sosial

ilustrasi melihat konten media sosial (pexels.com/Kerde Severin)

Sadar atau gak, kebiasaan berselancar di dunia maya nyatanya punya andil besar dalam menciptakan standar hidup yang serba gak realistis. Setiap hari disuguhi oleh media sosial gambaran terbaik dari kehidupan orang lain yang tampak begitu sempurna dan tanpa celah. Mulai dari pencapaian karier di usia muda, liburan mewah ke luar negeri, sampai momen pamer saldo rekening yang nominalnya bikin melongo. Paparan informasi yang bertubi-tubi ini secara perlahan tapi pasti mulai meracuni pikiran dan membuat kamu terus-terusan merasa kurang.

Kamu mungkin sering tanpa sadar membandingkan hidupmu dengan influencer di layar ponsel. Padahal, apa yang tersaji di internet itu sering kali cuma ilusi visual yang sudah melewati proses editing panjang dan kurasi yang ketat. Sesekali cobalah lakukan detoks digital kalau kamu mulai merasa napasmu sesak tiap kali membuka aplikasi media sosial kesayanganmu. 

4. Terima ketidakpastian arah masa depan dengan lapang

ilustrasi stres memilikirkan masa depan (pexels.com/Ron Lach)

Hidup di era modern yang serba cepat ini ternyata membawa paradoks tersendiri yang cukup membingungkan bagi generasi muda. Di satu sisi, kamu dibombardir oleh ribuan pilihan karier, gaya hidup, hingga pilihan pasangan yang seolah tak terbatas jumlahnya. Namun di sisi lain, banyaknya opsi ini justru memicu kebingungan dalam mengambil keputusan karena takut salah melangkah dan menyesal di kemudian hari. Ketidakpastian global seperti ancaman resesi, perubahan iklim, hingga dinamika industri juga makin menambah awan mendung di benak kamu tentang hari esok.

Kalau kamu merasa kehilangan arah, gak ada salahnya buat berhenti sejenak dan fokus pada hal-hal kecil yang masih bisa kamu kendalikan hari ini. Toh, gak semua hal harus dipikirkan sekarang juga, dan membiarkan masa depan tetap jadi misteri kadang bisa jadi cara terbaik buat melindungi kewarasanmu.

Memang gak mudah menghadapi realita yang berat, tapi poin-poin di atas menjadi validasi dan alasan anak muda sekarang alami chronical anxiety. Kamu sudah berjuang sangat keras sampai hari ini, dan itu patut diapresiasi setinggi-tingginya, kok. Tarik napas panjang, peluk dirimu sendiri, dan ingatlah bahwa pelan-pelan semuanya pasti akan menemukan jalan keluarnya, ya.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article