Kasus Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima Beasiswa LPDP yang dinilai meremehkan negara melalui video yang sempat diunggah di medsos miliknya, masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat kita. Kasusnya seolah menjadi polemik panjang yang bahkan menyeret beberapa pihak lain selain dirinya sendiri.
Publik masih geram karena sikap jemawa yang ditunjukkan Dwi di ruang digital ketika apa yang telah ia capai merupakan hasil investasi kolektif dari rakyat Indonesia. Dengan kata lain, ia sudah sampai di titik ini gak serta merta karena hasil keringatnya sendiri, melainkan karena adanya andil besar dari pajak masyarakat melalui Beasiswa LPDP.
Di video viral itu, Dwi menegaskan bahwa biar dirinya saja yang menjadi WNI sementara anaknya jangan. Pernyataan itu jelas gak muncul tanpa penyebab. Selain menjadi bagian dari kritik atas pemerintahan yang dirasa gak mampu memenuhi ekspektasi publik, pernyataan itu ada karena pengalaman menyenangkan yang telah dirasakannya ketika tinggal di negara orang, dalam konteks ini berarti Inggris. Pengalaman positif yang didapat di negara orang lantas menimbulkan perbandingan yang kontras dengan realita di tanah air. Alhasil, kehidupan di negara orang tersebut menjadi standar baru yang membuat negara sendiri terlihat “tertinggal” dan dirasa “gak layak”.
