Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Cara Positif 'Melarikan Diri' dari Tuntutan Menikah

3 Cara Positif 'Melarikan Diri' dari Tuntutan Menikah
ilustrasi fokus bekerja (pexels.com/RODNAE Productions)
Intinya Sih
  • Banyak orang dewasa menghadapi tekanan menikah, namun memilih mengalihkan fokus pada hal positif agar tidak larut dalam stres dan kegalauan.
  • Salah satu cara yang dilakukan adalah memaksimalkan karier atau melanjutkan studi sebagai bentuk pengembangan diri sambil menunggu jodoh datang.
  • Mereka juga menyibukkan diri dengan kegiatan produktif seperti berbisnis, menekuni hobi, atau membuat konten untuk tetap mandiri dan bahagia sebelum membangun keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada banyak hal baru yang hampir semua orang akan jalani begitu sudah masuk fase usia dewasa. Hidup yang tadinya terasa cukup santai dan menyenangkan, kini sering kali menjadi menegangkan akibat menanggung berbagai tanggung jawab, mulai dari tuntutan untuk bekerja, membantu orangtua yang usianya mulai senja, dan yang tidak kalah menantang yaitu menikah. Nah, khusus untuk urusan pernikahan, biasanya banyak orang berpikir dua kali karena ini menyangkut komitmen seumur hidup.

Sebagaimana yang telah diketahui, tuntutan menikah ini cukup tinggi, terutama bila memang sudah memasuki usia yang pantas untuk menjalaninya. Namun demikian, terlepas dari umur yang semakin tua, terkadang memang jodoh belum kunjung terlihat batang hidungnya meski sudah diupayakan dengan sungguh-sungguh. Nah, tidak mau ambil pusing dan larut dalam kegalauan, banyak orang akhirnya mencoba "melarikan diri" dari tuntutan tersebut, setidaknya untuk sementara waktu, melalui beberapa cara positif berikut!

1. Fokus membangun karier hingga maksimal

ilustrasi seorang laki-laki yang sedang fokus bekerja
ilustrasi seorang laki-laki yang sedang fokus bekerja (pexels.com/olia danilevich)

Sebenarnya, banyak orang merasa dirinya ingin dan siap menikah, bahkan tanpa harus diminta terlebih dahulu. Sayangnya, calon yang ditunggu-tunggu belum juga ada. Kalau pun ada, terkadang akhirnya tidak berjodoh, sehingga mau tidak mau harus kembali menjalani kehidupan sebagai seorang lajang seperti sedia kala. Nah, dari pada malah bersedih memikirkan situasi ini dan ditambah dengan tuntutan dari orangtua untuk segera berumah tangga, banyak orang akhirnya mengalihkan fokus dan energinya pada pekerjaan.

Kalau sekadar bekerja, banyak orang bisa melakukannya. Namun, mereka yang berusaha "melarikan diri" dari tuntutan menikah bisa benar-benar membangun karier dengan bekerja semaksimal mungkin sepanjang waktu. Harapannya jelas, meski belum punya jodoh, setidaknya sudah mapan dulu. Boleh dicoba, nih!

2. Memutuskan untuk mengambil studi lanjutan

ilustrasi seorang perempuan yang sedang tersenyum
ilustrasi seorang perempuan yang sedang tersenyum (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak dapat dimungkiri bahwa dituntut untuk menikah memang bisa sangat mengganggu. Kendati sudah berusaha menjelaskan baik-baik kepada orangtua bahwa rencana pernikahan itu ada, hanya saja belum tahu kapan akan terwujud, tetapi mereka terkadang seperti tidak mau mengerti. Jika sudah berada di titik ini, biasanya banyak orang beralih pada pilihan hidup yang baru, seperti memutuskan untuk mengambil studi lanjutan.

Pilihan ini biasanya diambil oleh mereka yang merasa belum selesai dengan cita-citanya menuntut ilmu. Sambil menunggu jodoh yang entah masih ada di mana, mereka memanfaatkan waktunya untuk belajar demi memperdalam keilmuannya. Ini merupakan langkah yang sangat bagus dan bijaksana karena kelak berkat pendidikan yang dijalani, mereka dapat menjadi sosok pasangan yang berkualitas tinggi.

3. Menyibukkan diri dengan kegiatan produktif yang menghasilkan uang

ilustrasi seorang pria yang memotret dengan kamera klasik
ilustrasi seorang pria yang memotret dengan kamera klasik (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Memikirkan tentang jodoh yang belum kunjung ada, sementara di sisi lain juga menghadapi tuntutan dari orangtua agar segera menikah, sudah pasti membingungkan. Awalnya sih tidak ambil pusing, tetap bila situasi ini terus berlangsung, tentu dapat menimbulkan kegalauan yang mengganggu. Jika sudah seperti ini, biasanya banyak orang mulai mengalihkan perhatiannya pada hal baru. Alih-alih sedih dan pasrah begitu saja, mereka berusaha menunggu datangnya pasangan melalui cara menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan produktif yang sebisa mungkin menghasilkan uang.

Kalau kamu punya teman yang tiba-tiba saja sibuk membangun usaha, menekuni pekerjaannya lebih keras dari biasanya, aktif menjalani hobi baru, belajar menjadi pembuat konten, dan segala aktivitas yang menguras tenaga lainnya, bisa jadi mereka sedang berusaha "melarikan diri" dari tuntutan menikah. Mereka berpikir bahwa lebih baik mencari jodoh sambil berusaha mengumpulkan uang dari pada sekadar diam dan larut dalam kesedihan. Dengan begini, diharapkan hidup sudah cukup mapan tatkala nanti tiba saatnya untuk membangun keluarga, bukan begitu?

Tuntutan untuk menikah memang bisa membuat stres, terutama bila jodohnya belum ada meski sudah diupayakan sedemikian rupa. Oleh sebab itu, alih-alih terus bersedih, lebih baik menggunakan waktu yang ada untuk sementara waktu "melarikan diri" dari situasi tersebut dan mulai melakukan aktivitas yang bermanfaat. Kalau kamu pernah punya cerita semacam ini, nggak?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us