Gak Bisa Ikut Patungan Kurban? Ini 5 Cara Menolaknya dengan Halus

- Artikel membahas dilema seseorang yang tidak mampu ikut patungan kurban keluarga menjelang Idul Adha, serta pentingnya menjaga perasaan dan komunikasi agar tetap harmonis.
- Dijelaskan lima cara menolak ajakan patungan dengan sopan, mulai dari menjelaskan kondisi finansial hingga mengingatkan bahwa kurban bersifat sunah bagi yang mampu.
- Penulis menekankan pentingnya kejujuran, menyampaikan harapan bisa berkurban di masa depan, dan menjaga diri dari situasi tidak nyaman saat pembagian daging.
Mendekati Idul Adha pada 10 Dzulhijah dalam kalender Islam boleh jadi perasaanmu gak enak. Pasalnya, di keluargamu ada tradisi patungan kurban. Atau, hal tersebut baru akan dilakukan sekarang. Mayoritas saudara setuju bahkan menyambutnya dengan sangat antusias.
Rasanya menyenangkan bila sekeluarga bisa ramai-ramai berkurban. Walaupun di masjid atau musala juga ada program patungan 7 orang untuk kurban seekor sapi, iuran bareng keluarga lebih memuaskan. Kalian dapat memilih sendiri jenis, harga, serta bobot sapi yang diinginkan.
Nanti masih ditambah dengan beberapa ekor kambing dari saudara lainnya. Jadi ada banyak hewan kurban yang siap disembelih dari keluargamu. Namun, bagaimana jika dari segi keuangan kamu lagi tak memungkinkan buat ikut? Berikut cara menolaknya dari yang paling halus sampai lebih tegas.
1. Jelaskan kondisi finansialmu

Keuanganmu merupakan urusan yang sangat pribadi. Wajar kalau banyak orang termasuk keluarga besar gak paham dengan situasi finansialmu yang asli. Mereka hanya melihat pekerjaanmu cukup bagus. Kehidupanmu sepertinya stabil.
Padahal, aslinya boleh jadi kamu lagi agak kesulitan mengatur keuangan. Kebutuhanmu sedang banyak. Misal, Idul Adha berdekatan dengan tahun ajaran baru. Dirimu harus memprioritaskan bayar uang masuk sekolah anak yang tak sedikit.
Apalagi jika ada dua anak yang sama-sama harus masuk sekolah. Buat biaya keduanya saja belum aman apalagi kalau ditambah dengan patungan kurban. Dirimu yang lajang pun bisa sedang punya ekstra pengeluaran. Seperti untuk memperbaiki kendaraan yang tiap hari dipakai kerja.
2. Bila ada saudara yang memaksa, jelaskan hukum berkurban

Persoalannya, dalam keluarga kadang ada saja orang yang suka memaksa sesuai keinginannya. Tidak semua saudara bisa memahami serta menghargai penjelasanmu seperti dalam poin pertama. Malah makin dirimu menjelaskan, makin keras usahanya dalam mendesakmu.
Jangan habis kesabaran dalam menghadapinya. Coba cara terakhir dengan mengingatkannya tentang hukum berkurban. Berkurban tidak wajib seperti salat lima waktu. Hukum kurban ialah sunah yang sangat dianjurkan bagi orang yang mampu.
Kamu memang tidak kekurangan buat sekadar makan serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, belum ada dana untuk membeli hewan kurban. Jika saudara-saudaramu dalam keadaan lapang, silakan berkurban. Sementara kamu yang lagi gak longgar secara finansial tak perlu memaksakan diri.
3. Yakinkan kamu juga ingin sekali berkurban, tapi tidak bisa sekarang

Keinginanmu yang paling dalam dapat tak terbaca oleh orang lain. Termasuk soal harapan tahun depan bisa berkurban. Keluarga yang menilai pekerjaan dan pendapatanmu lumayan dapat mengira dirimu memang gak niat untuk berkurban.
Hindari kamu cuma senyum-senyum atau mengangguk-angguk tak jelas ketika saudara terus mendesak buat iuran kurban. Sikap seperti itu malah dapat memicu kesalahpahaman. Salah-salah dirimu dikira menyepelekan ibadah kurban.
Nyatakan dengan tegas dan jika perlu berulang bahwa kamu pun amat menginginkan bisa ikut berkurban. Bukan hanya patungan sepertujuh sapi atau beli sendiri seekor kambing. Seandainya keuanganmu sangat longgar malah ingin berkurban satu ekor sapi tergemuk. Namun, tampaknya sekarang kamu masih kudu bersabar dan berikhtiar buat mewujudkan keinginan tersebut.
4. Sampaikan harapanmu tahun depan bisa ikut patungan atau beli sendiri

Sebagai penutup obrolan, utarakan tentang harapanmu di tahun-tahun mendatang. Kamu berekspektasi Idul Adha tahun depan dapat gabung bareng keluarga untuk berkurban. Oleh sebab itu, minta pula keluarga untuk tak kapok mengajakmu patungan di tahun mendatang.
Siapa tahu saat itu rezekimu lebih bagus daripada tahun ini. Kalaupun tahun depan uangmu lagi-lagi belum cukup buat patungan sepertujuh sapi, barangkali dirimu dapat membeli seekor kambing. Biasanya harga seekor kambing lebih murah daripada harga sapi dibagi tujuh.
Saudara-saudara mungkin akan membantumu dengan mengaminkannya. Mereka juga tak mendesakmu lebih jauh buat ikut patungan di tahun ini. Jangan takut mengutarakan harapan baik seakan-akan itu malah dapat mengambat usahamu dalam mewujudkannya.
5. Mending gak datang kalau ada potensi nyinyir saat pembagian daging

Terakhir adalah langkah untuk menyelamatkan harga diri dan mentalmu. Seharusnya soal kurban memang tidak perlu sampai menjadi masalah dalam keluarga. Akan tetapi, bukan tak mungkin hal tersebut menimpamu.
Kamu mengenal watak saudara-saudaramu. Apalagi kalau ini bukan desakan iuran kurban yang pertama. Tahun-tahun sebelumnya juga begitu. Setiap kali ada anggota keluarga yang tidak bisa ikut berkurban pasti kena nyinyir.
Sebelum hari H saja sudah ada omongan yang gak enak. Apalagi nanti ketika hewan telah disembelih dan daging dibagikan. Ada sikap seolah-olah orang yang tak ikut patungan seharusnya tidak berhak mendapat daging atau ikut makan.
Jika seperti ini kebiasaan buruk dalam keluarga, mending dirimu tidak datang saat hari H. Terserah saja kamu bakal dikirimi daging atau gak. Apabila kamu ditelepon buat mengambil daging, segeralah pulang setelahnya.
Tradisi patungan kurban bareng keluarga sebenarnya bagus buat memperkuat tekad tiap orang. Seperti tambahan motivasi untuk berkurban. Akan tetapi, tidak perlu memaksakan diri apalagi sampai utang segala hanya untuk memenuhi ajakan tersebut.



















