"Dari tulisan pertama itulah saya mulai semakin serius menulis dan belajar memperbaiki kualitas artikel yang saya buat. Saya mencoba konsisten menulis, memperluas topik, serta menghadirkan tulisan yang bermanfaat bagi pembaca. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa perjalanan yang dimulai dari satu artikel sederhana itu akhirnya bisa membawa saya hingga dipercaya menjadi salah satu Community Writer yang mendapatkan apresiasi. Bagi saya, semuanya berawal dari keberanian untuk menulis dan berbagi cerita." kisah Iif Syaepuddin dalam sesi wawancara bersama IDN Times.
Deru Mesin Cukur dan Napas Literasi Teknologi Iif Syaepuddin

- Iif Syaepuddin, manajer barbershop asal Sidoarjo, sukses menyeimbangkan karier dan hobi menulis teknologi hingga meraih penghargaan Community Writer of The Month Maret 2026 di IDN Times.
- Dengan riset berbasis data lewat Google Trends, Iif menghasilkan artikel populer bertema teknologi yang menjangkau puluhan ribu pembaca dan memberi dampak finansial tambahan bagi dirinya.
- Iif menjadikan menulis sebagai misi mencerdaskan generasi muda agar melek digital serta aktif mendukung kemandirian teknologi Indonesia melalui literasi yang adaptif dan inspiratif.
Di riuhnya Sidoarjo, Jawa Timur, yang padat dan cenderung panas, hari-hari Iif Syaepuddin berjibaku di antara deru mesin cukur dan kilatan layar gawai. Sebagai manajer di salah satu barbershop, ia terbiasa memastikan tiap detail layanan operasional berjalan sempurna.
Namun, saat satu tanggung jawab itu usai, si kepala keluarga berusia 29 tahun ini beralih peran menjadi seorang penulis artikel lepas yang sangat tekun. Banyak sekali karya artikel Iif yang bisa dengan mudah kamu akses di kanal Tech IDN Times. Ia banyak mengulas tentang tren teknologi, utamanya laptop dan komputer. Ini ia pertegas lewat, "I talk tech and drop smart tips," sebagai jargon di kolom informasi profil akun IDN Times Community miliknya. Kalau kamu punya minat serupa, luangkan waktu untuk menelusuri karya-karya Iif Syaepuddin di sini.
Ketekunan Iif berbuah manis ketika ia akhirnya merengkuh gelar Community Writer of The Month Maret 2026, sebuah apresiasi atas konsistensi yang ia bangun sejak 2023. Yuk, kenalan dulu sama sosok inspiratif Iif Syaepuddin berikut, lalu selami ia lewat karya artikel-artikelnya, ya!
1. Akar yang tumbuh buah dari kehilangan

Sejatinya, Iif Syaepuddin punya latar belakang pendidikan di bidang pariwisata-perhotelan. Secara teori, sih, bidang ini cukup jauh dari sirkuit elektronik dan kelindan teknologi. Meski begitu, minatnya terkait teknologi dan gadget sudah mengakar sejak masa sekolah. Kala itu, di waktu luangnya ia suka merakit PC sendiri, menjadi gamer, hingga membuka jasa servis gratis untuk teman-teman sekolah. Pengalaman teknis ini lantas menjadi fondasi buat Iif untuk terus mengikuti perkembangan teknologi, mulai zaman Windows XP hingga 11. dari era Symbian hingga Android terbaru di kemudian hari.
Menulis secara serius sendiri baru ia mulai bersama IDN Times Community. Dari ingatannya, ia memulai dengan sebuah tulisan yang sangat personal dan menyentuh hati. Artikel pertama Iif yang terbit di IDN Times berjudul "6 Hal Remeh Ini Ternyata Banyak Menyimpan Pesan Berharga". Bagi Iif, tulisan debut itu adalah rangkuman perjalanan hidupnya yang kala itu terasa begitu terjal. Ia menulisnya di tengah fase membangun kepribadian yang lebih kuat setelah harus bangkit dari kesedihan pasca kehilangan kedua orangtua.
2. Menulis dengan data untuk menjawab kebutuhan pembaca

Iif Syaepuddin menunjukkan bahwa menulis di era digital memerlukan strategi yang matang agar pesan dapat tersampaikan secara luas. Ia secara rutin menggunakan Google Trends untuk melakukan riset terkait apa yang sebenarnya sedang dicari dan dibutuhkan pembaca. Lewat metode ini, ia konsisten menyunting dan mempersempit fokus judul artikelnya sehingga menjadi lebih spesifik, tapi tetap inspiratif.
Strategi berbasis data ini terbukti kerap memberikan hasil signifikan pada performa artikelnya. Salah satu artikel rekomendasinya mengenai HP murah untuk pelajar berhasil meledak hingga meraih sekitar 64.000 pembaca. Ada lagi, ulasannya mengenai kasus Chromebook yang melibatkan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Indonesia, Nadiem Makarim juga berhasil menarik perhatian sekitar 25.000 pembaca karena keterkaitannya dengan isu nasional yang sedang ramai dibicarakan saat itu.
3. Konsistensi di tengah kesibukan yang padat

Mengelola waktu adalah tantangan harian yang harus dihadapi Iif dengan sangat disiplin. Selain memimpin operasional barbershop di Sidoarjo, ia juga harus memantau perkembangan bisnis kuliner (FnB) miliknya yang berlokasi di Ngawi, Jawa Timur. Meski memiliki jadwal yang sangat padat dari pagi hingga malam, ia tetap mampu menjaga produktivitas menulisnya secara konsisten.
Hingga saat ini, Iif tercatat telah berhasil menerbitkan total kurang lebih 654 artikel di platform IDN Times Community. Dari seluruh karyanya tersebut, ia telah mengumpulkan pendapatan total sekitar belasan juta rupiah yang ia redeem secara reguler melalui akun Gopay. Baginya, jumlah tersebut sangat membantu dalam mendukung kebutuhan finansial harian di luar penghasilan utamanya sebagai pengusaha dan manajer.
4. Misi Iif untuk kemandirian digital dan teknologi bangsa

Tujuan Iif Syaepuddin menulis topik teknologi tidak sekadar mengejar angka jumlah pembaca. Menulis buatnya adalah misi kecil untuk ikut berkontribusi mencerdaskan bangsa. Ikut membantu menumbuhkan kesadaran generasi muda Indonesia untuk mulai mencintai dan mendukung inovasi teknologi itu adalah sebuah langkah kecil tetapi penting dilakukan. Paling tidak, generasi muda harus aktif melek dan memantau tren digital yang pergerakannya makin hari makin cepat. Bukan tanpa alasan, cita-cita Iif sendiri adalah bisa melihat Indonesia menjadi bangsa yang mandiri secara digital dan tidak hanya menjadi penonton atau pengguna pasif dari inovasi luar negeri.
"Teknologi memang membawa banyak kemudahan, tetapi di sisi lain juga bisa membuat kita terlalu bergantung pada produk dan ekosistem dari luar. Dari sudut pandang saya sebagai penulis yang sering membahas teknologi, hal ini menjadi perhatian tersendiri karena perkembangan industri digital juga berkaitan dengan kemandirian suatu bangsa," pandangan Iif saat ditanya mengenai apa tantangan terbesar generasi penerus bangsa saat ini.
Ia juga menyadari bahwa budaya literasi saat ini harus bersaing ketat dengan popularitas konten video yang lebih instan. Alih-alih menganggapnya sebagai hambatan, Iif justru melihat hal tersebut sebagai peluang bagi penulis untuk beradaptasi dengan gaya penyajian yang lebih menarik dan ringkas.
"Banyak anak muda yang merasa lebih cepat mendapatkan informasi melalui video dibandingkan harus membaca artikel atau tulisan yang panjang. Namun, saya melihat hal ini bukan sepenuhnya hal yang negatif. Justru ini bisa menjadi peluang bagi para penulis untuk beradaptasi dengan cara menyajikan tulisan yang lebih menarik, ringkas, dan relevan dengan kebutuhan pembaca saat ini," imbuh Iif.
5. Kekuatan komunitas dan inspirasi bagi para penulis lain dengan perjuangan serupa

Iif merasa gembira bisa aktif bergabung di grup WhatsApp penulis IDN Times Community. Buatnya, komunitas sederhana ini adalah ladang belajar sekaligus berbagi pengalaman untuk terus tumbuh. Di sana, ia bisa melihat macam-macam tantangan yang jadi kendala penulis lain, terutama penulis baru yang sering kesulitan menembus tahap publikasi. Interaksi dengan para editor dan sesama penulis ini baginya bikin proses belajar menulis terasa lebih terbuka dan terus menumbuhkan semangat baru. Ia berpesan bahwa tiap proses revisi atau penolakan artikel adalah langkah awal menuju hasil karya menarik. Iif percaya bahwa semua penulis, apa pun latar belakangnya, bisa menjadi penulis hebat di kemudian hari asalkan punya keberanian dan ketekunan untuk terus mencoba.
Sosok yang baru saja menjadi seorang ayah ini punya prinsip: "Teruslah menulis sampai orang sekitarmu terkejut bahwa tulisan hebat yang mereka baca terlahir dari orang terdekatnya." Kegigihannya adalah inspirasi bahwa prestasi juga lahir dari keberanian untuk terus belajar, bangkit dari keterpurukan, dan konsisten atas apa yang diyakini.