Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi self care (pexels.com/ KATRIN BOLOVTSOVA)
  • Belanja impulsif saat stres, olahraga tanpa pemulihan, dan diet terlalu ketat dapat mengganggu keuangan, kondisi fisik, serta pemenuhan nutrisi tubuh.
  • Me time berubah merugikan ketika dipakai terus-menerus untuk menunda tanggung jawab, menghindari percakapan penting, atau tidak menghadapi persoalan yang perlu diselesaikan.
  • Mengisolasi diri terlalu lama dapat menghilangkan dukungan emosional; self-care seharusnya mendukung kesehatan dan kehidupan sehari-hari, bukan mengganggu relasi atau kewajiban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah self care sering dikaitkan dengan aktivitas yang membuat diri merasa lebih nyaman, mulai dari membeli barang incaran, berolahraga, sampai menghabiskan waktu sendirian. Tidak sedikit orang menjadikannya cara untuk melepas penat setelah menghadapi rutinitas yang melelahkan. Namun, sesuatu yang terasa menyenangkan sesaat belum tentu memberikan dampak baik dalam jangka panjang.

Masalahnya bukan terletak pada aktivitas tersebut, melainkan cara melakukannya dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Beberapa kebiasaan bahkan bisa menjadi bentuk pelarian yang justru menambah persoalan baru.

1. Belanja impulsif sebagai hadiah untuk diri sendiri

ilustrasi belanja impulsif (pexels.com/ Gustavo Fring)

Membeli pakaian, skincare, atau barang yang sudah lama diincar memang bisa memberikan rasa senang. Namun, jika setiap kali stres atau kecewa kamu langsung membuka aplikasi belanja untuk mencari kepuasan, kebiasaan ini berisiko berubah menjadi pelampiasan emosional. Apalagi jika pembelian dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan.

Kesenangan tersebut biasanya tidak sebanding dengan konsekuensi setelahnya, seperti tagihan menumpuk atau pengeluaran kebutuhan pokok terganggu. Memberi hadiah kepada diri sendiri tidak harus selalu berupa barang baru. Aktivitas sederhana yang tidak membebani keuangan bisa menjadi pilihan yang lebih aman.

2. Olahraga berlebihan demi merasa produktif

ilustrasi olahraga berlebihan (magnific.com/ magnific)

Olahraga memang bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Namun, dorongan untuk terus berlatih tanpa memberi tubuh waktu pemulihan justru dapat menimbulkan masalah. Contohnya, tetap memaksakan latihan ketika sedang cedera, sakit, atau kelelahan karena merasa bersalah jika melewatkan jadwal olahraga.

Kebiasaan ini bisa membuat olahraga berubah dari aktivitas yang menyehatkan menjadi tuntutan yang sulit dikendalikan. Tanda lainnya adalah merasa sangat gelisah ketika tidak berolahraga atau mulai mengorbankan pekerjaan dan hubungan sosial demi latihan. Tubuh membutuhkan waktu istirahat agar dapat pulih, bukan terus-menerus dipaksa mencapai target.

3. Menjalani diet ketat sampai mengabaikan kebutuhan tubuh

ilustrasi diet (pexels.com/ Gustavo Fring)

Mengatur pola makan bisa menjadi bagian dari perawatan diri. Akan tetapi, kebiasaan membatasi makanan secara berlebihan demi mengejar bentuk tubuh tertentu bukan berarti sedang memperlakukan diri dengan baik. Misalnya, sengaja melewatkan makan meski lapar atau merasa harus menghindari makanan tertentu karena takut berat badan bertambah.

Pembatasan yang terlalu ketat dapat membuat kebutuhan energi dan nutrisi tubuh tidak terpenuhi, terutama jika dibarengi aktivitas fisik yang tinggi. Pola makan sehat seharusnya membantu tubuh mendapatkan asupan yang cukup, bukan membuat seseorang terus merasa bersalah setiap kali menikmati makanan.

4. Menghindari masalah dengan alasan butuh waktu untuk diri sendiri

ilustrasi menghindar (pexels.com/ Vera Arsic)

Mengambil jeda setelah hari yang melelahkan merupakan hal wajar. Namun, menggunakan alasan me time untuk terus menghindari persoalan yang perlu diselesaikan bisa membuat masalah semakin menumpuk. Contohnya, menunda percakapan penting dengan pasangan, mengabaikan tanggung jawab, atau terus menghindari situasi yang memicu kecemasan.

Istirahat dan penghindaran memiliki tujuan yang berbeda. Istirahat membantu seseorang memulihkan energi sebelum kembali menghadapi aktivitas, sedangkan penghindaran yang terus dilakukan dapat membuat persoalan tidak pernah terselesaikan. Jika sedang kewalahan, beri diri waktu untuk tenang, tetapi tentukan kapan akan mulai menghadapi hal yang tertunda.

5. Menjauh dari semua orang saat sedang tidak baik-baik saja

ilustrasi mengisolasi diri (pexels.com/ Grafik Bock)

Mengurangi interaksi sosial untuk sementara bisa membantu ketika seseorang membutuhkan ruang pribadi. Namun, mengisolasi diri dalam waktu lama hingga memutus komunikasi dengan orang-orang yang suportif dapat membuat seseorang kehilangan sumber dukungan emosional. Kondisi ini berbeda dengan menikmati waktu sendirian secara sadar.

Ketika sedang menghadapi tekanan, berbicara dengan teman atau keluarga yang dipercaya bisa membantu meringankan beban. Tidak harus selalu menceritakan seluruh masalah, seperti mengobrol santai atau sekadar menghabiskan waktu bersama juga dapat menjadi bentuk koneksi sosial yang berarti. Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus menghadapi semuanya sendirian.

Self care bukan tentang mengikuti rutinitas yang sedang populer atau memenuhi semua keinginan sesaat. Aktivitas tersebut semestinya membantu menjaga kesehatan dan mendukung kehidupan sehari-hari, bukan menimbulkan masalah baru. Jika suatu kebiasaan mulai mengganggu kondisi fisik, keuangan, tanggung jawab, atau hubungan dengan orang lain, ada baiknya mengevaluasi kembali apakah cara merawat diri tersebut masih benar-benar bermanfaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article