Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gak Harus Viral untuk Berhasil: Definisi Sukses Versi Gen Z

Gak Harus Viral untuk Berhasil: Definisi Sukses Versi Gen Z
Ilustrasi bahagia (unsplash.com/Photo by Laura Oliveira)
Share Article

Di era media sosial, kesuksesan sering kali diidentikkan dengan jumlah pengikut, jutaan penonton, atau konten yang viral dalam waktu singkat. Algoritma platform digital membuat pencapaian seseorang terlihat begitu mencolok sehingga banyak orang merasa harus terus tampil, membangun personal branding, bahkan mengejar popularitas agar dianggap berhasil.

Padahal, ukuran kesuksesan setiap orang tidak selalu sama. Gen Z mulai menunjukkan cara pandang yang berbeda. Bagi banyak anak muda, sukses bukan hanya soal terkenal atau menjadi viral, melainkan memiliki pekerjaan yang bermakna, kesehatan mental yang terjaga, kebebasan mengatur waktu, hingga mampu hidup sesuai nilai yang diyakini.

1. Kesuksesan tidak lagi diukur dari popularitas

Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

Media sosial memang membuka banyak peluang bagi siapa saja untuk dikenal luas. Namun, popularitas bukan jaminan seseorang merasa puas terhadap hidupnya. Banyak orang yang memiliki jutaan pengikut tetap menghadapi tekanan psikologis, kelelahan bekerja, bahkan kehilangan privasi.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang menjalankan bisnis, bekerja di balik layar, atau berkarier secara profesional tanpa dikenal publik, tetapi tetap merasa hidupnya berhasil. Bagi sebagian Gen Z, keberhasilan lebih berkaitan dengan pencapaian tujuan pribadi dibanding validasi dari internet.

Memiliki pekerjaan yang sesuai minat, penghasilan yang stabil, hubungan sosial yang sehat, dan waktu untuk diri sendiri dianggap sama pentingnya dengan prestasi akademik atau karier. Cara pandang ini juga membuat banyak anak muda lebih selektif dalam menggunakan media sosial dan tidak lagi terpaku pada angka likes atau followers.

2. Gen Z lebih mengutamakan makna daripada sekadar gengsi

Ilustrasi merasa bahagia (unsplash.com/Photo by Guillaume Bleyer)
Ilustrasi merasa bahagia (unsplash.com/Photo by Guillaume Bleyer)

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering mengejar jabatan atau simbol kesuksesan tertentu, banyak anggota Gen Z lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan nilai hidup mereka. Mereka cenderung mempertimbangkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kesempatan berkembang, serta lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental.

Perubahan ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap pekerjaan yang fleksibel, remote working, hingga profesi yang memungkinkan seseorang terus belajar. Bagi Gen Z, sukses bukan berarti bekerja tanpa henti, melainkan mampu menikmati proses, memiliki waktu bersama keluarga, serta tetap menjaga kesehatan fisik dan mental.

"Banyak profesional Gen Z mencari peran yang selaras dengan nilai-nilai mereka. Mereka umumnya fokus pada pengembangan rasa tujuan, yang melampaui jabatan pekerjaan tertentu," jelas Kelly Kennedy, Ed.D., direktur pembelajaran transformatif dan Cathleen Swody, Ph.D., berspesialisasi dalam kepemimpinan, kecerdasan emosional, empati, manajemen talenta, memotivasi karyawan, keterampilan komunikasi di tempat kerja, efektivitas tim, dikutip dari The Conversation.

"Gen Z lebih cenderung berkembang di lingkungan kerja yang memprioritaskan keragaman dan inklusi serta mendorong hubungan positif antar kolega," tambahnya.

 

3. Kesehatan mental menjadi bagian dari tolok ukur kesuksesan

Ilustrasi merasa bahagia (unsplash.com/Photo by Coleman Glover)
Ilustrasi merasa bahagia (unsplash.com/Photo by Coleman Glover)

Selama bertahun-tahun, kesuksesan sering diukur dari jabatan, gaji, atau aset yang dimiliki. Namun, banyak Gen Z mulai menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak akan berarti jika harus dibayar dengan stres berkepanjangan, kelelahan, atau burnout. Karena itu, menjaga kesehatan mental kini menjadi salah satu indikator penting dalam mendefinisikan kesuksesan.

"Gen Z memprioritaskan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi. Banyak Gen Z memasuki dunia kerja selama pandemik dan, karena itu, mereka tidak memiliki pandangan yang sama tentang pola kerja kaku yang dianggap wajar oleh generasi yang lebih tua sebagai satu-satunya cara," jelas konsultan CV, Elizabeth Openshaw yang ahli dalam peninjauan CV, mendukung para pencari kerja dan semua pihak yang terlibat dalam proses rekrutmen dikutip dari Career Minds.

Perubahan pola pikir ini terlihat dari semakin banyak anak muda yang menetapkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mereka lebih berani mengambil cuti saat dibutuhkan, mencari lingkungan kerja yang sehat, hingga tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog ketika menghadapi tekanan emosional. Bagi mereka, produktif bukan berarti bekerja tanpa henti, melainkan mampu bekerja secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kesejahteraan diri.

4. Menjadi diri sendiri lebih penting daripada mengikuti tren

Ilustrasi bahagia (unsplash.com/Photo by Tommy van Kessel)
Ilustrasi bahagia (unsplash.com/Photo by Tommy van Kessel)

Media sosial sering memunculkan tekanan untuk mengikuti tren yang sedang populer. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, pilihan karier, hingga pencapaian tertentu, semuanya dapat menciptakan perasaan bahwa seseorang harus terus mengejar standar yang ditetapkan orang lain. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang kehilangan jati diri demi mendapatkan pengakuan.

"Ketika kamu merasa dirimu bermakna, kamu merasa aman karena mengetahui bahwa kamu memiliki hubungan yang kuat dan bermakna dengan orang lain dan kamu tidak menjalani hidup ini sendirian," kata Gordon Flett, seorang profesor psikologi di Universitas York Kanada dalam Business Insider.

Kini, semakin banyak Gen Z yang memilih tampil apa adanya dan membangun kehidupan sesuai tujuan pribadi. Mereka menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak semua orang harus menjadi kreator konten terkenal, pendiri perusahaan rintisan, atau memiliki jutaan pengikut agar dapat disebut sukses. Selama seseorang berkembang sesuai potensinya dan merasa puas dengan kehidupannya, itu sudah merupakan bentuk keberhasilan.

5. Sukses adalah perjalanan, bukan perlombaan popularitas

Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Photo by Eyüpcan Timur)
Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Photo by Eyüpcan Timur)

Salah satu perubahan pola pikir yang mulai berkembang di kalangan Gen Z adalah melihat kesuksesan sebagai sebuah perjalanan jangka panjang, bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat atau paling terkenal. Media sosial memang sering menampilkan pencapaian orang lain dalam hitungan detik, tetapi kehidupan nyata tidak selalu berjalan secepat itu.

Setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan tantangan yang berbeda sehingga membandingkan diri dengan orang lain justru dapat menghambat perkembangan diri. Banyak anak muda kini lebih fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan  daripada pencapaian instan. Mereka memilih meningkatkan keterampilan sedikit demi sedikit, membangun portofolio, memperluas relasi, dan menjaga konsistensi dalam bekerja.

"Bagi Gen Z, definisi kesuksesan bukanlah kekayaan materi, melainkan kehidupan yang penuh tujuan, dampak, dan cinta. Dikatakan bahwa uang bukanlah segalanya, dan kebahagiaan tidak dapat dibeli. Gen Z tampaknya memahami hal ini secara intuitif, dan hal ini membentuk cara mereka mengambil keputusan hidup, baik besar maupun kecil," jelas Akshata Udiavar, ahli perbankan dan pasar modal sekaligus ahli strategi yang merancang pendekatan berpusat pada manusia dalam EY.

Di era digital, menjadi viral memang bisa membuka banyak peluang, tetapi popularitas bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Semakin banyak Gen Z yang memaknai sukses sebagai kemampuan untuk hidup sesuai nilai yang diyakini, memiliki pekerjaan yang bermakna, menjaga kesehatan mental, terus berkembang, dan menikmati proses tanpa harus terus mencari validasi dari media sosial.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More