Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hidup Sederhana Bukan Berarti Membosankan: Ini Cara Menemukan Serunya
Ilustrasi bahagia (pexels.com/Whicdhemein One)

Hidup sederhana sering disalahartikan sebagai hidup tanpa kesenangan. Seolah-olah ketika tidak sering belanja, tidak rutin pergi ke tempat mahal, tidak mengikuti tren, atau tidak memiliki banyak barang, kehidupan otomatis menjadi membosankan. Padahal, sederhana bukan berarti menghilangkan semua hal yang menyenangkan, melainkan memilih dengan lebih sadar mana yang memang memberikan nilai dalam hidup.

Menariknya, gaya hidup sederhana justru menunjukkan hubungan positif dengan kesejahteraan. Jadi, hidup sederhana bukan tentang memiliki sesedikit mungkin, tetapi tentang memberi lebih banyak ruang untuk hal-hal yang memang penting.

1. Temukan kesenangan dari hal-hal kecil

Ilustrasi bersantai di rumah (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Keseruan dalam hidup tidak selalu harus berbentuk liburan jauh, makan di restoran mahal, atau membeli barang baru. Menyeduh kopi di pagi hari, berjalan kaki sambil mendengarkan musik, membaca buku, memasak makanan favorit, merawat tanaman, atau mengobrol dengan teman bisa menjadi sumber kesenangan yang sederhana.

Justru karena tidak membutuhkan banyak persiapan, aktivitas tersebut bisa dilakukan lebih sering. Jadi kamu juga tidak perlu menunggu punya banyak uang untuk menikmati hidup. Coba buat daftar "kesenangan murah" yang benar-benar kamu sukai.

Bisa berupa membeli jajanan favorit, menonton film lama, piknik sederhana, mencoba resep baru, atau menghabiskan sore di taman. Ketika mulai memperhatikan hal-hal kecil tersebut, hidup sederhana justru bisa terasa lebih kaya.

2. Kurangi barang, tambah ruang untuk aktivitas

Ilustrasi bersantai di rumah (unsplash.com/Photo by Marcos Paulo Prado)

Salah satu bagian dari hidup sederhana adalah tidak membiarkan barang mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan. Bukan berarti semua benda harus dibuang. Kamu hanya perlu lebih selektif terhadap barang yang benar-benar digunakan dan memberikan manfaat.

Semakin banyak barang yang dimiliki, semakin banyak pula yang harus dirawat, disimpan, dibersihkan, dan dipikirkan. Camille Preston, PhD, seorang psikolog yang menulis tentang kesehatan mental, menjelaskan konsep "less is more" sebagai kesempatan untuk menyederhanakan kehidupan.

"Entah kamu menganggapnya sebagai sebuah nilai, pola pikir, atau sebuah oksimoron, frasa 'less is more' membawa pesan yang mendalam," jelasnya dalam Psychology Today.

"Menciptakan ruang lebih bagi waktu, energi, dan perhatian kamu meningkatkan fokus dan kelancaran dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dapat diterapkan pada barang-barang milikmu, jadwal, kebutuhan, bahkan cara berkomunikasi," tambahnya.

3. Ganti kebiasaan belanja dengan mencari pengalaman

Ilustrasi bersantai dengan bersepeda (unsplash.com/Photo by Bobby)

Hidup sederhana bukan berarti tidak boleh mengeluarkan uang. Yang bisa diubah adalah cara menggunakannya. Daripada selalu membeli barang baru ketika bosan, kamu bisa sesekali menggunakan uang untuk pengalaman seperti mencoba kelas memasak, pergi ke museum, menonton pertunjukan, piknik, traveling singkat, atau makan bersama orang terdekat.

"Pengalaman merupakan bagian dari diri kita yang lebih besar dibandingkan dengan harta benda. Kamu mungkin sangat menyukai barang-barangmu. Kamu bahkan bisa saja merasa bahwa sebagian dari identitasmu terkait dengan benda-benda tersebut, namun bagaimanapun juga, benda-benda itu tetap terpisah dari dirimu. Sebaliknya, pengalaman benar-benar menjadi bagian dari dirimu. Kita adalah keseluruhan dari pengalaman-pengalaman kita," jelas psikolog Thomas Gilovich, profesor psikologi di Cornell University dikutip dari The Hour.

Hal ini membuat hidup sederhana tidak identik dengan kehidupan yang monoton. Kamu justru bisa memperbanyak pengalaman tanpa harus menambah banyak barang. Misalnya, daripada membeli dekorasi baru setiap bulan, kamu bisa mengajak teman melakukan piknik. Daripada membeli gadget hanya karena bosan, kamu bisa mencoba hobi fotografi menggunakan perangkat yang sudah dimiliki.

4. Jangan jadikan hidup sederhana sebagai perlombaan baru

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Munis Asadov)

Ada satu jebakan yang perlu dihindari: menjadikan hidup sederhana sebagai standar baru yang harus dicapai dengan sempurna. Setelah mengenal minimalisme, seseorang bisa merasa harus memiliki rumah superminimalis, pakaian dalam jumlah tertentu, atau membuang sebanyak mungkin barang. Padahal, kalau dilakukan dengan tekanan, hidup sederhana justru bisa menjadi sumber stres baru.

Studi sistematis mengenai minimalism dan voluntary simplicity menunjukkan bahwa manfaat gaya hidup sederhana tidak hanya berasal dari jumlah barang yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan memprioritaskan nilai pribadi, mengendalikan keinginan konsumsi, dan memenuhi kebutuhan psikologis. Artinya, tidak ada satu standar jumlah barang yang berlaku untuk semua orang.

"Voluntary simplicity atau kesederhanaan sukarela-yang juga dikenal sebagai minimalisme-merupakan gaya hidup yang berfokus pada pengurangan konsumsi dan segala bentuk kelebihan dalam hidup, sehingga individu dapat lebih mengutamakan nilai-nilai yang mereka yakini," demikian laporan studi Minimalism, voluntary simplicity, and well-being: A systematic review of the empirical literature dalam Taylor & Francis Online.

5. Isi kehidupan dengan hubungan dan aktivitas yang bermakna

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Photo by Labskiii)

Setelah mengurangi hal-hal yang tidak penting, pertanyaan berikutnya adalah: ruang tersebut mau diisi dengan apa? Di sinilah hidup sederhana bisa menjadi lebih menyenangkan. Waktu dan energi yang sebelumnya habis untuk berbelanja, merawat terlalu banyak barang, atau mengejar gaya hidup tertentu dapat dialihkan kepada hubungan, kreativitas, kesehatan, atau kegiatan yang benar-benar kamu sukai.

Dalam penelitian tentang voluntary simplicity tadi, para peneliti menemukan bahwa gaya hidup ini bukan hanya berkaitan dengan mengurangi konsumsi. Konsepnya juga mencakup pertumbuhan pribadi, kesadaran ekologis, skala kehidupan yang lebih manusiawi, serta keinginan memiliki kontrol lebih besar terhadap hidup.

"Kami meninjau literatur empiris untuk mengidentifikasi studi yang mengeksplorasi hubungan antara voluntary simplicity dan kesejahteraan. Sebanyak dua puluh tiga studi empiris berhasil diidentifikasi. Secara keseluruhan, ditemukan adanya hubungan positif yang konsisten antara voluntary simplicity dan kesejahteraan," demikian laporannya.

Hidup sederhana bukan tentang membuat hidup menjadi sekecil mungkin. Sederhana berarti mengetahui apa yang cukup, lalu menggunakan waktu, uang, energi, dan perhatian untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Dengan mengurangi yang tidak penting, kamu mungkin menemukan lebih banyak ruang untuk menikmati hal-hal kecil yang selama ini sering terlewat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article