Coba kamu buka timeline media sosial hari ini, isinya pasti penuh dengan rentetan berita krisis sosial, ketidakadilan, atau tragedi yang kadang bikin dada ikutan sesak. Di tengah riuhnya simpati dan kemarahan publik, kadangkala muncul segelintir orang yang tiba-tiba menyuruh kamu untuk tetap tenang atau sekadar kembali fokus ke diri sendiri. Respons macam inilah yang akhirnya menjawab kenapa mindfulness dan stoikisme sering terkesan 'nir-empati' saat krisis sosial sedang memanas di tengah masyarakat.
Kalau kamu terus-terusan memendam perasaan validmu hanya demi terlihat 'stoik' dan kebal, ujung-ujungnya mentalmu sendiri yang bakal meledak karena terjebak toxic positivity, lho. Kamu mungkin mulai merasa bersalah saat marah melihat ketidakadilan, padahal kemarahan itu adalah insting empati yang sangat manusiawi dan wajar banget, kok. Inilah fakta mindfulness dan stoikisme yang sering dinilai nir-empati!
