Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel Horor Remaja yang Mengangkat Kisah Menstruasi

6 min read
5 Novel Horor Remaja yang Mengangkat Kisah Menstruasi
ilustrasi remaja perempuan membaca buku (pexels.com/Kaboompics)
  • Lima novel membahas menstruasi sebagai tema fiksi, dari horor supernatural hingga cerita pendewasaan, dengan pengalaman pubertas perempuan sebagai pusat konflik.
  • Carrie dan Red Hood mengaitkan menstruasi dengan trauma, perundungan, kekuatan misterius, serta kekerasan berbasis gender melalui perspektif remaja perempuan.
  • Blood Moon menyoroti menstrual shaming digital, sementara karya Judy Blume dan S.C. Hunter menawarkan penggambaran menstruasi yang hangat maupun horor-komedi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menstruasi merupakan bagian alami dari proses pubertas perempuan. Namun, pengalaman mendapatkan menstruasi pertama atau menarche tidak selalu menyenangkan bagi setiap remaja. Kurangnya pengetahuan, rasa malu, perundungan, hingga stigma terhadap darah menstruasi dapat menciptakan pengalaman yang menakutkan. Menariknya, pengalaman tersebut juga menjadi inspirasi bagi sejumlah penulis untuk mengangkat menstruasi dalam karya fiksi, termasuk cerita horor dan thriller.

Dalam sastra populer, menstruasi bahkan bisa menjadi pintu masuk menuju kisah supernatural, kekuatan misterius, dan teror psikologis. Darah yang seharusnya menjadi penanda perubahan biologis tubuh perempuan justru digambarkan sebagai pemicu peristiwa mengerikan. Beberapa novel berikut mengangkat tema tersebut melalui sudut pandang remaja, meskipun tidak semuanya secara ketat masuk kategori horor. Berikut lima novel horor remaja yang mengangkat kisah menstruasi dan menarik untuk dibahas. Mari kita telusuri!

  1. 1. Carrie karya Stephen King

    ilustrasi cover Carrie
    ilustrasi cover Carrie (amazon.com)

    Carrie merupakan novel horor karya Stephen King yang diterbitkan pada 1974. Ceritanya berpusat pada Carrietta White atau Carrie, seorang siswi SMA berusia 16 tahun yang mengalami perundungan di sekolah. Ia juga tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh tekanan karena ibunya, Margaret White, memiliki pandangan agama yang ekstrem dan menganggap berbagai perubahan biologis perempuan sebagai sesuatu yang berdosa.

    Kengerian dimulai ketika Carrie mengalami menstruasi pertama saat berada di kamar mandi sekolah. Karena tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai menstruasi dari ibunya, ia mengira dirinya sedang mengalami pendarahan yang mengancam nyawa. Alih-alih mendapatkan pertolongan, teman-teman perempuannya justru mengejek dan melemparinya dengan pembalut serta tampon. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman traumatis yang memperburuk kondisi psikologis Carrie.

    Namun, menstruasi bukan satu-satunya sumber teror dalam novel ini. Carrie ternyata memiliki kemampuan telekinesis, yakni kekuatan untuk menggerakkan benda menggunakan pikiran. Tekanan emosional, kekerasan, dan penghinaan yang terus dialaminya membuat kekuatan tersebut berkembang menjadi senjata mengerikan. Stephen King menjadikan pengalaman pubertas sebagai bagian penting dari kisah horor tentang perundungan, fanatisme, dan kemarahan seorang remaja perempuan.

  2. 2. Red Hood karya Elana K. Arnold

    ilustrasi cover Red Hood
    ilustrasi cover Red Hood (amazon.com)

    Berbeda dari kisah horor konvensional, Red Hood karya Elana K. Arnold menggabungkan dongeng Little Red Riding Hood dengan horor supernatural dan isu kekerasan terhadap perempuan. Novel yang diterbitkan pada 2020 ini mengikuti kehidupan Bisou Martel, seorang remaja berusia 16 tahun yang mengalami perubahan besar setelah diserang serigala di hutan.

    Peristiwa tersebut bertepatan dengan pengalaman menstruasi pertamanya. Bisou kemudian mulai mempertanyakan hubungan antara darah, sejarah keluarganya, dan kemunculan serigala yang mengancam keselamatannya. Cerita berkembang menjadi misteri supernatural yang menghubungkan tubuh perempuan dengan kekuatan yang selama ini disembunyikan.

    Arnold menggunakan mitologi manusia serigala untuk membicarakan kekerasan berbasis gender, maskulinitas toksik, serta bagaimana perempuan kerap ditempatkan sebagai pihak yang harus takut terhadap laki-laki. Menstruasi dalam novel ini tidak sekadar menjadi tanda pubertas, tetapi juga berkaitan dengan naluri, kekuatan, dan upaya seorang remaja perempuan untuk merebut kembali kendali atas tubuhnya.

  3. 3. Blood Moon karya Lucy Cuthew

    ilustrasi cover Blood Moon
    ilustrasi cover Blood Moon (amazon.com)

    Blood Moon merupakan novel young adult karya Lucy Cuthew yang diterbitkan pada 2020. Berbeda dari Carrie dan Red Hood, novel ini tidak mengandalkan monster atau kekuatan supernatural. Terornya justru muncul dari perundungan digital dan penghinaan terhadap tubuh perempuan.

    Cerita berpusat pada Frankie, seorang remaja yang mengalami menstruasi ketika melakukan hubungan seksual pertamanya dengan Benjamin. Awalnya, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang canggung tetapi masih bisa mereka hadapi bersama. Namun, situasi berubah ketika kejadian itu menjadi bahan meme yang tersebar luas di lingkungan sekolah. Frankie kemudian menjadi sasaran penghinaan dan menstrual shaming di dunia maya.

    Ditulis dalam bentuk novel puisi atau verse novel. Cuthew menggambarkan bagaimana sebuah pengalaman pribadi dapat berubah menjadi teror, ketika disebarkan dan dipermalukan oleh orang lain. Frankie harus menghadapi tekanan psikologis, rusaknya hubungan pertemanan, serta stigma bahwa menstruasi merupakan sesuatu yang menjijikkan. Novel ini memperlihatkan bahwa horor bagi remaja perempuan tidak selalu datang dari makhluk supernatural, tetapi juga bisa berasal dari lingkungan sosial dan teknologi yang digunakan untuk mempermalukan mereka.

  4. 4. Are You There, God? It's Me, Margaret karya Judy Blume

    ilustrasi cover Are You There God? It's Me, Margaret
    ilustrasi cover Are You There God? It's Me, Margaret (amazon.com)

    Are You There, God? It's Me, Margaret merupakan novel karya Judy Blume yang pertama kali diterbitkan pada 1970. Karya ini sebenarnya bukan novel horor, melainkan cerita coming-of-age yang membahas pubertas dan proses pendewasaan seorang gadis. Meski demikian, menstruasi menjadi salah satu tema sentral yang membuat novel ini relevan dalam pembahasan representasi tubuh perempuan di sastra remaja.

    Tokoh utamanya adalah Margaret Simon, seorang siswi kelas enam yang sedang menghadapi berbagai perubahan selama masa pubertas. Ia memiliki rasa ingin tahu mengenai perkembangan tubuh, hubungan pertemanan, dan ketertarikannya terhadap laki-laki. Margaret juga berharap segera mendapatkan menstruasi pertamanya, karena menganggapnya sebagai salah satu tanda bahwa dirinya telah beranjak dewasa.

    Melalui pengalaman Margaret, Judy Blume mengangkat kecemasan yang sering dialami perempuan ketika memasuki masa pubertas. Novel ini penting sebagai pembanding, karena memperlihatkan bahwa menstruasi tidak harus selalu digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan. Pengalaman tersebut juga dapat diceritakan secara hangat, jujur, dan dekat dengan kehidupan remaja. Karya ini bahkan menjadi salah satu novel young adult—yang lebih awal—yang menjadikan menstruasi sebagai tema utama.

  5. 5. Vampire Menstrual Syndrome karya S.C. Hunter

    ilustrasi cover Vampire Menstrual Syndrome
    ilustrasi cover Vampire Menstrual Syndrome (amazon.com)

    Vampire Menstrual Syndrome merupakan novel horor komedi feminis karya S.C. Hunter yang dijadwalkan terbit pada 8 Desember 2026 melalui Gallery Books. Berbeda dari empat judul sebelumnya, novel ini tidak berpusat pada kehidupan remaja perempuan. Tokoh utamanya adalah Vanessa Selvig, seorang perempuan yang kehidupannya berubah drastis, ketika mengalami menstruasi pada hari pertama.

    Vanessa awalnya menjalani kehidupan biasa dan bekerja di sebuah toko roti. Namun, sebuah tugas mengantarkan kue pada malam hari membawanya ke dalam peristiwa mengerikan. Ia diculik dan dikorbankan oleh kelompok pemuja dewa gelap. Ketika terbangun, Vanessa mendapati dirinya telah berubah menjadi vampir. Selain harus menghadapi rasa lapar terhadap darah, ia juga mengalami gejala vampir yang semakin kuat bersamaan dengan menstruasinya.

    S.C. Hunter menggabungkan mitologi vampir, horor tubuh atau body horror, serta pengalaman menstruasi menjadi cerita yang bernuansa komedi gelap. Premisnya terdengar tidak biasa, karena menghubungkan perubahan biologis tubuh perempuan dengan kutukan supernatural. Meskipun bukan bacaan remaja, novel ini memperlihatkan bagaimana menstruasi masih memiliki ruang eksplorasi yang luas dalam genre horor kontemporer.

    Menstruasi dalam karya fiksi ternyata bisa memiliki banyak makna. Dalam Carrie, pengalaman tersebut berkaitan dengan trauma dan kekuatan supernatural. Sementara itu, Red Hood menghubungkannya dengan mitologi dan perlawanan perempuan. Adapun Blood Moon memperlihatkan bahwa stigma terhadap menstruasi dapat menjadi sumber kekerasan psikologis yang nyata.

    Penggambaran tersebut menunjukkan bahwa pengalaman biologis perempuan tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup dalam sastra populer. Padahal, menstruasi bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan pendidikan seksual, relasi kuasa, perundungan, hingga penerimaan terhadap tubuh sendiri. Horor, pada akhirnya, bukan hanya tentang sesuatu yang datang dari kegelapan, tetapi juga tentang ketakutan yang diciptakan oleh manusia dan lingkungan sosialnya. Dari kelima novel horor remaja yang mengangkat kisah menstruasi, mana yang membuatmu ingin membacanya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More