ilustrasi belanja (pexels.com/Tim Douglas)
Salah satu cara FOMO bekerja adalah membuat seseorang merasa kesempatan membeli hanya tersedia sekarang. Kalimat seperti “tinggal satu”, “limited edition”, “flash sale berakhir 10 menit lagi”, atau “semua orang sudah punya” dapat membuat keputusan terasa harus dilakukan secepat mungkin.
Padahal, rasa terburu-buru tersebut belum tentu berasal dari kebutuhanmu, melainkan dari cara produk dipasarkan. Penelitian yang diterbitkan di Information & Management menemukan bahwa promosi dengan jumlah terbatas maupun waktu terbatas dapat meningkatkan perceived arousal atau gairah emosional konsumen, yang kemudian mendorong pembelian impulsif.
"Dengan mengacu pada model competitive arousal dan model kelangkaan, makalah ini mengembangkan model penelitian untuk menunjukkan pengaruh kelangkaan berbasis kuantitas terbatas (limited-quantity scarcity atau LQS) dan kelangkaan berbasis waktu terbatas (limited-time scarcity atau LTS) terhadap pembelian impulsif melalui mekanisme mediasi berupa gairah yang dirasakan (perceived arousal). Kami melakukan eksperimen lapangan yang melibatkan 182 partisipan untuk menguji model penelitian kami. Hasil penelitian memberikan bukti kuat bahwa baik LQS maupun LTS meningkatkan gairah yang dirasakan konsumen, yang kemudian mendorong terjadinya pembelian impulsif," demikian laporan studi How does scarcity promotion lead to impulse purchase in the online market? A field experiment ScienceDirect.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kesan 'kelangkaan' dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan pembelian impulsif. Psikolog Susan Albers, PsyD, dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa perilaku belanja berlebihan juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi emosional.
“Kebiasaan belanja kompulsif sangat berkaitan erat dengan emosi dan kesehatan mental. Hal ini sering kali menjadi cara untuk mengatasi stres, kecemasan, dan depresi. Berbelanja adalah salah satu cara kita mengisi kekosongan emosional, melarikan diri dari emosi negatif, serta mendapatkan dorongan rasa senang sesaat dalam hidup kita," jelasnya.
Oleh karena itu, ketika melihat barang viral, jangan hanya bertanya “bagaimana kalau aku kehabisan?”, tetapi juga “kalau barang ini tidak sedang viral, apakah aku tetap menginginkannya?” Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar yang bekerja adalah FOMO, bukan kebutuhan.
"Perbedaan antara belanja kompulsif dan pembelian yang sehat terletak pada niat serta konsekuensinya. Dalam belanja yang sehat, kita membeli barang yang kita butuhkan dengan cara yang tenang dan terencana. Sebaliknya, belanja kompulsif dilakukan dengan rasa urgensi. Ada pemicu emosional yang mendasarinya, dan hal ini sering kali berujung pada tekanan emosional atau masalah keuangan," tambah Susan.