Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Aman Hadapi Catcalling saat Jogging, Ironis Gak Sih?

4 min read
4 Cara Aman Hadapi Catcalling saat Jogging, Ironis Gak Sih?
ilustrasi perempuan jogging (magnific.com/katemangostar)
  • Catcalling saat jogging dapat memicu rasa cemas, menurunkan motivasi berolahraga di ruang terbuka, dan membuat sebagian orang memilih tetap di rumah atau pergi ke gym.
  • Saat mengalami catcalling verbal, pelari disarankan mengabaikan pelaku, fokus pada rute, serta mengajak teman atau bergabung komunitas olahraga untuk meningkatkan rasa aman.
  • Sebelum berolahraga, bagikan lokasi terkini kepada orang terdekat; bila pelaku mendekat atau menyentuh, minta bantuan, rekam bila memungkinkan, dan laporkan tindakan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak kamu lagi semangat-semangatnya jogging pagi, eh, malah digodain sama sekumpulan orang gak dikenal di pinggir jalan? Niatnya mau cari keringat dan healing, malah jadi bad mood karena ujaran yang gak sopan. Momen menyebalkan ini sayangnya masih sering terjadi dan jadi alasan banyak orang malas berolahraga di area terbuka. Padahal, ada trik cerdas menghadapi catcalling saat olahraga outdoor supaya kamu tetap bisa workout dengan nyaman.

Kalau kamu biarkan masalah ini berlarut-larut, lama-lama kamu bakal kehilangan motivasi buat hidup sehat karena dihantui rasa cemas, lho. Rasa takut berlebihan atau anxiety ini akhirnya bikin kamu cuma berani rebahan di kamar atau harus keluar uang ekstra buat nge-gym. Masih dalam suasana Hari Olahraga Nasional, kamu juga berhak buat menikmati udara segar di taman kota tanpa harus merasa terintimidasi oleh tatapan nakal atau siulan iseng, kok. 


  1. 1. Abaikan dan tetap fokus pada rute lari

    ilustrasi fokus lari
    ilustrasi fokus lari (pexels.com/pexels LATAM)

    Langkah pertama dan paling aman yang bisa kamu lakukan adalah cuek terhadap sekitarmu. Para pelaku pelecehan verbal di jalanan biasanya cuma mencari perhatian dan kepuasan instan dari reaksi kagetmu. Kalau kamu memperlihatkan wajah panik atau membalas omongan mereka, oknum ini justru merasa menang dan makin menjadi-jadi. 

    Dengan tetap fokus pada rute lari, kamu sedang membangun boundaries atau batasan personal yang tegas secara non-verbal. Kamu tinggal skip dan lanjut mendengarkan playlist lagu favoritmu lewat earphone yang terpasang manis di telinga, ya. Gak perlu buang-buang kalori berhargamu buat meladeni orang-orang kurang kerjaan, mending kalorinya dipakai buat nambah jarak tempuh lari, kan?


  2. 2. Ajak teman atau gabung komunitas olahraga

    ilustrasi mengikuti komunitas lari
    ilustrasi mengikuti komunitas lari (pexels.com/cottonbro studio)

    Berolahraga bareng teman alias menerapkan buddy system terbukti secara psikologis bikin rasa amanmu meningkat drastis, lho. Ketika kamu berada dalam sebuah kelompok, para pelaku street harassment biasanya akan mikir dua kali sebelum melontarkan kata-kata murahan. Jumlah yang lebih banyak secara otomatis memberikan ilusi perlindungan dan power yang bikin nyali pelaku ciut duluan, guys

    Kalau teman-temanmu pada mager alias malas gerak, kamu bisa banget ikutan klub lari lokal yang sekarang lagi hype banget di mana-mana. Selain terhindar dari siulan cowok-cowok iseng, siapa tahu kamu malah ketemu teman baru yang satu frekuensi di komunitas itu, kan? Intinya, jangan biarkan oknum gak bertanggung jawab merenggut kebahagiaanmu, karena berkumpul sama orang positif itu beneran bikin hidupmu lebih positif.


  3. 3. Bagikan lokasi terkini ke orang terdekat

    ilustrasi share loc pada keluarga dan teman
    ilustrasi share loc pada keluarga dan teman (pexels.com/Pixabay)

    Di era digital yang serba canggih ini, keamanan personal atau personal safety harus selalu jadi prioritas utama kamu setiap saat, lho. Sebelum keluar rumah untuk cari keringat, biasakan diri buat memanfaatkan fitur live location yang ada di berbagai aplikasi chatting. Langkah preventif ini sangat krusial biar orang terdekatmu tahu persis rute pergerakanmu dari titik awal sampai akhir. Walaupun terdengar sepele, kebiasaan ini jadi bentuk antisipasi cerdas yang bisa menyelamatkanmu dari situasi yang tak terduga, lho.

    Kamu bisa langsung kirim share loc ke grup keluarga atau chat ke sahabatmu yang paling fast response. Kalau tiba-tiba ada kelompok yang mulai bertindak di luar batas, kamu bisa langsung telepon orang rumah supaya merasa lebih tenang. Jangan ragu buat ngomong agak keras pas di telepon, misalnya "Halo Ma, iya ini aku udah dekat perempatan taman, jemput ya!" biar pelakunya dengar. Biasanya trik ini sering sukses bikin oknum catcalling mundur teratur, lho.


  4. 4. Berani lapor kalau sudah mengarah ke fisik

    ilustrasi slow jogging
    ilustrasi slow jogging (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Ada kalanya sikap diam sudah gak lagi efektif, terutama kalau pelaku mulai nekat mendekat atau mencoba menyentuhmu. Dalam kondisi red flag seperti ini, insting fight or flight di otakmu pasti langsung merespons dengan cepat. Kamu berhak secara hukum dan moral untuk membela diri karena tindakan tersebut sudah masuk ke ranah pelecehan seksual secara fisik. 

    Mengetahui cara melindungi diri sendiri termasuk bentuk self-love paling nyata yang wajib dimiliki oleh setiap anak muda zaman sekarang. Jangan pernah ragu untuk berteriak lantang meminta tolong kepada warga sekitar atau satpam taman jika kamu merasa terancam. Kalau berani, kamu bisa langsung keluarkan HP dan rekam wajah pelaku biar mereka panik, apalagi cancel culture netizen sekarang itu nyata. Kalau perlu bawa juga alat perlindungan diri skala kecil seperti semprotan merica atau peluit di saku celana olahragamu sebagai senjata rahasia.

    Membangun rasa aman dari pelecehan jalanan memang butuh proses, tapi kamu pasti bisa menerapkan cara menghadapi catcalling saat olahraga outdoor di atas secara perlahan. Jangan biarkan ucapan receh orang asing menghalangimu untuk mencapai versi paling sehat dan bahagia dari dirimu, ya. Teruslah berlari, tetaplah bersinar, dan buktikan kalau jalanan di luar sana juga sepenuhnya milikmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More