Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Ini Cara Komunitas Kreatif Berkembang
Sesi Panel Session: Collective, by Design pada acara The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, Jumat (23/10/2026), di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Youtube/Official WCCE Channel - Inclusively Creative)
  • Panel WCCE 2026 membahas pentingnya ruang berkarya, kolaborasi, dan kebebasan bereksplorasi untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.

  • Indonesia Design District menyediakan Town Hall sebagai ruang setara bagi pelaku kreatif berbagai skala untuk memamerkan karya, bertemu jaringan baru, serta mendapat masukan.

  • Panelis menekankan komunitas tumbuh alami melalui fasilitas yang mendukung, kebebasan berinteraksi, serta konsistensi nilai bersama agar bertahan dan berkembang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komunitas kreatif membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang dengan minat yang sama untuk bisa berkembang. Ruang untuk berkarya, kesempatan berkolaborasi, dan kebebasan untuk mengeksplorasi ide juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kreatif berkelanjutan.

Hal tersebut turut dibahas dalam sesi Panel Session: Collective, by Design pada acara The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, Jumat (23/10/2026), di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta. Dalam sesi tersebut, beberapa panelis membagikan pandangan mereka tentang bagaimana ruang dan kolaborasi dapat membantu komunitas kreatif tumbuh, mengembangkan karya, hingga menciptakan peluang baru.

1. Komunitas kreatif butuh ruang untuk menunjukkan karyanya

Ipeng Widjojo, CEO Indonesia Design District, menyebutkan Indonesia Design District (IDD) juga menyediakan ruang publik agar orang-orang bisa bertemu dan menciptakan gagasan baru (Youtube/Official WCCE Channel - Inclusively Creative)

Punya ide menarik dan kemampuan yang mumpuni belum tentu cukup untuk membuat seseorang berkembang di industri kreatif. Para desainer, seniman, dan pelaku kreatif juga perlu sebuah ruang untuk memperkenalkan karya mereka, bertemu orang-orang baru, serta memperoleh kesempatan berkolaborasi.

Ipeng Widjojo, CEO Indonesia Design District, menyebutkan Indonesia Design District (IDD) tidak hanya berfokus pada pusat ritel, tetapi juga menyediakan ruang publik agar orang-orang bisa bertemu dan menciptakan gagasan baru. Salah satunya melalui Town Hall, ruang bersama yang memungkinkan pelaku kreatif dari berbagai skala usaha menampilkan karya mereka.

“Town Hall ini pada dasarnya adalah ruang bersama di mana setiap orang berdiri di tingkat yang sama, tanpa memandang tempat atau skala atau ukuran bisnis mereka. Jadi, di Town Hall tersebut, orang-orang dapat mengadakan pameran atau platform. Itu adalah panggung bagi mereka untuk menampilkan platform mereka,” tutur Ipeng.

Menurut Ipeng, kesempatan seperti ini dapat membantu pelaku kreatif yang masih berkembang untuk mendapatkan perhatian dan masukan. Sebab, karya yang bagus pun membutuhkan panggung agar bisa dikenal lebih luas.

2. Kolaborasi tumbuh ketika kita mau memberi ruang bagi orang lain

Lev Kroll, CEO of Nuanu Creative City menilai, peran pengelola ruang kreatif juga untuk menemukan komunitas yang sudah berkembang dan menyediakan fasilitas (Youtube/Official WCCE Channel - Inclusively Creative)

Membangun komunitas tidak berarti mengatur setiap kegiatan atau menentukan seluruh hasil yang ingin dicapai. Terkadang, ekosistem justru dapat berkembang ketika orang-orang di dalamnya diberi kebebasan untuk mencoba hal baru, bertemu dengan pihak lain, dan menemukan peluang kolaborasi secara alami.

Lev Kroll, CEO of Nuanu Creative City, menilai peran pengelola ruang kreatif bukanlah menciptakan semua komunitas dari awal, melainkan menemukan komunitas yang sudah berkembang dan menyediakan fasilitas agar mereka bisa melangkah lebih jauh.

“Saya pikir komunitas berkembang secara alami dari bawah (organically start). Mereka lahir dari internet, kedai kopi, dan lain-lain. Tugas kami adalah menyediakan tempat di mana mereka dapat bersinar, berkembang, atau melakukan hal baru berikutnya. Saya pikir, pertumbuhan komunitas bukanlah sesuatu yang bisa kami kendalikan,” jelas Lev.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kolaborasi tidak selalu bisa direncanakan secara kaku. Ketika orang-orang dengan keahlian dan gagasan berbeda bertemu, peluang baru bisa muncul dari interaksi yang sebelumnya tidak terpikirkan.

3. Komunitas yang kuat dibangun dari nilai yang konsisten

Ipeng Widjojo, CEO Indonesia Design District menjelaskan komunitas yang kuat dibangun dari nilai yang konsisten (Youtube/Official WCCE Channel - Inclusively Creative)

Banyak orang berkumpul karena memiliki ketertarikan yang sama. Namun, menjaga komunitas agar bisa tetap bertahan dan berkembang perlu sesuatu yang lebih mendasar, yakni nilai yang dipegang bersama. Ipeng menjelaskan bahwa komunitas tidak terbentuk dalam semalam. Perjalanannya dimulai dari individu, kemudian berkembang menjadi kelompok, sebelum akhirnya membangun identitas bersama yang lebih kuat.

“Consistency in value (konsistensi nilai). Jadi, komunitas sebenarnya dibangun mulai dari satu individu, lalu menjadi kita (beberapa orang), lalu kelompok, dan kemudian menjadi komunitas. Jika semuanya konsisten sejak awal, dari situlah komunitas terbentuk, tidak peduli apakah situasi sedang baik atau sedang sulit,” ungkap Ipeng pada sesi tersebut.

Gagasan ini mengingatkan bahwa komunitas bukan hanya soal seberapa banyak orang yang terlibat atau seberapa besar acara yang diselenggarakan. Kesamaan nilai dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama turut menentukan apakah sebuah komunitas bisa bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Ekosistem kreatif yang kuat bukan hanya  menyediakan tempat yang estetik atau mempertemukan orang-orang berbakat. Ada ruang untuk bereksperimen, kesempatan untuk menunjukkan karya, dan nilai bersama yang membuat orang ingin terus terlibat. Sebuah ide yang hebat mungkin bisa lahir sendirian, tetapi untuk berkembang lebih jauh, terkadang kita memang membutuhkan peran orang lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article