Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Cara Mencegah Compassion Fatigue akibat Sering Lihat Berita Duka
ilustrasi merasa sedih melihat berita duka di media sosial (pexels.com/Ivan S)
  • Paparan berulang pada berita duka dapat memicu compassion fatigue, yakni kelelahan emosional yang berisiko mengikis kepedulian hingga menyebabkan apatis atau burnout.
  • Batasi doomscrolling dengan jadwal akses berita dan gunakan grounding 5-4-3-2-1 saat kewalahan untuk menenangkan respons stres serta mengembalikan fokus ke kondisi sekitar.
  • Salurkan empati melalui bantuan sesuai kapasitas, seperti donasi atau informasi terpercaya, sekaligus terapkan batas emosional dengan beristirahat dan mute konten berat sementara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akhir-akhir ini linimasa penuh dengan berita duka atau musibah yang bikin dada rasanya sesak. Melihat penderitaan orang lain di layar HP memang bisa bikin perasaan campur aduk antara sedih, kasihan, dan cemas. Kalau rasa ini terus menumpuk tiap hari, kamu wajib tahu cara mencegah compassion fatigue, fenomena kelelahan emosional akibat terlalu sering terpapar penderitaan sesama.

1. Atasi doomscrolling dengan mengonsumsi informasi secara terukur

ilustrasi hidupkan dan matifikan notifikasi gawai (pexels.com/cottonbro studio)

Keinginan untuk terus-menerus membaca berita buruk demi memperbarui informasi sering kali terjebak dalam perilaku doomscrolling. Kebiasaan ini memaksa otak menyerap beban trauma orang lain secara berlebihan tanpa memberi jeda bagi sistem saraf untuk beristirahat. Nah, agar bisa menghentikan siklus ini, kamu dapat menetapkan batas waktu harian dalam mengakses aplikasi berita atau media sosial. 

Cobalah buat aturan tegas pada diri sendiri, misalnya dengan tidak membuka berita duka sebelum pukul 9 pagi atau sejam sebelum tidur malam. Kalau perlu, manfaatkan fitur screen time limiter di HP biar tidak terdistraksi buat terus-menerus mengecek kabar menyedihkan. Ingat, membatasi durasi baca berita bukan berarti tega atau tidak peduli, tapi itu cara cerdas menjaga kewarasan.

2. Praktekkan emotional grounding saat merasa kewalahan

ilustrasi tarik napas dalam-dalam (pexels.com/Alena Darmel)

Saat emosi mulai terasa penuh akibat mendengar cerita tragis, tubuh biasanya akan menunjukkan respons stres seperti napas memburu atau dada sesak. Metode grounding berfungsi untuk menarik pikiranmu kembali kepada momen saat ini dan mengurai penumpukan emosi negatif. Teknik paling sederhana adalah menerapkan metode 5-4-3-2-1 dengan mengamati lingkungan sekitar secara sadar.

Jadi, kamu sebutkan 5 benda yang bisa kamu lihat, 4 hal yang bisa kamu sentuh, 3 suara yang didengar, 2 aroma yang tercium, dan 1 rasa di lidah. Latihan sensori ini ampuh meredakan kepanikan emosional seketika karena menyadari bahwa dirimu sedang berada di tempat yang aman. Jadi, sebelum emosimu meluap tidak karuan, ambil napas dalam-dalam dan sapu pandangan ke sekeliling dulu.

3. Salurkan kepedulian lewat aksi nyata yang terukur

ilustrasi membantu orang yang membutuhkan (pexels.com/RDNE Stock project)

Perasaan tidak berdaya (helplessness) sering muncul saat kamu hanya menjadi penonton dari kepedihan orang lain di linimasa. Mengubah rasa empati pasif menjadi aksi nyata bisa membantu mengembalikan kontrol serta kepuasan batin. Kamu tidak harus melakukan aksi yang mengubah dunia dalam semalam untuk bisa bermanfaat.

Bantu sesama sesuai kapasitasmu, seperti berdonasi seikhlasnya, membagikan informasi penggalangan dana yang terpercaya, atau sekadar mendoakan. Membantu secara aktif dan terukur jauh lebih menyehatkan bagi jiwa dibanding hanya meratap di kolom komentar. Dengan bertindak, empati kamu tersalurkan ke wadah yang tepat tanpa menguras habis energi emosionalmu.

4. Berlakukan emotional boundary demi menjaga kapasitas diri

ilustrasi emotional boundaries (magnific.com/Magnific)

Sama seperti baterai HP, kapasitas emosi manusia juga memiliki batas maksimum yang tidak bisa dipaksa terus terisi. Menerapkan emotional boundary artinya sadar kapan harus peduli dan kapan harus mundur sejenak untuk memulihkan diri. Mengakui bahwa kamu sedang lelah emosional termasuk bentuk kejujuran kepada diri sendiri yang sangat menyehatkan.

Jangan merasa bersalah jika harus mute akun-akun berita berat untuk sementara waktu demi kedamaian batin. Mengistirahatkan pikiran bukan tanda kamu egois atau tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali. Dengan wadah emosi yang tenang dan prima, kamu justru bisa memberikan empati yang lebih berkualitas untuk orang-orang di sekitarmu.

Menjaga kesehatan mentalmu merupakan prioritas utama agar kamu bisa terus membagikan kebaikan secara berkelanjutan. Terapkan cara mencegah comparison fatigue di atas agar kamu tetap peduli kepada sesama tanpa harus kehilangan kedamaian dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article