ilustrasi reaksi spontan untuk langsung menyangkal tanpa memahami inti pesan dari masukan yang diberikan (pexels.com/ Afif Ramdhasuma)
Tidak semua kritik datang dengan cara yang menyenangkan. Ada yang disampaikan secara terburu-buru, menggunakan nada tinggi, atau terasa menyudutkan. Ketika menghadapi situasi seperti ini, seseorang bisa langsung membalas, memotong pembicaraan, atau menyusun argumen untuk menyangkal komentar tersebut sebelum memahami maksudnya.
Reaksi spontan itu terkadang membuat informasi penting terlewat. Misalnya, kamu menerima teguran karena sering terlambat mengumpulkan tugas, tetapi terlalu fokus membantah cara penyampaiannya hingga mengabaikan masalah tenggat waktu yang memang perlu diperbaiki. Memberi jeda sebelum merespons dapat membantu memisahkan cara penyampaian kritik dari isi pesannya. Kamu tidak harus menyetujui semua komentar, tetapi tetap bisa menilai apakah ada bagian yang layak dipertimbangkan.
Menerima kritik bukan berarti harus selalu setuju dengan penilaian orang lain atau menganggap semua komentar benar. Ada masukan yang memang tidak relevan, tidak adil, atau disampaikan tanpa pemahaman yang cukup. Yang perlu dilatih adalah kemampuan menilai kritik tanpa langsung menjadikannya ancaman terhadap harga diri. Ketika kamu bisa mengakui kekurangan tanpa merendahkan diri sendiri, kritik akan lebih mudah digunakan sebagai bahan evaluasi daripada sekadar sesuatu yang harus dilawan.