Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fenomena Urban yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Normal

5 Fenomena Urban yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Normal
ilustrasi nonton film sendirian (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Kebiasaan berkumpul sambil fokus pada ponsel kini lazim di berbagai ruang publik, karena aktivitas digital membuat perhatian terbagi tanpa selalu menghilangkan kebersamaan.
  • Layanan pesan antar menjadikan pembelian makanan, obat, dan kebutuhan rumah tangga tanpa keluar rumah sebagai pilihan praktis untuk menghemat waktu, kemacetan, dan antrean.
  • Kerja dari kafe, relasi yang berawal secara daring, serta menikmati aktivitas sendirian di ruang publik kini makin diterima dalam gaya hidup urban modern.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kehidupan di kota selalu berubah lebih cepat dibandingkan dengan banyak tempat lainnya. Kebiasaan yang dulu terasa tidak biasa, bahkan sempat dianggap aneh, perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Perubahan teknologi, gaya hidup, hingga cara orang berinteraksi membuat banyak hal yang dulu mengundang tanda tanya kini diterima begitu saja.

Menariknya, sebagian besar perubahan ini terjadi tanpa banyak disadari. Saat pertama muncul, orang mungkin merasa heran atau sulit memahami alasannya. Namun, setelah bertahun-tahun menjadi pemandangan sehari-hari, kebiasaan tersebut justru terasa normal dan bahkan sulit dipisahkan dari kehidupan urban modern. Apa sajakah fenomena urban yang dulu dianggap aneh namun kini jadi normal?

1. Duduk bersama, tetapi semua sibuk dengan ponselnya

ilustrasi bermain ponsel
ilustrasi bermain ponsel (pexels.com/Artem Podrez)

Beberapa tahun lalu, pemandangan sekelompok orang yang berkumpul tetapi masing-masing fokus pada layar ponsel sering dianggap tidak sopan. Banyak yang menilai kebiasaan itu sebagai tanda kurangnya perhatian terhadap orang di sekitar. Saat itu, orang yang terlalu sibuk dengan ponsel di tengah obrolan sering dianggap tidak menghargai momen kebersamaan.

Kini situasinya telah berbeda. Di kafe, ruang tunggu, transportasi umum, bahkan saat nongkrong bersama teman, pemandangan seperti ini sangat mudah ditemukan. Bukan berarti mereka tidak akrab, melainkan karena aktivitas digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebersamaan tetap ada, hanya saja perhatian orang kini terbagi ke banyak arah sekaligus.

2. Memesan hampir semua kebutuhan tanpa keluar rumah

ilustrasi online shopping
ilustrasi online shopping (pexels.com/V H)

Dulu banyak orang merasa aneh membayar biaya tambahan hanya untuk membeli makanan, kebutuhan harian, atau barang tertentu tanpa datang langsung ke toko. Pergi keluar dianggap lebih masuk akal dibandingkan dengan menunggu kurir datang. Ada anggapan bahwa belanja harus dilakukan sendiri agar lebih hemat dan lebih pasti.

Sekarang, layanan pesan antar sudah menjadi hal biasa. Makanan, kopi, obat, bahan masakan, hingga kebutuhan rumah tangga dapat tiba di depan pintu dalam waktu relatif singkat. Bahkan banyak orang merasa lebih praktis menggunakan layanan tersebut dibandingkan dengan harus menghadapi kemacetan atau antrean panjang. Sesuatu yang dulu dianggap malas kini lebih sering dipandang sebagai cara menghemat waktu.

3. Bekerja dari kafe berjam-jam

ilustrasi work from cafe
ilustrasi work from cafe (pexels.com/TBD Tuyên)

Ada masa ketika kafe identik dengan tempat makan atau berkumpul bersama teman. Orang yang duduk sendirian berjam-jam sambil menatap laptop sering menjadi pemandangan yang cukup jarang ditemukan. Saat itu, keberadaan seseorang yang bekerja terlalu lama di kafe bisa memunculkan pertanyaan.

Kini kondisi itu justru sangat umum. Banyak pekerja remote, freelancer, mahasiswa, hingga pebisnis memilih bekerja dari kafe karena suasananya dianggap lebih nyaman dibandingkan dengan berada di rumah. Selama membeli makanan atau minuman, keberadaan seseorang yang bekerja berjam-jam di satu meja sudah tidak lagi menarik perhatian. Fenomena ini bahkan ikut mengubah desain dan fasilitas banyak kafe di kota besar.

4. Mengobrol dengan orang yang tidak pernah ditemui langsung

ilustrasi Twitter
ilustrasi Twitter (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Dulu pertemanan sering dimulai dari sekolah, kampus, lingkungan rumah, atau tempat kerja. Mengenal seseorang tanpa pernah bertatap muka terasa tidak biasa dan sering dianggap berisiko. Banyak orang merasa hubungan seperti itu sulit dipercaya karena belum pernah melihat langsung siapa lawan bicaranya.

Saat ini, banyak hubungan sosial justru berawal dari internet. Ada yang berteman karena hobi yang sama, bergabung dalam komunitas digital, hingga bekerja sama dalam proyek tanpa pernah bertemu secara langsung. Tidak sedikit pula yang merasa lebih dekat dengan teman daring karena intensitas komunikasi yang tinggi. Hal yang dulu dianggap aneh kini menjadi bagian wajar dari cara manusia membangun relasi.

5. Menikmati waktu sendirian di ruang publik

ilustrasi makan sendiri
ilustrasi makan sendiri (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Beberapa tahun lalu, pergi ke bioskop sendirian, makan di restoran tanpa teman, atau duduk sendiri di kafe sering dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Banyak orang merasa harus memiliki teman agar terlihat normal di ruang publik. Ada tekanan sosial yang membuat seseorang seolah harus selalu datang bersama orang lain agar tidak terlihat kesepian.

Pandangan tersebut perlahan berubah. Kini semakin banyak orang yang nyaman menikmati aktivitas seorang diri tanpa merasa canggung. Makan sendirian, menonton film sendiri, bahkan staycation tanpa teman mulai dianggap sebagai bentuk me time yang menyenangkan. Di tengah kehidupan kota yang padat dan serba cepat, memiliki waktu untuk diri sendiri justru menjadi sesuatu yang semakin dihargai.

Kehidupan urban terus menciptakan kebiasaan baru yang tidak selalu langsung diterima oleh semua orang. Namun, seiring waktu, banyak fenomena urban yang dulu dianggap aneh kini jadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Bisa jadi, kebiasaan yang saat ini masih dianggap unik akan menjadi hal yang sepenuhnya normal beberapa tahun mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More