Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Buku Populer Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pembaca?

4 min read
Kenapa Buku Populer Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pembaca?
ilustrasi membaca buku (pexels.com/John Ray Ebora)
  • Buku populer tidak otomatis cocok untuk semua orang karena selera membaca berbeda, mulai dari preferensi alur, gaya bahasa, genre, hingga topik yang dianggap menarik.
  • Ekspektasi tinggi akibat ulasan positif dan viralitas di media sosial dapat memicu kekecewaan ketika pengalaman membaca pribadi tidak sesuai dengan pengalaman pembaca lain.
  • Pengalaman hidup, suasana hati, kebutuhan, dan tujuan membaca saat ini memengaruhi kecocokan buku; pembaca boleh menunda bacaan populer yang belum terasa pas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat banyak orang membicarakan buku yang sama di media sosial terkadang membuat kita ikut penasaran. Apalagi kalau buku tersebut mendapat banyak ulasan positif, masuk daftar best selling, atau disebut sebagai salah satu bacaan terbaik tahun ini. Kita pun berharap bisa merasakan pengalaman serupa ketika mulai membacanya. Akan tetapi, setelah beberapa halaman, ternyata ceritanya terasa membosankan atau gaya bahasanya sulit dinikmati.

Situasi seperti ini sebenarnya cukup wajar. Walau punya daya tarik tersendiri, buku populer tidak selalu cocok untuk semua pembaca. Selera membaca setiap orang berbeda, begitu pula pengalaman hidup, suasana hati, dan alasan mereka memilih sebuah buku. Jadi, kalau kamu tidak menyukai buku yang sedang digemari banyak orang, belum tentu ada yang salah dengan seleramu.

  1. 1. Selera membaca setiap orang memang berbeda

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/nappy)

    Ada orang yang senang membaca novel dengan alur cepat dan konflik yang membuat penasaran. Sebaliknya, ada pula yang lebih menikmati cerita sederhana dengan banyak deskripsi dan perkembangan karakter yang perlahan. Perbedaan ini membuat satu buku bisa terasa sangat menarik bagi seseorang, tetapi justru melelahkan bagi pembaca lainnya.

    Buku yang populer biasanya berhasil menarik perhatian kelompok pembaca tertentu dalam jumlah besar. Namun, keberhasilan tersebut tidak otomatis membuatnya sesuai dengan preferensi semua orang. Sebagai contoh, novel yang dianggap romantis oleh sebagian pembaca, bisa terasa terlalu klise bagi orang yang kurang menyukai cerita cinta.

    Hal yang sama berlaku untuk buku nonfiksi. Buku pengembangan diri yang dianggap membuka wawasan oleh sebagian orang mungkin terasa repetitif bagi pembaca lain. Pada akhirnya, kita tidak harus menyukai semua buku yang mendapatkan banyak pujian.

  2. 2. Ekspektasi tinggi terkadang membuat pengalaman membaca kurang menyenangkan

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Ketika sebuah buku terus muncul di media sosial, kita bisa memiliki ekspektasi yang cukup tinggi sebelum membacanya. Apalagi jika banyak orang menyebut buku tersebut sangat bagus, menguras emosi, atau mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Kita bisa berharap akan merasakan hal yang sama. Padahal, pengalaman membaca tidak selalu bisa diseragamkan. Buku yang membuat orang lain menangis belum tentu menyentuh bagian emosional yang sama dalam diri kita.

    Ekspektasi tinggi juga bisa membuat kita merasa kecewa ketika cerita yang ditawarkan ternyata biasa saja. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa orang lain begitu menyukainya, sementara kita kesulitan menikmati setiap halaman. Padahal, bisa saja buku tersebut memang bagus, tetapi bukan jenis bacaan yang sedang kita butuhkan. 

  3. 3. Pengalaman hidup memengaruhi cara kita memahami buku

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

    Satu buku bisa memberikan kesan yang berbeda ketika dibaca oleh dua orang dengan pengalaman hidup yang berbeda. Sebagai contoh, cerita tentang kehilangan, mungkin terasa sangat dekat bagi seseorang yang pernah mengalaminya. Namun, bagi pembaca lain, kisah tersebut bisa terasa biasa saja karena mereka belum memiliki pengalaman serupa.

    Begitu pula dengan buku yang membahas hubungan keluarga, pekerjaan, atau pencarian jati diri. Ada bagian yang mungkin terasa relevan bagi kita karena sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Sebaliknya, ada pula pembahasan yang sulit dipahami atau terasa kurang menarik karena tidak berhubungan dengan kehidupan kita saat ini.

  4. 4. Buku populer belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita saat ini

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku

    Selain selera dan pengalaman hidup, kondisi diri juga bisa memengaruhi kenyamanan membaca. Saat sedang lelah atau memiliki banyak pikiran, kita mungkin lebih menyukai bacaan ringan yang tidak membutuhkan terlalu banyak konsentrasi. Sebaliknya, ketika sedang ingin belajar sesuatu, buku yang penuh informasi justru terasa menarik.

    Masalahnya, kita terkadang memilih buku hanya karena sedang ramai dibicarakan. Meskipun, kita sebenarnya tidak sedang membutuhkannya. Akibatnya, kita memaksakan diri menyelesaikan bacaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan suasana hati atau tujuan membaca saat itu.

    Tidak ada salahnya mencoba buku populer untuk memperluas wawasan. Namun, kita juga boleh menyimpannya terlebih dahulu jika ternyata belum bisa menikmatinya. Mungkin buku tersebut akan terasa lebih menarik ketika dibaca pada waktu yang berbeda.

    Popularitas sebuah buku memang dapat menjadi alasan untuk membacanya, tetapi bukan jaminan bahwa kita akan menyukainya. Daripada sibuk mempertanyakan mengapa buku populer tidak selalu cocok untuk semua pembaca, mungkin lebih menyenangkan jika kamu mencari tahu jenis bacaan yang benar-benar sesuai dengan selera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More