Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bias dalam Buku Biografi, 5 Pola yang Sering Tak Disadari

Bias dalam Buku Biografi, 5 Pola yang Sering Tak Disadari
ilustrasi membaca buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti bahwa biografi tidak sepenuhnya objektif karena melalui proses seleksi cerita yang membentuk sudut pandang tertentu.
  • Dijelaskan lima bentuk bias umum, seperti kecenderungan memperindah masa lalu, menjaga nama baik, hingga pengaruh tren pasar dan batasan sosial.
  • Pemahaman terhadap bias ini membantu pembaca menikmati biografi secara kritis tanpa mengurangi nilai inspiratif dari kisah tokoh yang diangkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Membaca buku biografi selalu memberi pengalaman yang menarik. Kita seolah diajak menyusuri perjalanan hidup seseorang dari titik terendah hingga puncak pencapaiannya. Tidak heran jika genre ini sering dianggap sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi banyak orang.

Namun, biografi bukanlah potret kehidupan yang sepenuhnya netral, karena kisah di dalamnya melalui proses seleksi cerita yang membentuk sudut pandang tertentu. Bias sendiri diartikan sebagai cara menilai sesuatu dari satu sisi saja sehingga informasi yang muncul tidak sepenuhnya objektif. Berikut lima bias yang sering muncul dalam buku biografi yang jarang disadari pembaca.

1. Kecenderungan memperindah masa lalu

Merasa bahagia saat membaca kisah dalam buku
ilustrasi merasa bahagia saat membaca kisah dalam buku (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Banyak orang tidak menyadari bahwa cerita tentang masa lalu sering terdengar lebih indah saat dikenang kembali. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai rosy retrospection, yaitu kecenderungan manusia melihat masa lalu secara lebih positif. Karena itulah, masa-masa sulit sering terasa tidak seberat saat pernah dijalani.

Ingatan manusia tidak seperti rekaman video yang bisa diputar ulang secara persis. Seiring waktu, emosi negatif perlahan melemah dan tidak lagi setajam dulu. Yang biasanya lebih diingat justru pelajaran dan makna dari pengalaman tersebut.

2. Dorongan alami untuk menjaga nama baik

Penulis melakukan wawancara
ilustrasi penulis melakukan wawancara (pexels.com/Edmond Dantès)

Tokoh utama biografi secara manusiawi memiliki keinginan untuk menampilkan sisi terbaik dari perjalanan hidup mereka. Hal tersebut sangat wajar karena setiap orang pasti berharap bisa memberikan teladan yang baik bagi masyarakat. Oleh karena itu, penyusunan cerita biasanya difokuskan pada nilai-nilai hidup yang positif.

Keinginan ini membuat beberapa fase kehidupan dipilih dan ditata dengan sangat bijaksana. Bagian yang dirasa kurang memberikan manfaat bagi publik akan dikemas secara lebih netral oleh penulis. Hasil akhirnya adalah sebuah buku yang rapi dan fokus pada pesan moral utama.

3. Interaksi penulis dan tokoh yang memengaruhi arah cerita

Penulis melakukan wawancara
ilustrasi penulis melakukan wawancara (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Proses penulisan biografi profesional biasanya memerlukan waktu yang panjang untuk mengumpulkan data. Penulis dan tokoh utama melalui rangkaian wawancara mendalam yang berlangsung berbulan-bulan. Interaksi yang terjadi dalam waktu lama ini secara alami membangun kedekatan dan rasa saling menghormati.

Kedekatan tersebut dapat memengaruhi cara cerita disusun dalam naskah. Sudut pandang tokoh sering menjadi acuan utama dalam menjelaskan berbagai peristiwa. Karena itu, pilihan kata dalam biografi umumnya dibuat dengan tetap mempertimbangkan perspektif dan pengalaman tokoh.

4. Pengaruh tren pasar dan kebutuhan penerbit

Memilih buku
ilustrasi memilih buku (pexels.com/cottonbro studio)

Buku biografi pada dasarnya tetap merupakan produk kreatif yang harus mampu menarik perhatian khalayak umum. Agar lebih menarik bagi pembaca, kisah hidup tokoh sering disusun mengikuti selera pasar. Salah satu yang paling sering diangkat adalah perjalanan emosional dari titik terendah menuju kesuksesan.

Demi menjaga alur cerita agar tetap seru dan penuh motivasi, tim redaksi harus menyusun detail kisah dengan sangat rapi. Beberapa momen kehidupan yang dirasa terlalu rumit atau kurang sejalan dengan tema utama biasanya tidak akan terlalu ditonjolkan. Langkah ini diambil agar pembaca bisa menangkap pesan inspiratifnya dengan lebih mudah.

5. Batasan sosial di sekitar tokoh

Penulis melakukan wawancara
ilustrasi penulis melakukan wawancara (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dalam penulisan biografi, sering kali ada pertimbangan terhadap kenyamanan orang-orang di sekitar tokoh. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab moral untuk menjaga privasi keluarga besar, rekan bisnis, hingga lingkungan sosial terdekat. Batasan etika inilah yang membuat sebagian konflik tidak dapat diceritakan terlalu detail.

Peristiwa yang melibatkan orang lain biasanya disampaikan secara garis besar untuk menghormati privasi pihak terkait. Penulis juga kerap menyamarkan detail tertentu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di ranah publik. Transparansi cerita pun perlu disesuaikan agar tidak mengganggu hubungan sosial yang ada.

Mengenali adanya bias dalam buku biografi tidak dimaksudkan untuk mengurangi nilai inspirasi atau keindahan sebuah karya. Hal ini justru membantu kita memahami bahwa setiap tokoh besar tetap manusia biasa dengan keterbatasan dan sisi emosionalnya. Dengan begitu, biografi bisa dinikmati secara lebih utuh sambil tetap menjaga cara pandang yang kritis terhadap cerita yang disampaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More