"Jika kamu mengalami iritabilitas kronis yang ringan, terlepas dari lingkunganmu, itu mungkin cara sistem sarafmu memberi sinyal kelelahan sebelum terjadi kolaps," kata psikolog Mark Travers, dikutip Psychology Today.
4 Cara Burnout Mengubah Perilakumu, Waspadai!

Kamu sering berada di bawah tekanan, baik dalam pekerjaan maupun di kehidupan sehari-hari. Kamu merasa stres, tidak dapat berfungsi dengan optimal, bahkan menganggap kamu kurang seperti dirimu sendiri. Jika kamu tengah menghadapinya, bisa jadi kamu sedang mengalami burnout.
Burnout yang tidak diatasi dengan benar ternyata juga mampu mengubah perilakumu. Tanpa disadari, lama-kelamaan kamu justru merasa perilaku negatif ini adalah bagian dari kepribadianmu. Tentu saja hal ini bisa menjadi masalah, ya.
Lantas, untuk memahaminya kamu perlu tahu bagaimana cara burnout mengubah perilakumu. Simak ulasan berikut agar kamu mengerti, ya.
1. Burnout membuat toleransi amarahmu jadi rendah

Ketika kamu kelelahan secara emosional, maka kamu biasanya akan mudah tersinggung. Sedikit rasa tidak nyaman akan jadi sangat menjengkelkan. Bahkan interaksi normal terkadang juga bisa membuatmu frustasi.
Dilansir Psychology Today, sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan di Brain Connectivity menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat mengurangi fungsi korteks prefrontal, suatu bagian di otak yang bertanggung jawab untuk pengendalian emosi. Hal ini menyebabkan seseorang akan memberikan respons yang lebih reaktif karena merasa selalu terancam.
Ketika kamu sudah mulai mengalami kelelahan, otakmu memang membuatmu mudah marah. Hal tersebut menjadi alarm bahwa tubuhmu harus lebih rileks. Sayangnya banyak orang yang berpikir bahwa ini hanyalah bagian dari diri mereka sekarang, kemudian mengabaikan alarm minta tolong tersebut.
2. Burnout membuatmu mati rasa

Selain membuatmu mudah marah, burnout juga bisa membuatmu mati rasa. Kamu sulit merasakan bahagia atas sesuatu yang biasanya menyenangkanmu. Disisi lain kamu juga mungkin merasa tidak terusik atas sesuatu yang sedih atau butuh empati.
Dilansir Psychology Today, ketika seseorang kerap merasa tertekan, otak dapat mengurangi respons emosional sebagai strategi pertahanan diri. Dengan mengurangi respons emosi, otak merasa lebih hemat energi.
Namun hal ini dapat membahayakan jika kamu mengartikan kondisi kelelahan mental ini sebagai tanda ketahanan atau kedewasaan. Burnout yang kamu alami akan semakin membuatmu terpuruk dan susah merasakan emosi, termasuk bahagia.
"Ketika seseorang berkata, ia sudah tidak merasa bersemangat lagi tentang banyak hal, hilangnya kekayaan emosi itu seringkali merupakan tanda kelelahan emosional yang berkepanjangan, bukan perubahan nilai atau kepribadian," Travers menambahkan.
3. Burnout menghambat rasa ingin tahu dan kreativitas

Burnout bisa membuatmu mudah marah serta sulit merasakan emosi. Selain itu, burnout ternyata juga bisa menghambat rasa ingin tahumu serta mengurangi kreativitas.
Menurut Travers, rasa ingin tahu merupakan memewahan psikologis, karena dorongan tersebut membutuhkan kapasitas kognitif, keamanan emosional, dan sistem saraf yang tidak beroperasi dalam survival mode. Ketika stres berkepanjangan memaksa otak untuk terus ada dalam survival mode, maka fokus perhatian seseorang akan menjadi sempit, serta penghematan energi akan mengurangi rasa melit.
Eksplorasi hal-hal baru akan terasa melelahkan dan membutuhkan energi ekstra. Kamu juga mungkin kehilangan minat untuk membaca buku demi kesenangan, mengajukan pertanyaan mendalam tentang suatu hal, atau belajar hal baru yang dirasa tidak terlalu dibutuhkan.
4. Burnout membuatmu menarik diri

Selain konsep diri, burnout juga bisa mempengaruhi hubungan sosialmu. Rasa kelelahan akan membuatmu malas untuk bersosialisasi. Hal itu terjadi lantaran kamu gak punya cukup energi untuk berbincang dengan orang lain.
Proses menarik diri ini terkadang bisa membuat seseorang terisolasi secara sosial. Jika hal itu terjadi, kamu bisa lebih sulit mengatasi burnout-mu.
Sayangnya burnout yang gak teratasi akan berbuntut panjang. Jika mode bertahan ini berlangsung dalam waktu lama, seseorang bisa menganggapnya sebagai identitas diri atau kepribadiannya.
"Seiring waktu, pola-pola ini bisa terasa seperti ciri kepribadian. Kamu mungkin menyebut dirimu cemas atau penyendiri, atau bangga menjadi produktif dan dapat diandalkan sementara merasa kelelahan," kata Stacey R Pinatelli Psy.D., psikolog klinis dan penulis buku "Hope and Healing for Survivors", dikutip Psychology Today.
Burnout gak bisa dianggap sepele, apalagi jika tidak membaik dalam waktu yang cukup lama. Kamu harus menemukan kembali motivasimu, lewat istirahat yang cukup serta lebih menyayangi dirimu. Cari bantuan ahli ketika kamu sudah sulit menghadapinya sendiri, ya.


















