Rekomendasi buku di bawah ini tidak hanya ditulis oleh penulis non-berbahasa Inggris, tetapi juga memuat topik yang dekat dengan kehidupan perempuan. Buku-buku tersebut dapat menjadi langkah awal bagi pembaca yang ingin mengeksplorasi tulisan dari penulis perempuan dari berbagai belahan dunia.
5 Rekomendasi Buku untuk Rayakan Women In Translation, Coba Baca!

- Women In Translation setiap Agustus mengapresiasi penulis perempuan nonbahasa Inggris dan membuka akses pembaca pada isu serta cerita lintas negara melalui terjemahan.
- Rekomendasi mencakup Entrok, Kitchen, The Vegetarian, dan The Days of Abandonment, yang mengangkat pengalaman perempuan tentang sejarah, duka, tubuh, konflik keluarga, hingga perceraian.
- Blood Feast karya Malika Moustadraf menyajikan cerita perempuan berlatar beragam, termasuk kekerasan dan tekanan patriarki, dengan gaya penulisan yang provokatif.
Bulan Women In Translation selalu dirayakan setiap Agustus untuk mengapresiasi penulis perempuan yang bukunya ditulis dalam bahasa selain bahasa Inggris. Sebab, buku adalah salah satu medium untuk menyampaikan sebuah isu. Sayangnya, tidak semua buku tidak dapat menjangkau pembaca lebih luas karena keterbatasan bahasa.
1. Entrok Karya Okky Madasari, Nurhayat Indriyanto (Penerjemah)

Buku ‘Entrok’/’The Years of the Voiceless’ untuk bulan Women In Translation (goodreads.com) Bagi penikmat genre buku fiksi sejarah, nama Okky Madasari tidak asing lagi. Banyak buku yang ditulisnya menjamah dunia perempuan dalam sejarah Indonesia. Salah satunya adalah Entrok, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Years of the Voiceless.
Entrok menceritakan Marni, perempuan Jawa yang masih memegang erat kepercayaan adat leluhur. Berlatar belakang pada era Orde Baru, Marni tumbuh dalam kehidupan yang serba terbatas karena dia adalah seorang perempuan. Setelah sukses membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja dan menghasilkan uang, dia menikah dengan seorang laki-laki bernama Teja.
Dari pernikahan tersebut, Marni memiliki seorang anak perempuan yang diberi nama Rahayu. Berbeda seperti sang ibu yang tidak berpendidikan, Rahayu tumbuh sebagai perempuan dengan pendidikan. Pola pikirnya pun terbentuk secara progresif, sehingga terjadi perubahan dalam hubungan antara Marni dan Rahayu.
2. Kitchen Karya Banana Yoshimoto, Megan Backus (Penerjemah)

Buku ‘Kitchen’ untuk bulan Women In Translation (www.goodreads.com) Banyak hal dapat terjadi di dapur. Memasak, mencuci piring, menyantap sarapan, dan lain-lain. Dapur pun bisa menjadi umpan untuk kembali mengingat momen bersama orang terkasih. Misalnya, buku Kitchen karya Banana Yoshimoto memberikan cerita berbeda dari berbagai keluarga. Kumpulan cerita ini menyoroti perasaan-perasaan duka setelah orang-orang yang mereka kasihi meninggalkan dapur tersebut.
Cerita pertama merupakan duka Mikage setelah kehilangan sang nenek yang telah merawatnya sejak dia menjadi yatim piatu. Setelah itu, dia “diadopsi” oleh keluarga temannya, Yoichi, dalam cerita kedua dari buku Kitchen. Yoichi, yang tinggal bersama sang ibu (dulunya laki-laki) juga merasakan duka atas kematian ibu kandungnya. Demi mengembalikan peran sang ibu, ayah Yoichi bertransisi menjadi perempuan.
Tidak seperti kedua cerita pertama yang saling bersambung, Yoshimoto menambahkan cerita novellanya, Moonlight Shadow, sebagai penutup Kitchen. Cerita ini juga menyoroti karakter yang berduka setelah kehilangan orang yang dicintainya.
3. The Vegetarian Karya Han Kang, Debora Smith (Penerjemah)

Buku ‘The Vegetarian’ untuk bulan Women In Translation (www.goodreads.com) Mimpi paling menyeramkan apa yang pernah kamu alami ketika kamu tidur? Kalau Young-hye, dalam buku The Vegetarian karya Han Kang, melihat hal-hal brutal dalam mimpinya. Mimpi penuh darah dan brutal itu memengaruhi cara pandangnya tentang daging. Tidak hanya itu, Young-hye juga mulai mengubah gaya hidupnya hingga mengundang reaksi berbeda dari keluarganya.
Han Kang menguak tentang anatomi tubuh perempuan lewat cerita Young-hye yang mengklaim dirinya sebagai vegetarian pasca mimpi tersebut. Tentunya keputusan ini mengundang banyak reaksi berbeda. Pak Cheong, suaminya, cemas dengan perubahan Young-hye. Sebab, dia tidak hanya mengganti semua daging menjadi sayur-sayuran, tetapi mengubah gaya berpakaiannya yang tidak lazim bagi sang suami.
Reaksi-reaksi lainnya datang dari anggota keluarga lain. Mulai dari sang ayah yang memaksa Young-hye makan daging, kakak ipar yang terobsesi dengan tubuhnya, hingga saudaranya, In-hye dengan caranya dalam menghadapi kekacauan keluarga.
4. The Days of Abandonment Karya Elena Ferrante, Ann Goldsten (Penerjemah)

Buku ‘The Days of Abandonment’ untuk bulan Women In Translation (www.goodreads.com) Pernahkah kamu mengalami perubahan drastis dalam hidup yang selama ini tidak kamu sangka? Contohnya seperti Olga, seorang ibu rumah tangga berusia 30-an yang diceraikan sang suami setelah 15 tahun menikah. Tidak hanya meninggalkan Olga, suaminya, Mario, juga meninggalkan dua anak demi perempuan lain.
Retaknya rumah tangga mereka pastinya meninggalkan luka mendalam bagi Olga. Dia yang semula tidak bekerja sama sekali untuk fokus mengurus keluarga, kini harus mencari jalan keluar. Dia tidak hanya harus menghidupi dirinya serta kedua anaknya, tetapi juga mengurus rumah dan anjing peliharaan mereka.
Buku The Days of Abandonment karya Elena Ferrante ini menyoroti perkembangan kehidupan Olga pasca bercerai. Mulai dari bagaimana dirinya kembali menata keluarga kecilnya sebagai ibu tunggal, hingga kembali mempertimbangkan orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan Olga dan anak-anaknya.
5. Blood Feast Karya Malika Moustadraf, Alice Guthrie (Penerjemah)

Buku ‘Blood Feast’ untuk bulan Women In Translation (www.goodreads.com) Sebuah buku dapat mengisahkan rangkaian cerita yang selama ini dilewatkan banyak pembaca. Blood Feast karya Malika Moustadraf mungkin adalah salah satunya. Penulis asal Moroko ini menyatukan berbagai cerita pendek yang fokus pada kehidupan perempuan di bawah payung patriarki.
Blood Feast tidak hanya mengekspos cerita tentang satu perempuan. Buku ini juga menyoroti perempuan-perempuan dengan latar belakang berbeda. Mulai dari dua orang ibu yang membujuk anak perempuan mereka melakukan tes keperawanan, seorang perempuan dengan pengalaman tidak enak di transportasi umum, hingga seorang remaja perempuan dengan kehidupan bagai dunia distopia.
Malika Moustadraf, lewat Blood Feast, menyajikan cerita vulgar tentang kekerasan terhadap perempuan yang disetir oleh sistem patriarki. Ditulis dengan gaya yang provokatif, Blood Feast meninggalkan kesan dan emosi yang campur aduk.
Itulah rekomendasi buku untuk merayakan bulan Women In Translation dari penulis perempuan di berbagai belahan dunia. Hadirnya bulan ini tidak sekadar mengapresiasi mereka yang tidak menulis dalam bahasa Inggris, namun juga mengingatkan kita bahwa ada banyak cerita di luar sana yang selama ini mungkin kita lewatkan. Selamat membaca!




















