Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Buku Karya Orang Barat yang Wajib Dibaca WNI, Jangan Ditunda!
Rekomendasi buku karangan penulis Barat untuk WNI (dok. Marjin Kiri/Politik Jatah Preman | dok. Vintage/The Power of the Powerless)
  • Menteri HAM Natalius Pigai viral setelah mendorong WNI membaca karya penulis Barat yang dinilainya lebih objektif, tanpa menyebut judul buku tertentu.
  • Artikel merekomendasikan lima buku Barat: Politik Jatah Preman, Why Nations Fail, Max Havelaar, The Power of the Powerless, dan The Jakarta Method.
  • Kelima buku dibahas sebagai bahan memahami relasi elite dan ormas, ekstraksi ekonomi, kolonialisme, kepatuhan pada rezim, serta kekerasan politik Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, dalam sebuah sesi wawancara singkat yang kemudian viral, merekomendasikan orang Indonesia untuk membaca buku. Terutama karangan orang Barat yang menurutnya lebih objektif. Sebuah argumen menarik yang sayangnya tidak dibarengi dengan penyebutan beberapa judul buku yang dimaksud.

Namun, ini juga bisa kita lihat sebagai bentuk kebebasan bagi sesama pembaca untuk saling merekomendasikan buku karangan penulis Barat yang kiranya penting dibaca WNI. Kalau boleh berbagi, berikut beberapa buku yang bisa masuk rekomendasi. Apakah benar lebih objektif?

1. Politik Jatah Preman (Ian Douglas Wilson)

Politik Jatah Preman karya Ian Douglas Wilson (dok. Marjin Kiri/Politik Jatah Preman)

Politik Jatah Preman adalah riset akademik Ian Douglas Wilson tentang tata kelola rezim di Indonesia yang ternyata berkorelasi erat dengan keberadaan organisasi masyarakat (ormas). Bukan organisasi biasa, mereka punya relasi kompleks dengan rezim dan kelompok elite untuk menciptakan “ketertiban” dan “keamanan” sesuai dengan definisi mereka. Contoh-contoh kasus di buku ini amat familier dengan pengalaman WNI, bedanya kamu dapat landasan konseptual yang bisa menjelaskan bagaimana dan mengapa itu terjadi serta dinormalisasi.

2. Why Nations Fail (Daron Acemoglu, James A. Robinson)

Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson (dok. Penguin Random House/Why Nations Fail)

Penasaran mengapa setelah 80 tahun merdeka, Indonesia tak mengalami kemajuan berarti? Buku karangan orang Barat berjudul Why Nations Fail bisa jadi jawabannya. Dalam buku tersebut Acemoglu dan Robinson membongkar praktik-praktik kapitalisme ekstraktif yang gencar dilakukan sejak era kolonial dan dipertahankan sampai sekarang di berbagai negara eks-jajahan. Blokade terhadap inovasi dan kreativitas juga dilakukan untuk menjamin keberlangsungan ekstraksi sumber daya yang kendalinya sudah dipegang kaum elite tersebut. Buku yang tepat untuk mendalami fenomena oligarki di Indonesia walaupun studi kasusnya mencakup berbagai region.

3. Max Havelaar (Multatuli)

Max Havelaar karya Multatuli (dok. Mizan/Max Havelaar)

Sering disebut di buku pelajaran sejarah, tetapi tak pernah dianjurkan untuk dibaca pelajar Indonesia adalah deskripsi tepat buat novel Max Havelaar. Terbit dua abad lalu, novel ini ternyata tak kehilangan relevansinya. Lewat cerita satirnya, kamu akan dibawa menuju Indonesia era kolonial Belanda yang ternyata tak jauh beda dengan kondisi negara ini sekarang. Korupsi yang dinormalisasi sampai fakta bahwa rakyat diperas lewat pajak untuk membiayai pengeluaran pejabat juga disenggol di sini. Antara kocak dan getir saking akuratnya.

4. The Power of the Powerless (Vaclav Havel)

The Power of the Powerless karya Vaclav Havel (dok. Vintage Classics/The Power of the Powerless)

Dikembangkan dari sebuah esai, The Power of the Powerless sebenarnya memakai studi kasus Eropa Tengah dan Timur ketika masih berada di bawah pengaruh Soviet. Vaclav Havel yang berstatus pembangkang oleh rezim Ceko pada masa itu berargumen bahwa sebuah rezim bisa langgeng bukan hanya karena faktor dukungan aparat lewat teror dan hukuman belaka. Menurutnya, ada andil rakyat yang mau dibohongi atau bungkam ketika melihat kebohongan dan propaganda sesat di dalamnya. Kepatuhan komunal adalah salah satu kunci rezim bisa mempertahankan dominasinya atas masyarakat yang sudah pasif dan taat. Coba cocokkan dengan yang terjadi di negaramu sendiri, bukankah tidak asing rasanya?

5. The Jakarta Method (Vincent Bevins)

The Jakarta Method karya Vincent Bevins (dok. Hachette/The Jakarta Method)

Buku karangan orang Barat yang wajib dibaca WNI lainnya adalah The Jakarta Method. Viral beberapa tahun belakangan, buku ini adalah hasil investigasi jurnalis Amerika Serikat, Vincent Bevins tentang fenomena pembunuhan massal di berbagai negara selama Perang Dingin. Ia membeberkan beberapa fakta tentang keterlibatan Amerika Serikat di dalamnya, termasuk dalam pembunuhan massal yang beriringan dengan pemberantasan kelompok sayap kiri (komunis) di Indonesia pada 1960-an. Sebagai orang Barat, Bevins mengakui bahwa ia punya privilese untuk mengakses informasi penting untuk mendukung proses penulisan buku ini. Termasuk akses wawancara kepada para penyintas peristiwa 1965 yang terkucil di negeri sendiri atau jadi eksil di negeri seberang.

Tidak ada yang salah dengan membaca buku karangan orang Barat. Objektivitasnya perlu diapresiasi. Ini juga bisa jadi bagian ikhtiarmu untuk melihat negeri sendiri dari kacamata orang yang bukan bagian dari kita. Studi kasus yang beragam pun bisa melatihmu melakukan perbandingan dengan lebih seksama dan gak gegabah merasa paling benar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article