Perempuan sering digambarkan dengan kecenderungan tertentu dalam film. Biasanya karena si sutradaranya sendiri kebanyakan pria yang pasti menggunakan bias-bias gender tertentu ketika menciptakan karakter perempuan. Contoh paling nyata, perempuan dalam film sering dipotret sebagai objek seksual belaka, korban kekerasan yang kemudian jadi hantu gentayangan, atau korban kekerasan yang jadi titik balik kehidupan lakon laki-laki.
Intinya, mereka sering digambarkan sebagai pelengkap ketimbang karakter utuh dengan agensi yang jelas serta keresahan yang perlu divalidasi. Penasaran mengapa itu terjadi? Coba baca lima buku yang membahas posisi perempuan dalam film dengan sudut pandang kritis berikut. Buka mata lebar-lebar, yuk!
