Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Buku Klasik Prancis Beraliran Kiri yang Bikin Anak Muda Kritis
rekomendasi buku klasik Prancis beraliran kiri (dok. Gramedia Pustaka Utama/Germinal | dok. Penguin/Nausea)
  • Madame Bovary mengkritik gaya hidup materialistis masyarakat borjuis.

  • The Second Sex membahas ketidakadilan gender dalam masyarakat patriarki.

  • Germinal menggambarkan perjuangan pekerja tambang melawan kemiskinan dan ketidakadilan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kaget melihat anak SMA Prancis bisa mengutarakan pendapat dan alasan protesnya dengan terstruktur dan elegan? Tentu ini bukan hasil didikan orangtua seorang, ada sistem yang mendukung seperti akses pendidikan serta pengetahuan yang berkualitas dan merata. Ada dialektika ideologi yang jelas dan disertakan dalam kurikulum, ada kesadaran kelas, dan tentunya lingkungan yang mendorong mereka berpikir kritis dan menjamin pendapat mereka didengar.

Salah satu pendukung itu bisa kamu lihat dari bacaan wajib mereka di sekolah dan kampus, deh. Nah, itu pasti tak jauh-jauh dari sastra dan filsafat klasik yang isinya masih relevan sampai sekarang, seperti lima buku klasik beraliran kiri berikut. Coba, deh, kenalkan ke diri sendiri dan mungkin keturunanmu suatu saat nanti.

1. Madame Bovary (Gustave Flaubert)

Madame Bovary karya Gustave Flaubert (dok. Penguin/Madame Bovary)

Madame Bovary adalah contoh menarik dari literatur klasik Prancis. Novel ini tak pernah diklaim si penulis sebagai sebuah kritik terhadap kapitalisme. Namun, secara tersirat isinya sarat dengan kritik dan sindiran terhadap kemampanan materialistik semu yang dinikmati kaum borjois Prancis. Madame Bovary, lakon buku ini adalah seorang perempuan yang mengira pernikahannya dengan seorang dokter akan mengubah hidupnya. Nyatanya ia justru merasa terkekang dalam kebosanan akut. Bovary kemudian memutuskan untuk mencari petualangan baru di luar rumah dan suaminya. Tentunya dengan harapan, ia akan dapat kepuasan batin dan materi. Namun, akhir tragis justru menantinya.

2. Nausea (Jean-Paul Sartre)

Nausea karya Jean Paul Sartre (dok. Penguin/Nausea)

Nausea adalah sebuah novel filsafat berlakonkan Antoine Roquentin, seorang penulis dan sejarawan yang baru tiba di sebuah kota pelabuhan fiktif bernama Bouville. Ia sedang mengejar deadline sebuah proyek biografi, tetapi justru terhambat isu kesehatan yang ia sendiri susah menjelaskan. Gejalanya mirip mabuk laut, tetapi ia sendiri tak begitu memahami reaksi tubuhnya. Buku ini, meski tak secara gamblang menjelaskan penyebab dan penyakit Roquentin, dipercaya pembaca sebagai sebuah kritik dan rasa jijik, kecewa, dan marah Roquentin setelah ia mengunjungi salah satu wilayah jajahan Prancis di Afrika.

3. The Second Sex (Simone de Beauvoir)

The Second Sex karya Simone De Beauvoir (dok. Penguin/The Second Sex)

Terbit pada 1940-an dan menandai gerakan feminisme gelombang kedua, The Second Sex adalah hasil pengamatan Simone de Beauvoir terhadap isu gender. Ia mencoba menelaah posisi perempuan dalam masyarakat patriarki dan menjabarkan banyak hal berkenaan dengan itu melalui logika yang menarik. Ia juga menyorot perbedaan antara gender dan jenis kelamin yang bikin pembaca melek. Bukunya sudah rilis beberapa dekade lalu, tetapi poin-poinnya masih relevan bahkan apa yang diperjuangkan kelompok feminis gelombang dua pun belum benar-benar tercapai sampai sekarang.

4. Under Fire (Henri Barbusse)

Under Fire karya Henri Barbusse (dok. Penguin/Under Fire)

Under Fire adalah sastra klasik Prancis yang dirilis setelah Perang Dunia I. Menggunakan pengalaman pribadinya selama berpartisipasi dalam perang brutal itu, Henri Barbusse melontarkan poin-poin antiperang yang valid. Ia berargumen kalau perang tak punya signifikansi yang jelas, serta mencerabut manusia dari kemanusiaannya. Ia berpendapat manusia tidak seharusnya didorong untuk memburu dan melenyapkan satu sama lain. Gak hanya itu, Barbusse juga menyelipkan isu kelas dan ras dalam buku tersebut, merujuk pada ilusi supremasi kulit putih dan bagaimana negara secara sadar menumbalkan penduduk dari kelas tertentu seolah mereka lebih tak berharga.

5. Germinal (Emile Zola)

Germinal karya Emile Zola (dok. Gramedia Pustaka Utama/Germinal)

Germinal adalah salah satu novel klasik Prancis paling fenomenal yang pernah diterbitkan. Beraliran kiri, Emile Zola akan mengajakmu menyelami keseharian para pekerja tambang batu bara yang berat dan tak ideal. Mereka mengalami gangguan kesehatan, hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan tak bisa mengakses kebutuhan dengan layak. Lakon novel epik ini adalah Etienne, anak pecandu alkohol yang terjebak dalam kemiskinan struktural dan akhirnya jadi pekerja tambang. Satu hari, karena muak dan lelah, sekelompok pekerja memutuskan untuk berserikat menuntut hak dan kondisi kerja yang lebih manusiawi. Jelas perjuangan mereka tidak instan dan mudah. Kesulitan lain menghantui dan menggerogoti jiwa raga para pekerja.

Gak heran kalau anak muda Prancis kritis. Bacaan-bacaan progresif tidak disembunyikan apalagi dilarang, justru didorong publikasi dan perluasan aksesnya. Ini bisa ditiru, tetapi butuh komitmen dari otoritas mengingat akses pengetahuan dan pendidikan itu sistemik. Betul begitu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article