"Aku posisinya itu bukan ngurusin satu brand. Jadi setiap mereka mau launching pun, mereka harus nanya aku. ‘Koh Leo, aku mau launching begini, bisa gak? Message-nya masuk Indonesia gak?’ Gitu, aku yang ngecek semuanya,” ungkap Leo.
Profil Dickson Leo, Sosok Piawai dalam Tubuh Hebe Beauty Style

Dickson Leo memegang peran lintas brand di HEBE Beauty, termasuk tata kelola PR, pertumbuhan strategis, kolaborasi, dan pengecekan pesan peluncuran.
Pengalaman kariernya berawal dari agensi PR sebelum beralih ke sisi brand dan kembali dipercaya memimpin strategi korporat HEBE Beauty.
Menurut Dickson, kepemimpinan membutuhkan pemahaman terhadap karakter tim, keselarasan visi, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan konsumen tiap negara.
Di balik peluncuran produk yang ramai dibicarakan atau kolaborasi besar dengan kreator dan figur publik, ada orang-orang yang bekerja menjaga arah dan reputasi sebuah perusahaan. Salah satunya Dickson Leo, Director of Corporate PR & Strategic Growth PT HEBE Beauty, perusahaan yang menaungi sejumlah brand kecantikan seperti Y.O.U, Barenbliss, Lavojoy, Dazzle Me, dan Glam Fix.
Leo berangkat dari dunia agensi public relations, lalu berpindah ke brand. Maka, genaplah ia satu dekade di bidang PR, marketing, dan brand management. Dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times pada Sabtu (24/10/2026) di acara Lavojoy 'Care Beyond Yourself' di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, ia berbagi soal peran barunya, caranya memimpin, hingga alasan produk kecantikan harus dilokalisasi di tiap negara. Yuk, simak profil lengkapnya!
1. Profil singkat Dickson Leo

Dickson Leo (Director of Corporate PR & Strategic Growth HEBE BEAUTY Indonesia) di kegiatan CSR lavojoy bertema "Care Beyond Yourself: Where Care Find Its Way" pada Sabtu (24/10/2026) di Ladang Farm Teknologi. Leo menjabat sebagai Director of Corporate PR & Strategic Growth di PT HEBE Beauty sejak Oktober 2026. Dalam profil LinkedIn, ia menuliskan bahwa ia bertanggung jawab mengelola PR dan reputation risk di level grup, kemitraan strategis, talent governance, hingga sinergi antar brand. Ia juga menangani negosiasi komersial berskala besar serta kolaborasi dengan kreator, brand ambassador, mega-KOL, dan livestreaming. Dari sisi pendidikan, ia menempuh bachelor’s degree di bidang Mass Communication/Media Studies pada 2010 sampai 2013.
Dalam wawancara, Leo menjelaskan perannya tidak mengurus satu brand saja. Ia berhubungan langsung dengan seluruh brand di bawah naungan Hebe Beauty Style. Ia pun menjelaskan cara kerjanya sehari-hari.
2. Perjalanan karier Leo

Dickson Leo ketika masih menjabat sebagai Brand Director lavojoy indonesia. (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Perjalanan Leo dimulai di agensi PR. Ia menjadi Senior Consultant pada Maret 2014-Juli 2017, lalu menjabat PR Manager pada Agustus 2017-September 2018. Pada Oktober 2018, ia pindah ke sisi brand sebagai Brand Director di HEBE Beauty Indonesia hingga Januari 2022. Di sana, ia memimpin pertumbuhan dan ekspansi Y.O.U Beauty dan barenbliss di Indonesia, yakni dengan membangun fondasi di brand strategy, commercial acceleration, digital commerce, dan kapabilitas organisasi yang mendukung ekspansi regional di Asia Tenggara.
Sempat mengukir pengalaman di bidang lain, Leo akhirnya kembali ke HEBE Beauty sebagai Brand Director pada Mei 2024. Di periode ini, ia memimpin turnaround dan transformasi lavojoy di Indonesia dengan membangun infrastruktur bisnis dari nol, merumuskan ulang positioning brand, dan menjalankan strategi komersial serta marketing terpadu. Kini, ia kembali bersinggungan dengan Y.O.U dan Barenbliss lewat perannya yang baru.
3. Arti leadership bagi seorang Dickson Leo

Donasi pendidikan lavojoy & HEBE BEAUTY kepada Panti Asuhan Abigail di kegiatan CSR lavojoy bertema "Care Beyond Yourself: Where Care Find Its Way" pada Sabtu (25/10/2026) di Ladang Farm Teknologi. (dok. lavojoy) Bagi Leo, kepemimpinan bukan soal jabatan. Ia menyebut ada tiga hal yang ia pelajari saat dipercaya memimpin tim. Hal pertama adalah mengelola secara psikologis, yaitu memahami karakter dan cara berpikir tiap orang sebelum menyepakati hal yang bisa dijalankan bersama.
"Leadership itu penting. Karena gini, pada saat kita dipercaya sebagai leader, terus kita ketemu sama anak tim-tim kita ini, kita itu belajar tiga hal. Satu adalah mengelola secara psikologis. Orang ini seperti apa, cara berpikirnya gimana. Terus, baru kita menerapkan apa yang memang bisa kita berdua setuju. Jadi, sebenarnya leadership itu bukan karena aku bos, aku memerintah. Justru kita harus mengenal siapa yang kita ajak kerja sama, tim kita itu personality-nya gimana, baru bisa diputar. Kita mau objektifnya apa, baru bisa kena di tengah-tengah. Jadi, pada dasarnya leadership itu harus bisa mengerti satu sama lain dan ujung-ujungnya berporos sama tujuan kita mau seperti apa," kata Leo.
Leo menambahkan, leadership itu harus memahami juga siapa yang kita ajak kerja sama dan personality tim sendiri. Pada dasarnya, leadership itu harus bisa mengerti satu sama lain. Karena pada akhirnya, semuanya akan berproses bersama-sama. Hal kedua adalah memahami tujuan brand atau bisnisnya. Yang ketiga, menurutnya yang paling penting adalah visi. Setelah visi dan rencana eksekusi selaras, barulah ia membuka diskusi ke tim sehingga komunikasi berjalan dua arah.
"Yang kedua, itu baru yang objektif si brand atau bisnisnya. Itu dia seperti apa cara dia bekerja, terus gimana cara kita dapetin targetnya kita. Nanti baru dari sana, karena kita sudah dapat alignment-nya, kita buka ke tim. ‘Kira-kira dengan visi yang seperti ini, planning eksekusi yang seperti ini, apa yang bisa kalian kontribusikan?’ Jadi sebenarnya harus dua arah. Jadi, tiga poin itu sih yang paling penting," tuturnya.
4. Cara memimpin tim lintas negara

Dickson Leo ketika menjabat sebagai Brand Director lavojoy indonesia. (IDN Times/Febriyanti Revitasari) Menurut Leo, manajemen tempatnya bekerja sangat diverse dan berhubungan dengan beberapa negara besar di Asia, khususnya di Asia Tenggara. Dalam perannya, ia berbicara langsung dengan jajaran manajemen eksekutif seperti CEO dan direktur di masing-masing negara, sehingga kesalahpahaman bisa muncul kapan saja. Karena itu, ia punya cara sendiri untuk menyiasatinya.
"Yang biasa aku lakukan itu, kita bicaranya dari sisi high-level-nya. Jadi, kita bicara dari sisi high-level-nya ini di level seperti ini, baru kita turun ke bawahnya. Make sure pada saat kita diskusi itu, semuanya harus bisa tercapai dalam waktu satu jam," ujar Leo.
Pendekatan itu juga berlaku saat satu negara ingin mengadaptasi ide dari negara lain. Misalnya, Malaysia yang ingin mengadopsi ide dari Indonesia. Leo akan langsung membahas potensi dan manajemen risikonya, sementara eksekusi dan operasional ia percayakan kepada PIC (Person in Charge atau penanggung jawab) di bawahnya.
"Indonesia melakukan seperti ini, terus dari Malaysia misalkan mau mengadaptasi ide dari Indonesia, aku langsung direct ngomong soal potensinya. Potensi dan risk management-nya. Kalau dilakukan seperti ini, itu dia akan ada pro-kontradiktifnya seperti ini. Jadi kalian harus tahu ya, kalau mau lakuin ini risikonya seperti ini dan cara kalian untuk nutupinnya bagaimana. Kita gak akan bicara soal eksekusi, kita gak akan bicara soal operasional. Operasional kita percayakan ke PIC di bawahnya karena mereka sudah tahu cara menanganinya. Kita hanya perlu kasih direction yang jelas," imbuh dia.
5. Lokalisasi produk jadi kunci utama

Peluncuran Let It Glow Daily Shine Body Serum Instant Tone Up Lavojoy pada Selasa (11/3/2024) di Shangri-La Hotel, Jakarta (IDN Times/Nisa Zarawaki) Leo menegaskan bahwa produk kecantikan tidak bisa disamakan di semua negara. Ia mencontohkan lavojoy, brand asal Australia yang inovasinya menekankan produk natural, cocok untuk semua jenis kulit, dan mild tapi efeknya tetap terasa. Kini lavojoy hadir di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina dengan hero product yang berbeda di tiap negara. Formulasinya pun diuji dengan panelis lokal. Di Indonesia, formulasinya diperlukan yang cocok untuk semua jenis kulit. Di Malaysia, masalah utamanya kulit kering dan kusam. Di Filipina, konsumen lebih membicarakan sisi natural, vegan, atau minim bahan kimia, sedangkan Thailand mirip Indonesia dengan iklim yang lebih panas.
"Jadi, akhirnya kita sesuaikan supaya hasilnya pun itu bisa kekontrol, tapi bisa diterima sama masing-masing market. Jadi, sebenarnya agak tricky, tapi bagusnya itu adalah kita mendengarkan customer," ungkap Leo.
Aroma produk juga ikut disesuaikan. Menurut Leo, aroma produk di Australia lebih fresh dengan intensitas rendah, Filipina berada di tengah, sedangkan Indonesia dan Thailand membutuhkan aroma yang lebih kuat karena iklim panas dan aktivitasnya. Meski begitu, aromanya tidak boleh terlalu tajam karena bisa memicu ketombe dan sensitivitas kulit. Prinsip yang sama berlaku pada sunscreen Y.O.U. SPF 50 yang banyak dipakai di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, sedangkan konsumen di Manila lebih memilih SPF 35 karena cuacanya tidak seterik itu dan tekstur yang lebih tebal kurang cocok.
"Consumer behavior harus diperhatikan. Jadi, gak bisa sembarangan bikin produk. Y.O.U juga sama, dia kayak bikin sunscreen. Ternyata, sunscreen yang kita lempar ke masing-masing negara itu gak semuanya harus SPF 50. Kalau SPF 50 model kayak Thailand, Indonesia, Malaysia itu kepakai. Tapi kalau di Manila, mereka prefer ke 35 karena gak seterik itu," lanjut Leo.
Leo telah mengarungi perjalanan karier yang cukup panjang sebelum berlabuh bersama Hebe Beauty Style. Nilai yang ia pegang pun tentu menjadi salah satu fondasi dari tumbuh kembang Hebe Beauty Indonesia.























