Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gatekeeping vs. Snobisme: Apa Bedanya di Komunitas Pembaca?

4 min read
Gatekeeping vs. Snobisme: Apa Bedanya di Komunitas Pembaca?
ilustrasi gatekeeping vs snobisme dalam komunitas pembaca (pexels.com/Alexa Popovich)
  • Gatekeeping membatasi akses dan menganggap hanya orang tertentu pantas menikmati buku atau fandom, sedangkan snobisme berangkat dari rasa superior terhadap genre dan selera bacaan lain.
  • Saat buku populer viral, pelaku gatekeeping cenderung menyebut penggemar baru sebagai ikut tren, sementara snobisme meremehkan karya populer sebagai receh atau terlalu komersial.
  • Keduanya dapat mengisolasi pembaca pemula dan memicu rasa malu atas pilihan genre; gatekeeping menyerang pembaca, sedangkan snobisme menargetkan karya, penulis, atau genre.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat kamu lagi asyik cerita tentang novel rom-com yang baru selesai dibaca, kamu malah dapat komentar sinis sama sesama pembaca. Ada yang bilang bacaan kurang oke dibandingkan buku sastra klasik atau mereka malah menyembunyikan judul buku bagus biar gak bilang ‘pasaran’. Kalau pernah mengalami momen awkward ini, kamu mungkin sedang berhadapan dengan isu gatekeeping vs. snobisme dalam komunitas pembaca yang sering bikin suasana diskusi jadi kurang nyaman.

Singkatnya, gatekeeping itu kayak sikap sok membatasi siapa saja yang “pantas” menyukai suatu buku, sementara snobisme itu sifat sombong yang merasa selera bacaannya paling berkelas dan suka meremehkan bacaan orang lain. Perlahan tapi pasti, kamu mungkin jadi malas membagikan ulasan, kehilangan rasa percaya diri buat baca genre favoritmu, atau malah ikutan jadi hakim buat selera orang lain. Makanya, sebelum minder duluan, mending cari tahu lebih dalam perbedaan keduanya lewat ulasan singkat berikut ini, yuk! 


  1. 1. Motif utama di balik sikap mereka

    ilustrasi gatekeeping ingin menyembunyikan buku yang disukai mereka pada orang baru
    ilustrasi gatekeeping ingin menyembunyikan buku yang disukai mereka pada orang baru (pexels.com/Thirdman)

    Gatekeeping biasanya muncul karena si pembaca merasa buku atau penulis favoritnya adalah milik kelompoknya secara eksklusif dan gak boleh ternodai oleh penggemar baru. Mereka sengaja membatasi akses informasi atau membuat syarat tak tertulis tentang siapa yang "pantas" masuk dalam fandom tersebut agar komunitasnya tetap murni. Sebaliknya, snobisme lebih berfokus pada ego pribadi dan perasaan superior atas genre atau penulis tertentu. Si snob merasa bacaan yang berat, sastra pemenang penghargaan, atau non-fiksi filosofis selalu lebih baik secara kasta dibandingkan dengan genre populer yang menghibur.

    Contoh gampangnya, seorang pelaku gatekeeping mungkin bakal menolak memberi tahu judul buku indie yang dibacanya supaya buku itu gak viral masuk BookTok. Sementara itu, seorang snob justru akan pamer buku tebal bahasa Inggris yang dia baca sambil meremehkan teman yang asyik baca novel romansa metropop. Agak lucu kalau dipikir-pikir, karena bukannya tujuan utama membaca itu buat memperluas wawasan dan empati manusia?


  2. 2. Cara mereka merespons tren buku populer

    ilustrasi snobisme menganggap tren buku adalah hal yang receh
    ilustrasi snobisme menganggap tren buku adalah hal yang receh (pexels.com/cottonbro studio)

    Ketika sebuah buku tiba-tiba viral dan mendadak dibaca semua orang, reaksi dari kedua tipe ini bakal bertolak belakang secara teknis, lho. Si pelaku gatekeeping akan merasa kecolongan dan langsung melabeli penggemar baru sebagai fake fans atau sekadar ikut-ikutan tren sesaat (FOMO). Mereka gak suka kalau tempat nyaman mereka yang awalnya sepi tiba-tiba didatangi oleh massa yang ramai karena buku tersebut diadaptasi jadi film. 

    Di sisi lain, snobisme justru memandang tren tersebut sebagai sesuatu yang receh, murahan, atau terlalu komersial untuk disentuh oleh tangan mereka. Jangan sampai kamu ketularan energi negatif dari obrolan semacam ini. Membaca itu murni soal menikmati perjalanan cerita dan hiburan, bukan soal kompetisi siapa yang paling menderita baca buku susah.


  3. 3. Dampaknya terhadap para pembaca pemula

    ilustrasi gatekeeping tidak suka jika ada pembaca baru menyukai buku-buku yang dibaca oleh mereka
    ilustrasi gatekeeping tidak suka jika ada pembaca baru menyukai buku-buku yang dibaca oleh mereka (pexels.com/Yan Krukau)

    Baik gatekeeping maupun snobisme sama-sama punya daya hancur yang cukup parah buat mereka yang baru mau membangun hobi membaca. Gatekeeping membuat pembaca baru merasa diisolasi dan seolah-olah gak diterima masuk ke dalam sebuah klub rahasia kaum kutu buku. Sedangkan snobisme menciptakan rasa malu yang mendalam atau reading shame terhadap genre apa pun yang disukai oleh para pemula.

    Misalnya, kamu baru saja mencoba baca satu buku fiksi remaja dan merasa happy banget sampai mau menulis ulasannya di media sosial. Eh, tiba-tiba ada komentar snob yang menceramahi soal kualitas literasi dan tata bahasa, bikin kamu langsung down dan menghapus unggahan tersebut. Sedih banget, kan, padahal setiap orang pasti punya fase entry level masing-masing dalam mencerna sebuah bacaan sebelum beralih ke bacaan lain. Makanya, kalau kamu kebetulan udah baca lebih banyak buku, jadilah mentor yang meracuni buku dengan ramah, bukan malah jadi penjaga pintu yang judes, ya.


  4. 4. Target atau sasaran kritik mereka

    ilustrasi gatekeeping dan snobisme bikin capek pembaca lain
    ilustrasi gatekeeping dan snobisme bikin capek pembaca lain (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Perbedaan yang cukup mencolok juga terlihat dari siapa atau apa yang menjadi sasaran empuk kritikan tajam mereka sehari-hari. Gatekeeping biasanya menyerang langsung kepada individu atau kelompok pembacanya, mempertanyakan seberapa dalam dedikasi mereka terhadap suatu buku. Sementara snobisme lebih suka menyerang karya itu sendiri, penulisnya, atau kualitas genre secara keseluruhan tanpa peduli siapa pembacanya.

    Dua-duanya bikin capek hati dan sama sekali gak memberikan kontribusi positif buat budaya literasi kamu yang masih butuh banyak dorongan ini. Daripada pusing mendengarkan omongan mereka, mending kamu fokus seduh kopi atau teh hangat, rebahan di posisi ternyaman, lalu buka halaman buku selanjutnya.

    Memahami perbedaan gatekeeping vs. snobisme dalam komunitas pembaca bikin kamu makin sadar betapa pentingnya menciptakan ruang diskusi literasi yang aman dan inklusif. Gak perlu lagi merasa minder, insecure, atau membatasi diri, karena setiap buku diciptakan dengan target pembacanya masing-masing. Teruslah membaca apa pun genre yang bikin hatimu senang hari ini, dan jadilah pembaca suportif yang selalu merangkul sesama, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More