Membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang terbuka untuk siapa saja. Namun, akses terhadap buku dan jenis bacaan yang dikenal seseorang tidak selalu terbentuk dari pilihan personal semata. Harga buku, akses perpustakaan, kualitas pendidikan, lingkungan keluarga, hingga kebiasaan membaca sejak kecil dapat memengaruhi pengalaman literasi seseorang.
Persoalannya muncul ketika perbedaan akses tersebut kemudian digunakan untuk menghakimi pembaca. Seseorang bisa dianggap kurang berwawasan hanya karena tidak mengenal karya tertentu atau lebih menyukai bacaan yang mudah ditemukan dan terjangkau. Dalam konteks inilah bookshaming dapat beririsan dengan classism. Berikut beberapa bentuknya.
