Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bacaan yang Diskusikan Posisi Perempuan dalam Film
rekomendasi buku tentang perempuan dalam film (dok. Penguin/Caliban and the Witch | dok. Cantrik Pustaka/Memaksa Ibu Jadi Hantu)
  • Visual Pleasure and Narrative Cinema mengkritik penggambaran perempuan sebagai objek tatapan laki-laki dalam film.

  • Memaksa Ibu Jadi Hantu membahas penggambaran sosok ibu sebagai monster atau hantu dalam film Indonesia.

  • The Monstrous Feminine mengulas perempuan sebagai sumber teror dan bentuk pemberontakan terhadap opresi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perempuan sering digambarkan dengan kecenderungan tertentu dalam film. Biasanya karena si sutradaranya sendiri kebanyakan pria yang pasti menggunakan bias-bias gender tertentu ketika menciptakan karakter perempuan. Contoh paling nyata, perempuan dalam film sering dipotret sebagai objek seksual belaka, korban kekerasan yang kemudian jadi hantu gentayangan, atau korban kekerasan yang jadi titik balik kehidupan lakon laki-laki.

Intinya, mereka sering digambarkan sebagai pelengkap ketimbang karakter utuh dengan agensi yang jelas serta keresahan yang perlu divalidasi. Penasaran mengapa itu terjadi? Coba baca lima buku yang membahas posisi perempuan dalam film dengan sudut pandang kritis berikut. Buka mata lebar-lebar, yuk!

1. Visual Pleasure and Narrative Cinema (Laura Mulvey)

Visual Pleasure and Narrative Cinema tulisan Laura Mulvey (dok. Koenig Books/Visual Pleasure and Narrative Cinema)

Visual Pleasure and Narrative Cinema adalah esai yang dikenal sebagai awal mula pengenalan “male gaze” ke khalayak luas. Ditulis Laura Mulvey pada 1970-an, istilahnya masih diadopsi sampai sekarang sebagai pisau bedah fenomena kultural yang terus terjadi. Mulvey menjelaskan konsep itu sembari membedah beberapa film lawas legendaris, terutama yang dibuat sineas pria seperti Alfred Hitchcock. Kalau kamu sering terganggung dengan penggambaran karakter perempuan dalam film-film bikinan pria, baca esai ini, deh. Dijamin keresahanmu langsung tervalidasi.

2. Memaksa Ibu Jadi Hantu (Annissa Winda Larasati dan Justito Adiprasetio)

Memaksa Ibu Jadi Hantu tulisan Annissa Winda Larasati & Justito Adiprasetio (dok. Cantrik Pustaka/Memaksa Ibu Jadi Hantu)

Memaksa Ibu Jadi Hantu adalah sebuah buku kajian tentang film-film Indonesia yang masih menempatkan perempuan, terutama yang sudah mengemban peran ibu sebagai monster, hantu, atau secara umum villain dalam sinema. Maternal horror, istilah untuk genre film-film tersebut coba dibedah oleh dua penulis dan kamu akan menemukan banyak informasi sekaligus pencerahan baru. Ternyata kecenderungan itu lagi-lagi berakar dari keyakinan patriarki yang menaruh standar tinggi untuk sosok “ibu sempurna” dan menghakimi secara keji ibu-ibu lain yang dianggap tak bisa memenuhi standar tersebut.

3. The Monstrous Feminine (Barbara Creed)

The Monstrous Feminine tulisan Barbara Creed (dok. Routledge/The Monstrous Feminine)

Terbit pada 1993, Barbara Creed menulis buku ini setelah mengamati kemunculan film-film yang menggunakan karakter perempuan sebagai sumber teror. Tak terbatas pada ibu, tetapi juga perempuan-perempuan muda lain dari berbagai latar belakang dan usia. Barbara Creed berargumen kalau fenomena itu adalah manifestasi female rage dan upaya pemberontakan opresi terhadap perempuan. Creed menggunakan teori abjeksi yang diperkenalkan filsuf Julia Kristeva untuk membedah film-film horor berlakon perempuan dalam buku tersebut.

4. The Sinful Maternal: Motherhood in Possession Films (Lauren Rocha)

The Sinful Motherhood tulisan Lauren Rocha (dok. University Press of Mississippi/The Sinful Motherhood)

Masih tentang ibu dalam film horor, Lauren Rocha akan mengajakmu menyelami posisi mereka dalam film-film bertema kerasukan (possesion). Ia berargumen kalau proses kerasukan bisa dilihat sebagai disrupsi dalam peran maternal perempuan, meski tidak semua film yang ia ulik berlakon ibu secara harfiah. Beberapa di antaranya termasuk The Witch (2016) yang lakonnya seorang anak perempuan pertama. Dalam realitasnya, anak perempuan tertua dalam keluarga kerap dipaksa menjalankan peran ibu untuk adik-adiknya.

5. Caliban and the Witch: Women, the Body and Primitive Accumulation (Silvia Federici)

Caliban and the Witch tulisan Silvia Federici (dok. Penguin/Caliban and the Witch)

Meski tak secara langsung membedah posisi perempuan dalam film, buku Caliban and the Witch karya Silvia Federici sering dipakai untuk mengupas berbagai fenomena sosiokultural dan politik ekonomi dari sudut pandang gender. Buku ini membahas transformasi peran perempuan dari sistem feodal ke kapitalisme. Menurutnya, ada proses sistematis yang menginisiasi dan melanggengkan pengekangan peran perempuan, diformalkan lewat pelembagaan serta kebijakan, dan pada akhirnya menguntungkan kapitalis serta patriarki. Salah satunya sejarah perburuan penyihir perempuan yang pada saat itu sebenarnya sempat memperluas akses kesehatan dan memberikan kebebasan lebih bagi perempuan. Khusus untuk film, konsep dan isu yang dibahas Federici bisa dipakai untuk mengupas isu domestikasi peran perempuan yang didemonstrasikan berbagai produk budaya.

Bagaimana? Cukup mencerahkan dan menarik kurasinya? Cocok, nih, buat kamu yang suka film dan isu gender sekaligus. Dipakai untuk menggarap tesis atau skripsi bisa juga!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article