Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Menjadi Perempuan Lebih Mahal? Ini Pengeluaran yang Jarang Disadari

6 min read
Apakah Menjadi Perempuan Lebih Mahal? Ini Pengeluaran yang Jarang Disadari
ilustrasi seorang perempuan mengatur finansial (freepik.com/tirachardz)
  • Pengeluaran perempuan mencakup kebutuhan menstruasi dan kesehatan reproduksi yang harus dipenuhi secara rutin, dengan biaya yang dapat berbeda sesuai kondisi tubuh.

  • Pink tax merujuk pada dugaan perbedaan harga produk berdasarkan gender, meski penelitian tidak menemukan produk perempuan selalu lebih mahal secara sistematis.

  • Biaya perempuan juga berkaitan dengan tuntutan penampilan serta waktu dan tenaga untuk pekerjaan rumah tangga dan perawatan keluarga tanpa upah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Girls, coba perhatikan isi keranjang belanja bulananmu. Di antara bahan makanan, perlengkapan mandi, dan kebutuhan rumah tangga, mungkin ada pembalut, sabun khusus area kewanitaan, skincare, hingga produk rambut. Barang-barang tersebut mungkin terlihat seperti kebutuhan biasa. Namun, ada satu hal yang menarik. Sebagian pengeluaran itu muncul karena kebutuhan dan pengalaman yang lebih spesifik dialami perempuan.

Biaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut memang jarang dihitung sebagai pengeluaran khusus perempuan. Padahal jika dikumpulkan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, jumlahnya bisa cukup besar. Belum lagi biaya lain yang muncul karena tuntutan penampilan dan ekspektasi sosial. Lantas, benarkah ada biaya tambahan yang harus ditanggung seseorang hanya karena terlahir sebagai perempuan?

  1. 1. Kebutuhan menstruasi dan kesehatan reproduksi yang harus dipenuhi secara rutin

    ilustrasi pembalut perempuan
    ilustrasi pembalut perempuan (pexels.com/Kaboompics)

    Salah satu pengeluaran yang paling spesifik berkaitan dengan kebutuhan biologis perempuan adalah biaya menstruasi. Setiap bulan, perempuan yang mengalami menstruasi perlu menyiapkan produk sanitasi, seperti pembalut, tampon, menstrual cup, atau alternatif lainnya. Namun, kebutuhan ini gak selalu berhenti pada satu jenis produk. Ada perempuan yang perlu membeli pembalut dengan ukuran dan daya serap berbeda, obat pereda nyeri haid, suplemen penambah darah, hingga produk penghangat untuk meredakan kram.

    Pengalaman tersebut dirasakan oleh narasumber Nurkorida Aeni (26) yang bercerita kepada IDN Times pada Minggu (8/11/12) secara daring. Menurutnya, gak semua jenis pembalut cocok digunakan karena ada produk yang terasa terlalu tebal atau kasar hingga menyebabkan iritasi. Ia juga membutuhkan pembalut berukuran lebih besar atau berbentuk celana ketika mengalami menstruasi dengan volume darah yang lebih banyak, terutama pada hari pertama dan kedua.

    "Otomatis kita harus cari pilihan lain yang kadang harganya lebih mahal dari pembalut biasa. Apalagi kalau harus beraktivitas di luar rumah, kita butuh yang lebih besar supaya gak bocor/tembus," ceritanya.

    Pengeluaran Nurkorida juga bertambah ketika mengalami nyeri menstruasi. Ia perlu menyediakan obat pereda nyeri yang cocok, suplemen penambah darah seperti Sangobion, hingga heat pad yang harganya bisa mencapai belasan sampai puluhan ribu rupiah per buah. Menurutnya, pilihan produk dan obat yang sesuai dengan kondisi tubuh juga memengaruhi biaya yang harus dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan menstruasi setiap perempuan bisa berbeda, sehingga pengeluarannya pun gak selalu sama.

    Jawaban serupa disampaikan juga oleh Luna (26), yang juga mengatakan bahwa salah satu pengeluaran bulanan yang ternyata cukup besar adalah biaya menstruasi. Sama dengan Nurkorida, Luna juga menyebutkan bahwa memakai produk hygiene seperti pembalut harus memikirkan kualitas, yang mana tak bisa sembarangan pilih harga termurah.

    "Pastinya pembalut, apalagi aku termasuk yang sensitif dan gak bisa pakai sembarangan pembalut. Ada harga, ada kualitas. Selain pembalut, mungkin pil tambah darah, yang mana itu mahal banget. Tapi kalau gak minum itu, biasanya bikin pening saat menstruasi," jelas UVD.

    Artikel opini Kementerian Keuangan berjudul Menimbang PPN atas Produk Menstruasi pada 28 Juli 2026 memperkirakan pengeluaran rutin untuk produk sanitasi di Indonesia berkisar Rp30 ribu hingga Rp70 ribu per bulan. Di sisi lain, situs resmi UNFPA juga selaras menuliskan bahwa beban biaya menstruasi gak hanya mencakup produk sanitasi, tetapi juga kebutuhan terkait seperti obat pereda nyeri dan pakaian dalam.

    Di sisi lain, ada pun kondisi ketika seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut atau dikenal sebagai period poverty atau kemiskinan menstruasi. Sehingga, pengeluaran atau biaya yang dikeluarkan perempuan saat menstruasi ini perlu perhatian yang serius.

  2. 2. Perbedaan harga produk berdasarkan gender atau pink tax

    Ilustrasi perempuan bergantung secara finansial pada pasangan
    Ilustrasi perempuan bergantung secara finansial pada pasangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Pernah memperhatikan bahwa beberapa produk perawatan tubuh memiliki varian khusus perempuan dan laki-laki? Mulai dari alat cukur, sabun mandi, sampo, hingga deodoran. Meski memiliki fungsi yang serupa, produk-produk tersebut terkadang dipasarkan dengan kemasan, aroma, ukuran, atau harga yang berbeda. Fenomena perbedaan harga pada produk atau layanan yang ditujukan berdasarkan gender ini dikenal dengan istilah pink tax.

    Namun, pink tax bukanlah pajak resmi yang dipungut pemerintah. Istilah ini merujuk pada dugaan praktik perbedaan harga antara produk yang dipasarkan untuk perempuan dan laki-laki. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Marketing Science pada 2023 berjudul Gender-Based Pricing in Consumer Packaged Goods: A Pink Tax? menemukan bahwa lebih dari 80 persen produk yang diteliti memiliki segmentasi gender.

    Meski begitu, ketika membandingkan produk dengan bahan atau formulasi serupa, peneliti gak menemukan bukti bahwa produk perempuan secara sistematis selalu lebih mahal. Artinya, perbedaan harga perlu dilihat berdasarkan kategori, ukuran, dan komposisi produk, bukan hanya label gendernya.

  3. 3. Biaya merawat penampilan karena tuntutan sosial dan pekerjaan

    Makeup kit
    ilustrasi makeup kit (pexels.com/cottonbro)

    Bagi sebagian perempuan, menjaga penampilan bukan hanya soal preferensi pribadi. Dalam situasi tertentu, penampilan juga berkaitan dengan tuntutan pekerjaan, lingkungan sosial, atau standar profesional yang berlaku. Misalnya, kebutuhan membeli pakaian yang dianggap pantas, menggunakan riasan, merawat rambut, hingga menjaga penampilan agar terlihat rapi saat beraktivitas di luar rumah. Pengeluaran ini mungkin berbeda-beda pada setiap orang, bergantung pada profesi, lingkungan, dan kebutuhan masing-masing.

    Nurkorida punya pengalaman yang menggambarkan perbedaan standar tersebut. Ia menceritakan pengalamannya ketika pergi ke PMI untuk donor darah bersama sepupu laki-lakinya. Meski hanya melakukan aktivitas singkat, ia merasa perlu berpenampilan rapi, setidaknya mengenakan makeup tipis. Sementara itu, sepupunya cukup mengenakan kaus, celana olahraga, dan sandal santai.

    "Aku juga gak paham kenapa dia dengan tampilan kayak gitu sudah kelihatan oke. Sedangkan aku harus pakai bedak, lipstik, baju dan celana yang rapi, serta alas kaki yang proper," ungkapnya.

    Menurut NA, perbedaan tersebut berkaitan dengan tuntutan sosial terhadap cara perempuan berpenampilan. Ia merasa jika mengenakan pakaian sesantai sepupunya, orang lain mungkin akan menganggap penampilannya kurang sopan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pengeluaran untuk menjaga penampilan gak selalu muncul karena keinginan untuk tampil menarik.

    Sama halnya seperti Nurkorida, Luna juga menyebutkan bahwa sebagai pekerja kantoran, tuntutan lingkungan sosial membuatnya harus selalu rapi dan full makeup. Hal tersebut tentunya menjadi biaya tambahan.

    "Kalau gak makeup kan, pasti dikira pucat, dibilang sakit (oleh lingkungan sosial). Padahal setelah dipikir-pikir, gak makeup juga sebenarnya gak apa-apa," lanjutnya.

    Dalam kondisi tertentu, ada ekspektasi lingkungan yang membuat perempuan merasa perlu mengeluarkan usaha dan biaya lebih agar penampilannya dianggap pantas.

  4. 4. Biaya tersembunyi dari pekerjaan rumah tangga dan perawatan keluarga

    Seorang perempuan duduk di depan komputer dengan mata terpejam.
    Ilustrasi perempuan yang merasa lelah saat bekerja di depan komputer. (Pexels/Yan Krukau)

    Selain pengeluaran yang terlihat dalam catatan keuangan, ada pula biaya ekonomi yang muncul dari waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mengurus rumah tangga serta anggota keluarga. Pekerjaan seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga merawat orangtua sering kali dilakukan tanpa upah. Walaupun gak selalu mengharuskan seseorang mengeluarkan uang secara langsung, pekerjaan ini tetap memiliki nilai ekonomi karena menyita waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk bekerja, beristirahat, atau mengembangkan diri.

    International Labour Organization (ILO) pernah melakukan eksperimen sosial dengan melibatkan lima perempuan di Indonesia yang mencatat pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan selama tujuh hari. Hasilnya, empat dari lima peserta menghabiskan lebih dari 40 jam per minggu untuk pekerjaan perawatan tidak berbayar. Eksperimen berskala kecil ini memang gak bisa dianggap mewakili seluruh perempuan Indonesia, tetapi memperlihatkan besarnya waktu yang dapat tersita untuk pekerjaan perawatan.

    Dengan demikian, biaya hidup perempuan gak selalu bisa dihitung hanya dari uang yang dikeluarkan untuk berbelanja. Ada pula kontribusi waktu dan tenaga yang selama ini kerap dianggap sebagai kewajiban domestik, padahal memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Related Articles

See More