Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bahaya Pemimpin yang Terlalu Percaya pada Laporan Anak Buah, Dikibuli!

4 min read
Bahaya Pemimpin yang Terlalu Percaya pada Laporan Anak Buah, Dikibuli!
ilustrasi menerima laporan (pexels.com/Gustavo Fring)

Pemimpin sehebat apa pun tentu tidak bisa bekerja sendirian. Makin besar organisasi yang dipimpinnya makin ia memerlukan anak buah untuk menjalankan berbagai tugas. Anak buah memiliki tanggung jawab buat melaporkan segala hal yang menjadi tugasnya pada pimpinan.

Dari laporan-laporan inilah seorang pemimpin dapat merencanakan dan membuat berbagai keputusan. Maka kunci kesuksesan pemimpin salah satunya ada di laporan anak buah. Kalau laporannya tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya, itu justru membahayakan organisasi karena akibatnya pasti panjang.

Pemimpin juga tidak boleh 100 persen memercayai laporan orang yang paling diandalkannya sekalipun. Kepercayaan tersebut harus dibatasi supaya pimpinan lebih berhati-hati. Sesekali ia tetap kudu turun langsung melakukan berbagai pengecekan. Apabila pemimpin menelan mentah-mentah setiap laporan dapat menimbulkan bahaya seperti di bawah ini.

  1. 1. Gak sadar dibohongi anak buah

    memperhatikan laporan anak buah
    ilustrasi memperhatikan laporan anak buah (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Kepercayaan yang terlalu besar ditujukan pada orang lain justru membuka celah kecurangan. Orang yang merasa begitu dipercayai oleh atasannya dapat berubah dari penuh syukur menjadi manipulatif. Bentuk manipulasinya ialah dengan sengaja memberikan laporan yang sesuai dengan harapannya saja.

    Kalau dia tak mau dimarahi atasan, maka laporan dibuat sebagus mungkin. Sekalipun realitas di lapangan amat lain. Inilah pentingnya seorang pemimpin tetap bersikap waspada.

    Tak peduli telah berapa lama seseorang menjadi anak buahnya, sisakan rasa kurang percaya. Pimpinan juga perlu selalu menekankan pentingnya laporan sesuai kondisi asli. Bukan laporan yang dibuat-buat hanya untuk menggembirakannya sembari pelapor menghindari sanksi atau tugas ekstra apabila ada sesuatu yang tidak beres.

  2. 2. Segala kebijakan menjadi tidak relevan

    situasi kantor
    ilustrasi situasi kantor (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Laporan dari anak buah menjadi dasar untuk seorang pemimpin membuat berbagai kebijakan. Bila laporannya tidak akurat apalagi sengaja diselewengkan artinya kebijakan yang diambil juga akan sangat melenceng. Kebijakan tersebut bukannya menjawab persoalan justru menambahinya.

    Misal, orang kepercayaan melaporkan bahwa seluruh karyawan merasa puas dengan gaji yang diperoleh. Konon mereka menilai pendapatan seimbang dengan beban kerjanya. Atasan menjadi merasa tak perlu menaikkan gaji atau kasih bonus.

    Faktanya, mungkin cuma orang kepercayaan itu yang puas dengan penghasilannya. Sebagai orang terdekat pimpinan tentu gaji dan fasilitasnya beda dari anak buah di level yang lebih rendah. Padahal, mereka merasa gaji gak cukup buat memenuhi kebutuhan hidup serta beban kerja terlalu berat.

  3. 3. Tingginya ketidakpuasan atas kepemimpinannya

    menerima berbagai laporan
    ilustasi menerima berbagai laporan (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Konsekuensi ini merupakan kelanjutan dari kebijakan pimpinan yang jauh dari harapan mayoritas orang yang dipimpinnya. Mereka bahkan bisa bukan sekadar tak puas, melainkan sudah di titik marah dan muak. Walaupun pemimpin menempati posisi tertinggi, seharusnya dia membuat kebijakan yang memfasilitasi orang-orang di bawah kepemimpinannya.

    Masih dengan contoh hampir semua karyawannya merasa sengsara karena gaji minim, sedangkan beban kerja luar biasa. Seharusnya kebijakan baru yang diambil seperti menaikkan pendapatan atau mengurangi beban kerja. Namun, pimpinan yang selama ini dijejali laporan palsu malah menambah beban kerja atau melakukan efisiensi anggaran.

  4. 4. Pemimpin dicap tak peduli, padahal memang tidak tahu

    rapat
    ilustrasi rapat (pexels.com/Thirdman)

    Citra pemimpin juga akan hancur apabila ia terus mendengarkan laporan yang jauh dari kebenaran. Saat segala kebijakannya tidak pas dengan situasi di lapangan, otomatis berbagai cap buruk dilekatkan padanya. Ia dianggap sebagai pemimpin yang tone deaf, diduga kuat hanya hendak memuluskan kepentingan pribadi, dan sebagainya.

    Apakah semua tuduhan itu benar? Belum tentu. Boleh jadi pimpinan aslinya sangat memedulikan orang-orang yang dipimpinnya. Namun, laporan yang selalu menyesatkan membuatnya tak tahu kondisi mereka yang sebenarnya.

    Bila rasa tak puas makin tinggi, pasti situasi dalam suatu organisasi sudah tak kondusif. Apa yang dikatakan atau diinstruksikan pimpinan dilawan oleh orang-orang yang tidak puas. Pembangkangan terus terjadi serta menghambat berbagai tugas penting.

  5. 5. Pemimpin disetir bahkan ditumbangkan oleh orang kepercayaannya sendiri

    menerima berbagai laporan
    ilustrasi menerima berbagai laporan (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Pemimpin yang terlalu percaya pada anak buahnya kadang lupa bahwa justru orang terdekat yang paling mungkin mengkhianatinya. Dia berlebihan mewaspadai pihak-pihak yang getol mengkritik. Seolah-olah setiap kritik dimaksudkan buat menggoyang kekuasaannya.

    Padahal, kritik adalah bahasa lain kepedulian. Jika kritik dijadikan bahan untuk seorang pemimpin berbenah pasti kepemimpinannya akan berjalan lebih baik lagi. Tingkat kepuasan orang terhadapnya juga meningkat.

    Sebaliknya, anak buah yang selama ini menyodorkan laporan-laporan tak sesuai fakta boleh jadi punya maksud yang lebih besar dari sekadar menyenangkan hati pemimpin. Itu juga bukan cuma usahanya menghindari kemarahan atasan bila ada hal-hal yang tak beres. Namun, dengan pimpinan mengambil kebijakan yang keliru lalu banyak orang tidak puas dapat terjadi penggulingan kekuasaan.

    Anak buah pasti gak akan nyaman kalau terus dicurigai oleh atasannya sendiri. Akan tetapi, pemimpin tetap tidak boleh 100 persen memercayai laporan tanpa pernah melakukan pengecekan baik secara langsung di lapangan maupun melalui berbagai pihak. Jangan selalu berpegang pada tangan kanan alias orang kepercayaan. Orang yang dipercaya belum tentu mampu menjaga kepercayaan itu untuk selamanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More