Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Mindfulness Setiap Orang Berbeda-beda? Ini Penjelasannya!
ilustrasi mindful journaling prompt (pexels.com/Helena Lopes)
  • Riset Frontiers in Psychology menunjukkan respons terhadap latihan mindfulness berbeda pada tiap individu; manfaat satu teknik tidak otomatis sama bagi semua orang.
  • Kepribadian dan regulasi emosi memengaruhi hasil latihan: neurotisisme tinggi dapat terkait perbaikan kesejahteraan lebih besar, sementara kebiasaan menekan emosi membutuhkan adaptasi lebih panjang.
  • Sifat bawaan turut memengaruhi pilihan teknik: non-judgment cenderung memilih open monitoring, empati tinggi memilih loving-kindness, dan teknik favorit dapat memunculkan mindfulness lebih kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konsep mindfulness belakangan ini makin sering dibahas sebagai cara buat mengurangi stres dan lebih hadir di momen saat ini. Tapi, pernah gak sih kamu ngerasa kalau cara orang lain 'melatih' mindfulness itu beda-beda? Beberapa orang mungkin lebih cocok dengan meditasi diam, namun beberapa yang lain justru lebih nyaman lewat aktivitas seperti jalan santai atau melukis.

Ternyata, perbedaan ini bukan cuma soal preferensi semata, tapi juga berkaitan sama gimana tiap individu memproses ketenangan dan fokus secara berbeda-beda. Yuk, cari tahu lebih lanjut kenapa mindfulness bisa terasa berbeda buat setiap orang!

1. Apakah mindfulness orang bisa berbeda-beda?

ilustrasi mindful drinking (pexels.com/Fvno Fotografía)

Merujuk pada riset yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology bertajuk Towards an Individual Differences Perspective in Mindfulness Training Research, mindfulness bisa berbeda-beda tiap individu. Namun, ini bukan hanya soal preferensi semata. Sebagian besar penelitian soal mindfulness training selama ini cenderung menggeneralisasi manfaatnya di level populasi. Seolah semua orang bakal merasakan efek yang sama dari latihan yang sama.

Padahal, variasi individual dalam merespons mindfulness training ternyata belum banyak diteliti secara sistematis. Meski riset di bidang intervensi psikologis lain udah lama menunjukkan bahwa perbedaan individu punya peran besar terhadap seberapa responsif dan efektif suatu intervensi buat masing-masing orang. Artinya, cara satu orang 'berhasil' lewat meditasi diam belum tentu bakal berhasil dengan cara yang sama buat orang lain.

2. Kepribadian dan gaya regulasi emosi ikut berperan

ilustrasi mindful journaling prompt (pexels.com/Polina Zimmerman)

Salah satu alasan kenapa mindfulness bisa terasa beda buat tiap orang adalah karena dimensi kepribadian ikut memengaruhi seberapa besar manfaat yang dirasakan. Menurut Frontiers in Psychology, orang dengan neuroticism yang lebih tinggi misalnya, dalam beberapa studi justru menunjukkan perbaikan yang lebih besar dalam hal kesejahteraan psikologis usai menjalani mindfulness training. Sementara openness to experience berkaitan sama seberapa sering seseorang mempraktikkan mindfulness dalam kesehariannya.

"Dalam studi RCT terbaru terhadap 288 mahasiswa, individu dengan tingkat neurotisme yang lebih tinggi menunjukkan perbaikan yang lebih besar dalam hal kesejahteraan subjektif dan penderitaan psikologis."

Selain kepribadian, gaya regulasi emosi juga berperan penting. Orang yang terbiasa melakukan cognitive reappraisal, yaitu mengubah cara pandang terhadap situasi yang memicu emosi, cenderung lebih mudah beradaptasi dengan prinsip mindfulness yang menekankan penerimaan tanpa menghakimi. Sebaliknya, orang yang terbiasa menekan emosinya (expressive suppression) mungkin butuh proses adaptasi yang lebih panjang karena caranya mengelola emosi selama ini justru berlawanan dengan esensi mindfulness itu sendiri.

3. Preferensi teknik spesifik dipengaruhi sifat bawaan seorang

Ilustrasi mindful walking (pexels.com/Benedict Mulderink)

Gak cuma soal seberapa besar manfaat yang dirasakan, riset lanjutan dari tim peneliti Frontiers in Psychology yang sama juga menemukan bahwa preferensi terhadap teknik mindfulness tertentu ternyata bisa diprediksi lewat sifat bawaan seseorang. Orang dengan kecenderungan non-judgment, yaitu kemampuan buat gak buru-buru menghakimi pengalaman yang muncul di pikiran, lebih sering memilih teknik open monitoring sebagai teknik favoritnya.

Sementara itu, orang dengan tingkat empati yang tinggi justru lebih condong ke teknik loving-kindness, yang berfokus pada perasaan kasih sayang terhadap diri sendiri dan orang lain. Penelitian ini juga menemukan bahwa orang cenderung merasakan state mindfulness yang lebih kuat saat berlatih dengan teknik yang mereka sukai dibanding teknik lain yang bukan favoritnya.

Inilah yang menjelaskan kenapa gak ada satu jenis mindfulness yang cocok buat semua orang. Setiap orang cenderung memiliki cara untuk menerapkan mindfulness sesuai kepribadiannya masing-masing.

Curated For You

Editorial Team

Related Article