"Model ini (konsep Total Cost of Ownership) memungkinkan penghitungan biaya yang ditanggung pelanggan, mulai dari tahap pencarian dan pemilihan hingga akhir masa pakai produk," dikutip dari studi International Journal of Production Economics ScienceDirect.
Beli Murah atau Beli Awet? Begini Cara Memilih Barang Secara Frugal

Ketika ingin berhemat, harga murah sering menjadi hal pertama yang dilihat. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan pakaian, peralatan rumah, atau barang elektronik dengan harga miring. Namun, harga yang murah belum tentu membuat pengeluaran menjadi lebih kecil jika barang tersebut cepat rusak dan harus berkali-kali diganti.
Di sinilah prinsip frugal living perlu dipahami dengan lebih tepat. Hidup frugal bukan berarti selalu memilih barang dengan harga terendah, melainkan mencari nilai terbaik dari uang yang dikeluarkan.
1. Jangan hanya melihat harga di label

ilustrasi belanja online bersama teman (pexels.com/Tim Douglas) Harga yang terlihat di rak atau marketplace sebenarnya baru merupakan biaya awal. Ketika memilih sebuah barang, kamu juga perlu mempertimbangkan berapa lama barang tersebut bisa digunakan, apakah membutuhkan biaya perawatan, seberapa mudah mendapatkan suku cadang, dan berapa besar kemungkinan harus menggantinya.
Dengan kata lain, harga beli bukan satu-satunya angka yang penting. Misalnya, kamu menemukan dua tas seharga Rp150 ribu dan Rp400 ribu. Tas pertama hanya bertahan satu tahun, sementara tas kedua bisa digunakan selama empat tahun. Secara sederhana, biaya penggunaan tas pertama sekitar Rp150 ribu per tahun, sedangkan tas kedua sekitar Rp100 ribu per tahun. Jadi, barang yang lebih mahal di awal belum tentu lebih mahal jika dihitung berdasarkan masa pakainya.
2. Hitung harga per pemakaian, bukan sekadar harga beli

ilustrasi belanja impulsif (unsplash.com/charlesdeluvio) Salah satu cara sederhana menerapkan prinsip frugal adalah menghitung cost per use atau biaya setiap kali barang digunakan. Metode ini sangat berguna untuk barang yang akan dipakai berkali-kali, seperti sepatu, tas, jaket, peralatan dapur, hingga elektronik tertentu.
"Makalah ini menguraikan tingkat kepentingan yang diberikan konsumen terhadap enam faktor pembelian (tampilan, merek, durasi garansi, masa pakai, harga, dan keandalan) pada delapan belas kategori barang tahan lama. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar konsumen secara konsisten mengutamakan faktor masa pakai dan keandalan saat membeli produk baru," dikutip dalam studi Consumer Perspectives on Longevity and Reliability: A National Study of Purchasing Factors Across Eighteen Product Categories ScienceDirect.
Artinya, mempertimbangkan berapa lama barang dapat digunakan bukan sekadar strategi hemat pribadi, tetapi juga bagian dari pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. Jadi, jangan buru-buru menganggap barang murah sebagai pilihan paling frugal. Yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang kamu dapatkan dari uang tersebut.
3. Perhatikan daya tahan dan kemudahan memperbaiki

ilustrasi belanja produk rumah tangga (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Barang yang awet biasanya tidak hanya memiliki material yang lebih baik, tetapi juga dapat diperbaiki ketika mengalami kerusakan kecil. Ini penting karena kerusakan satu komponen tidak selalu berarti seluruh barang harus dibuang dan diganti baru.
Jadi, ketika membeli barang, jangan hanya bertanya “berapa lama garansinya?”, tetapi juga “kalau rusak, bisa diperbaiki atau tidak?” Ini menunjukkan bahwa frugal bukan hanya soal membeli baru dengan harga murah, tetapi juga mempertimbangkan umur pakai, perbaikan, penggunaan kembali, dan barang bekas.
4. Jangan juga terjebak anggapan barang mahal pasti lebih awet

ilustrasi belanja (pexels.com/Tim Douglas) Memilih barang yang lebih mahal juga bukan berarti otomatis mengambil keputusan yang lebih hemat. Harga tinggi bisa mencerminkan kualitas, tetapi bisa pula berasal dari merek, desain, fitur tambahan, atau faktor lain yang belum tentu kamu perlukan. Karena itu, prinsip frugal tidak sama dengan “selalu beli yang mahal”.
Jadi, jangan menggunakan harga sebagai satu-satunya indikator kualitas. Periksa material, konstruksi, ulasan dari pengguna dalam jangka panjang, ketersediaan suku cadang, garansi, layanan purnajual, serta reputasi produk.
Untuk barang yang jarang digunakan, pilihan murah yang cukup baik mungkin justru paling masuk akal. Sebaliknya, untuk barang yang digunakan setiap hari, membayar lebih demi kualitas dan daya tahan bisa lebih rasional.
5. Pilih barang sesuai pola hidup, bukan sekadar tren

ilustrasi belanja impulsif (unsplash.com/Julia Андрэй) Barang terbaik untuk orang lain belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk kamu. Membeli produk berkualitas tinggi tetapi jarang digunakan tetap bisa menjadi pemborosan. Prinsip frugal justru meminta kamu menyesuaikan kualitas, harga, dan daya tahan dengan seberapa sering serta seberapa lama barang tersebut benar-benar akan digunakan. Sebelum checkout, coba gunakan lima pertanyaan sederhana:
- "Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?"
- "Seberapa sering akan digunakan?"
- "Berapa lama kira-kira bisa bertahan?"
- "Apakah bisa diperbaiki?"
- "Berapa biaya sebenarnya selama masa pemakaian?"
Jika sebuah barang murah memenuhi kebutuhan dan cukup awet, pilih yang murah. Jika barang tersebut akan digunakan setiap hari dan versi yang lebih mahal terbukti jauh lebih tahan lama, membayar lebih di awal bisa menjadi keputusan yang lebih frugal.
Hidup frugal bukan kompetisi untuk mendapatkan barang dengan harga paling murah. Ketika harus memilih antara murah dan awet, jangan hanya melihat angka di label harga. Lihat masa pakai, biaya perawatan, kemampuan diperbaiki, frekuensi penggunaan, dan nilai yang diberikan barang tersebut. Dengan begitu, keputusan belanja menjadi lebih rasional, hemat, dan sesuai dengan kebutuhanmu.




















