Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Gaji Tinggi Tak Lagi Menjamin Stabilitas Keuangan Perempuan

8 min read
5 Alasan Gaji Tinggi Tak Lagi Menjamin Stabilitas Keuangan Perempuan
ilustrasi karyawan bekerja dengan laptop, pekerja kantoran, suasana kerja, serius bekerja, senior (magnific.com/magnific)
  • Kenaikan biaya hidup, termasuk hunian, kebutuhan harian, dan pengasuhan anak, dapat melampaui pertumbuhan gaji sehingga ruang menabung serta dana darurat perempuan menyempit.
  • Kesenjangan upah membuat perempuan berpotensi memiliki sisa pendapatan lebih kecil untuk investasi dan pensiun, sementara beban domestik menambah pengeluaran, waktu, serta energi.
  • Gaji besar tidak otomatis memberi kesejahteraan jika disertai tekanan kerja dan pengorbanan tinggi; stabilitas juga bergantung pada aset, dana darurat, keseimbangan hidup, dan kesiapan jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memiliki gaji tinggi sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah mencapai kesuksesan finansial. Dengan penghasilan besar, kamu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, berinvestasi, bahkan membeli rumah tanpa harus terlalu khawatir soal uang.

Namun kenyataannya gak selalu demikian, terutama bagi perempuan yang juga memiliki tanggung jawab keluarga dan pekerjaan rumah tangga. Meski penghasilan terus meningkat dan karier berkembang, perasaan tidak aman secara finansial masih bisa muncul. Kondisi ini menunjukkan bahwa gaji tinggi saja gak cukup untuk menjamin kehidupan yang stabil dan sejahtera.

Fenomena tersebut terlihat di Amerika Serikat, ketika banyak perempuan menghadapi tekanan finansial meskipun memiliki pendidikan dan karier yang baik. Kenaikan biaya hidup, kesenjangan upah, hingga beban pekerjaan domestik membuat penghasilan terasa kurang sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

Situasi ini juga relevan bagi perempuan Indonesia yang harus membagi penghasilan untuk kebutuhan pribadi, keluarga, dan persiapan masa depan. Lantas, mengapa gaji tinggi tak lagi menjamin stabilitas keuangan perempuan? Berikut lima alasan yang perlu kamu pahami.

  1. 1. Biaya hidup meningkat lebih cepat daripada penghasilan

    ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional di Indonesia
    ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional di Indonesia (unsplash.com/Devi Puspita Amartha Yahya)

    Salah satu alasan gaji tinggi gak selalu menjamin stabilitas keuangan adalah kenaikan biaya hidup yang sulit diimbangi pertumbuhan penghasilan. Kamu mungkin mendapatkan kenaikan gaji setiap tahun, tapi pengeluaran untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kebutuhan keluarga juga terus bertambah. Akibatnya, tambahan penghasilan tersebut gak selalu membuat kondisi keuangan terasa lebih longgar. Bahkan, kamu bisa merasa kesulitan menyisihkan uang meskipun nominal gaji sudah jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

    Gambaran ini terlihat dari data Amerika Serikat yang dibahas melalui publikasi U.S. Census Bureau. Pendapatan rumah tangga median di negara tersebut berada di kisaran US$74.000 per tahun atau sekitar Rp1,34 miliar, dengan asumsi kurs Rp18.060 per dolar AS. Sementara itu, kebutuhan pendapatan untuk hidup layak bagi keluarga beranggotakan empat orang dapat melampaui US$100.000 per tahun atau sekitar Rp1,81 miliar di banyak wilayah metropolitan. Data dari American Progress juga menyoroti beratnya biaya pengasuhan anak, yang dapat mencapai US$10.000–US$15.000 per anak setiap tahun atau sekitar Rp180,6 juta–Rp270,9 juta.

    Bagi perempuan yang memiliki tanggung jawab pengasuhan, situasi ini terasa semakin berat karena sebagian pengeluaran sulit dihindari. Kamu tetap perlu membayar kebutuhan pokok, transportasi untuk bekerja, dan biaya pengasuhan anak jika memilikinya. Ketika harga kebutuhan meningkat lebih cepat daripada gaji, ruang untuk menabung dan membangun dana darurat pun semakin terbatas. Jadi, stabilitas keuangan gak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tapi juga oleh seberapa jauh penghasilan tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup.

  2. 2. Kesenjangan upah membuat ruang finansial perempuan lebih sempit

    ilustrasi suasana kerja, kantor
    ilustrasi suasana kerja, kantor (pexels.com/coworkingspace Replus)

    Perbedaan upah antara perempuan dan laki-laki juga menjadi faktor yang memengaruhi stabilitas keuangan. Dalam banyak kasus, perempuan bisa memiliki pendidikan tinggi, pengalaman kerja panjang, dan tanggung jawab profesional yang besar, tapi penghasilannya masih lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kondisi ini membuat perempuan memiliki ruang finansial yang lebih terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mempersiapkan masa depan. Dampaknya juga terasa ketika mereka harus menghadapi pengeluaran mendadak atau perubahan kondisi ekonomi.

    Data USAFacts mengenai kesenjangan upah di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perempuan memperoleh sekitar 82 sen untuk setiap US$1 yang diperoleh laki-laki. Jika seorang laki-laki mendapatkan penghasilan US$1.000 atau sekitar Rp18,06 juta, perempuan rata-rata memperoleh sekitar US$820 atau Rp14,81 juta dalam perbandingan tersebut. Kesenjangan ini bahkan lebih besar bagi kelompok perempuan tertentu. National Women's Law Center juga pernah membahas kesenjangan upah yang dihadapi perempuan Latina di Amerika Serikat, yang memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan dalam dunia kerja gak selalu sama.

    Meski angka tersebut gak bisa langsung diterapkan pada kondisi perempuan Indonesia, gambaran ini menunjukkan bagaimana perbedaan upah dapat memengaruhi kemampuan seseorang membangun keamanan finansial. Ketika penghasilan lebih rendah, kamu mungkin harus mengalokasikan persentase gaji yang lebih besar untuk kebutuhan pokok. Akibatnya, uang yang tersisa untuk menabung, berinvestasi, atau mempersiapkan pensiun menjadi lebih sedikit. Dalam jangka panjang, perbedaan pendapatan yang terjadi secara konsisten bisa memengaruhi akumulasi aset dan ketahanan finansial.

  3. 3. Beban pekerjaan domestik menguras waktu dan energi

    ilustrasi cuci piring di wastafel
    ilustrasi cuci piring di wastafel (pexels.com/cottonbro studio)

    Gaji tinggi memang bisa meningkatkan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup, tapi pendapatan gak otomatis mengurangi beban pekerjaan di luar kantor. Banyak perempuan masih harus mengurus pekerjaan domestik, mulai dari menyiapkan kebutuhan rumah, mengatur jadwal keluarga, hingga memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Tanggung jawab tersebut sering kali tetap dijalankan meskipun mereka juga bekerja penuh waktu dan mengejar perkembangan karier. Akibatnya, waktu untuk beristirahat, mengembangkan diri, atau merencanakan keuangan pribadi menjadi semakin terbatas.

    Sosiolog, Arlie Hochschild, memperkenalkan konsep second shift untuk menggambarkan pekerjaan rumah tangga yang masih harus dilakukan seseorang setelah menyelesaikan pekerjaan berbayar. Gagasan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian perempuan merasa menghadapi dua beban sekaligus, yaitu tanggung jawab profesional dan tanggung jawab domestik.

    Beban tersebut juga bisa mencakup pekerjaan emosional, seperti menjaga hubungan keluarga, mengingat kebutuhan orang lain, dan menjadi tempat bercerita ketika anggota keluarga menghadapi masalah. Meski pekerjaan semacam ini gak selalu menghasilkan uang, waktu dan energi yang dibutuhkan tetap nyata.

    Dampaknya terhadap stabilitas keuangan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Kamu mungkin perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli makanan siap saji, menggunakan jasa kebersihan, atau membayar pengasuhan anak karena gak memiliki cukup waktu untuk mengurus semuanya sendiri. Di sisi lain, kelelahan yang terus menumpuk juga bisa mengurangi kesempatan untuk mengambil pekerjaan tambahan atau mengikuti pelatihan yang berpotensi meningkatkan penghasilan. Dengan demikian, beban domestik yang tidak terbagi secara adil dapat memengaruhi kondisi keuangan sekaligus kualitas hidup perempuan.

  4. 4. Gaji besar belum tentu sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan

    Ilustrasi Gaji UMR
    Ilustrasi Gaji UMR (Pexels.com/Defrino Maasy)

    Ketika membicarakan kesuksesan finansial, perhatian sering kali hanya tertuju pada nominal penghasilan. Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting, yaitu seberapa besar pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Kamu mungkin memiliki gaji tinggi, tapi harus bekerja lembur hampir setiap hari, sulit mengambil cuti, dan jarang memiliki waktu untuk beristirahat. Dalam kondisi seperti ini, pendapatan yang besar belum tentu membuat kehidupan terasa lebih sejahtera.

    Konsep emotional return on investment menggambarkan cara menilai apakah hasil yang diperoleh sebanding dengan energi, waktu, dan kondisi emosional yang dikorbankan. Cara pandang ini mengajakmu melihat kesuksesan dari sudut yang lebih luas daripada sekadar pendapatan bulanan. Misalnya, pekerjaan dengan gaji besar mungkin memberikan kemampuan untuk membayar berbagai kebutuhan, tapi tekanan kerja yang terus-menerus bisa mengurangi waktu bersama keluarga dan kesempatan menikmati kehidupan pribadi. Jika pengorbanan tersebut berlangsung dalam waktu lama, kamu bisa merasa lelah meskipun secara finansial tidak sedang mengalami kesulitan.

    Ekonom, Heather Boushey, yang banyak membahas kebijakan ekonomi dan kesejahteraan keluarga pekerja, menekankan pentingnya dukungan terhadap kebutuhan pengasuhan dan pertumbuhan upah dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga. Perspektif ini menunjukkan bahwa tekanan finansial gak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengatur pengeluaran pribadi. Kamu juga perlu mempertimbangkan apakah pekerjaan yang dijalani memberikan keseimbangan yang masuk akal antara penghasilan dan kualitas hidup. Dengan begitu, keberhasilan finansial bukan hanya diukur dari uang yang masuk ke rekening, tapi juga dari kemampuan menikmati hasil kerja tanpa terus-menerus mengorbankan kesejahteraan diri.

  5. 5. Terjebak dalam kondisi cukup secara finansial, tapi gak benar-benar sejahtera

    ilustrasi hitung uang, gaji, budgeting
    ilustrasi hitung uang, gaji, budgeting (magnific.com/magnific)

    Alasan terakhir adalah kondisi ketika seseorang merasa cukup aman secara finansial untuk terus menjalani kehidupan sehari-hari, tapi belum merasa benar-benar sejahtera. Kamu mungkin masih bisa membayar tagihan, memenuhi kebutuhan pokok, dan mempertahankan pekerjaan, sehingga dari luar kehidupan terlihat baik-baik saja. Namun, tabungan sulit bertambah, dana darurat belum memadai, dan pengeluaran tak terduga bisa langsung mengganggu rencana keuangan. Keadaan ini dapat membuatmu terus merasa khawatir meskipun tidak sedang mengalami kesulitan ekonomi yang ekstrem.

    Situasi tersebut sering disebut sebagai comfort trap, yaitu kondisi ketika seseorang gak merasa cukup kesulitan untuk meninggalkan situasinya, tapi juga tidak cukup sejahtera untuk merasa puas. Dalam konteks pekerjaan, kamu mungkin bertahan karena gajinya dibutuhkan, sementara tekanan yang dirasakan membuat kehidupan pribadi semakin terkuras.

    Meninggalkan pekerjaan terasa berisiko karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi, tapi terus bertahan juga membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit. Akhirnya, kamu hanya berusaha mempertahankan keadaan tanpa memiliki banyak ruang untuk memperbaiki kualitas hidup.

    Untuk mengurangi risiko terjebak dalam kondisi ini, kamu perlu membangun ukuran stabilitas keuangan yang lebih realistis. Selain memastikan kebutuhan bulanan terpenuhi, perhatikan juga kecukupan dana darurat, kemampuan menghadapi kehilangan penghasilan, dan kesiapan menghadapi kebutuhan jangka panjang. Kamu bisa mengevaluasi pengeluaran rutin, mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan jika memungkinkan, serta menetapkan batas pengorbanan yang masih bisa diterima.

    Langkah-langkah tersebut memang gak langsung menghilangkan tekanan ekonomi, tapi dapat membantumu memiliki kendali yang lebih baik atas kondisi keuangan dan kehidupan pribadi. Gaji tinggi memang bisa memberikan lebih banyak pilihan dalam kehidupan, tapi nominal penghasilan saja gak cukup untuk menjamin stabilitas keuangan perempuan. Kenaikan biaya hidup, kesenjangan upah, beban pekerjaan domestik, tekanan profesional, dan keterbatasan ruang untuk membangun aset dapat membuat pendapatan besar terasa kurang berarti.

    Karena itu, kamu perlu melihat kondisi finansial secara menyeluruh, termasuk kemampuan memenuhi kebutuhan, mempersiapkan masa depan, dan menjaga kesejahteraan diri. Pada akhirnya, kesuksesan finansial bukan sekadar tentang seberapa besar gaji yang diterima, melainkan seberapa aman, seimbang, dan berkelanjutan kehidupan yang bisa kamu bangun dari penghasilan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More