3 Alasan Gak Haus Validasi Eksternal Bikin Hidup Terasa Tanpa Beban

- Tidak bergantung pada validasi eksternal membuat seseorang bisa menentukan standar hidupnya sendiri dan merasa lebih nyaman menjalani kehidupan sesuai kebutuhan pribadi.
- Melepaskan ketergantungan pada pendapat orang lain membantu seseorang menjadi lebih bijak dalam menilai masukan tanpa harus selalu mengikuti setiap ucapan orang.
- Tidak semua validasi dari orang lain didasari pertimbangan matang, sehingga belajar mempercayai diri sendiri membantu menghindari kebingungan dan membawa ketenangan hidup.
Tidak dapat dimungkiri bahwa tantangan yang membuatmu berat dalam menjalani hidup memang ada. Namun, terkadang hal yang membebani diri itu juga bisa muncul dari perilaku diri sendiri yang kurang pas, lho. Salah satu hal yang dimaksud adalah selalu mencari validasi eksternal alias validasi dari orang lain setiap kali hendak melakukan sesuatu, entah itu untuk sesuatu yang remeh atau penting.
Mendengarkan pendapat orang lain memang tidak keliru karena hal ini bisa digunakan sebagai upaya untuk berjaga-jaga bila ternyata kamu melewatkan sesuatu. Namun, bila malah jadi ketergantungan pada validasi, pasti bakal repot. Oleh sebab itu, bila tidak ingin terbebani, belajarlah untuk tidak haus akan validasi eksternal dan rasakan beberapa keuntungan sebagai berikut.
1. Kamu bisa menentukan standarmu sendiri tanpa harus menunggu persetujuan orang lain

Validasi eksternal kerap dijadikan sebagai standar dalam menjalani hidup. Seseorang bisa saja melakukan sesuatu yang konyol hanya karena orang lain mengatakan itu keren. Sebaliknya, giliran ada hal yang penting, malah diabaikan karena orang lain yang dia percaya mengatakan bahwa dia tidak perlu melakukannya. Kalau terus begini, kapan bisa benar-benar bahagia?
Situasi akan berbeda tatkala kamu tidak haus validasi dari orang lain. Hal ini memberikan kesempatan untuk menentukan standarmu sendiri, sehingga kamu bisa mendapatkan sesuatu yang memang sangat dibutuhkan. Hasilnya, perasaan lebih nyaman dan hidup terasa semakin menyenangkan.
2. Gak haus validasi bikin kamu bijak dalam menilai pendapat orang lain

Orang yang menjunjung tinggi validasi eksternal akan menjadikan pendapat orang lain seolah merupakan ucapan suci yang harus diikuti. Ketika sosok yang dipercayai mengatakan sesuatu, dia akan menjalankannya tanpa ragu. Baginya, hidup itu yang penting membuat agar dirinya disenangi orang lain, tidak peduli meski diri sendiri sebenarnya kurang nyaman.
Jika kamu sudah belajar untuk tidak haus validasi eksternal, maka akan punya pandangan yang berbeda. Kamu memang masih tetap mendengarkan perkataan orang lain. Namun, alih-alih menjadikannya sebagai hal yang harus dipatuhi, kamu menilai pendapat itu sebatas masukan belaka yang bisa diikuti atau tidak. Kalau sudah bijaksana begini, kamu tidak punya beban lagi, sehingga dapat menjalani hidup dengan lebih utuh.
3. Tidak semua orang benar-benar memberikan validasi dengan pertimbangan matang

Satu lagi keuntungan besar yang bisa kamu peroleh saat tidak lagi menjadi manusia yang sangat haus validasi eksternal, yaitu berhenti dibodohi. Pasalnya, tidak semua orang yang memberikan penilaian terhadapmu itu benar-benar tahu persis keadaanmu. Bisa jadi, ada lho yang menyampaikan sebuah validasi tanpa pertimbangan matang alias asal bicara saja. Kalau kamu langsung percaya, tentu akan kacau, bukan begitu?
Oleh karena itu, kamu perlu berhenti mencari validasi eksternal untuk memutuskan sesuatu. Mulailah untuk mencari tahu ke dalam diri sendiri apa saja yang benar-benar dibutuhkan, sehingga kamu tidak akan salah dalam mengambil langkah. Bukankah situasi ini akan mendatangkan ketenangan?
Haus akan validasi eksternal hanya akan mendatangkan berbagai kesulitan, terutama kebingungan. Kalau kamu tidak ingin terus begini, berhentilah menjadikan ucapan orang lain sebagai pedoman hidup dan mulailah mendengarkan kata hatimu. Perlahan tetapi pasti, perubahan positif akan muncul dan membuat hidupmu terasa jauh lebih bahagia dari sebelumnya.