Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma soal Barang, Ini Alasan Orang Rela Antre Lama

4 min read
Bukan Cuma soal Barang, Ini Alasan Orang Rela Antre Lama
ilustrasi antre (pexels.com/Cátia Matos)
  • Antrean panjang dapat memicu social proof: banyaknya orang yang menunggu membuat produk terlihat lebih menarik dan bernilai, sehingga rasa penasaran calon pembeli meningkat.
  • Waktu tunggu yang sudah terlanjur dihabiskan membuat orang enggan keluar dari barisan; penelitian menunjukkan penantian lebih lama dapat mendorong konsumen membeli lebih banyak.
  • FOMO turut mendorong orang ikut mengantre ketika produk ramai dibicarakan teman dan media sosial, karena mereka tidak ingin melewatkan pengalaman yang dinikmati banyak orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah lihat antrean panjang di depan toko lalu kamu ikut penasaran? Padahal, barang atau makanan yang dicari mungkin tersedia di tempat lain tanpa harus menunggu selama itu. Fenomena ini sering muncul ketika sebuah produk sedang viral, sebuah kafe yang baru ramai dibicarakan, atau ada promo yang membuat orang berdatangan. Orang rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan berdiri berjam-jam demi mendapatkan sesuatu yang sebenarnya punya alternatif. 

Ternyata, keputusan untuk mengantre tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Ada juga pengaruh dari orang-orang di sekitar, waktu yang sudah terlanjur kita habiskan, sampai seberapa berharga sesuatu yang sedang kita tunggu. Jadi, sebenarnya apa yang membuat kita rela bertahan dalam antrean yang panjang?

  1. 1. Antrean panjang membuat kita mengira barangnya memang layak

    ilustrasi antre
    ilustrasi antre (pexels.com/Kate Trifo)

    Mungkin kamu pernah melewati dua kedai yang menjual menu serupa. Namun satu kedai terlihat sepi, sementara kedai lainnya dipenuhi orang sampai mengular ke trotoar. Tanpa sadar, perhatian biasanya lebih tertuju pada kedai yang ramai karena banyaknya orang terlihat seperti bukti bahwa ada sesuatu yang menarik di sana.

    Fenomena ini berkaitan dengan social proof, yaitu kecenderungan mengikuti tindakan orang lain ketika kita belum yakin harus memilih apa. Robert Cialdini menjelaskan bahwa kita cenderung menganggap sebuah perilaku semakin benar ketika melihat banyak orang lain melakukannya.

    “Dengan kata lain, kita cenderung berpikir bahwa jika semua orang melakukannya, aku juga seharusnya melakukannya,” katanya, dikutip dari Psychology Today.

    Makanya, antrean bukan cuma menunjukkan banyaknya pembeli, tetapi juga bisa membentuk persepsi tentang nilai sebuah produk. Kita awalnya mungkin tidak terlalu tertarik, tetapi setelah melihat orang lain rela menunggu, rasa penasaran pun ikut muncul.

  2. 2. Waktu yang sudah dihabiskan bikin kita susah menyerah

    ilustrasi orang-orang yang antre membeli street food
    ilustrasi orang-orang yang antre membeli street food (pexels.com/Jimmy Liao)

    Masalahnya, terkadang ketika sudah berdiri di barisan panjang, meninggalkan antrean terasa berat. Lima menit pertama mungkin masih santai, tetapi setelah 30 menit, rasanya sayang kalau tiba-tiba pergi. Kita mulai berpikir bahwa semua waktu yang sudah dihabiskan akan sia-sia kalau tidak jadi membeli.

    Sebuah penelitian oleh John Cui, Chris Hydock, dan Sezer Ülkü dari Georgetown University McDonough School of Business yang dibahas dalam Psychology Today menemukan bahwa semakin lama seseorang menunggu sebelum membuat keputusan konsumsi, semakin banyak pula yang cenderung mereka beli. Jika setelah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menunggu mereka hanya membeli sedikit, waktu tunggu yang panjang itu akan terasa sia-sia.

    Jadi ketika berdiri cukup lama dalam antrean, yang kita kejar bukan cuma barang atau makanan yang ada di ujung barisan. Kita juga ingin memastikan waktu yang sudah terpakai terasa ada hasilnya. Makanya, pergi setelah antre setengah jam bisa terasa jauh lebih menyebalkan daripada pergi lima menit setelah masuk antrean.

  3. 3. Antre bisa bikin kita merasa jadi bagian dari sesuatu yang sedang ramai

    ilustrasi antre
    ilustrasi antre (pexels.com/Ayyeee Ayyeee)

    Kadang alasan kita ikut antre bukan karena benar-benar membutuhkan barang tersebut. Kita hanya melihat produk itu sedang ramai dibicarakan, teman-teman sudah mencoba, atau media sosial dipenuhi orang yang mengunggah pengalamannya. Lama-lama muncul pikiran sederhana, “Kok semua orang sudah coba, aku belum?” Dari sinilah rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) bisa ikut mendorong keputusan untuk ikut antre.

    Dalam Psychology Today, Sebastian Ocklenburg, Ph.D. menjelaskan bahwa FOMO menggambarkan perasaan mengganjal bahwa orang lain mungkin sedang menikmati sesuatu yang seru, sementara kita justru melewatkannya.  Perasaan seperti ini bisa membuat sesuatu yang tadinya tidak terlalu penting tiba-tiba terasa perlu dicoba.

    Apalagi ketika hal tersebut sedang ramai dibagikan dan dibicarakan banyak orang. Akhirnya, kita ikut berdiri di antrean bukan semata-mata karena produknya, tetapi karena tidak ingin cuma menjadi penonton dari sesuatu yang sedang ramai dinikmati orang lain.

    Kalau suatu hari kamu tiba-tiba berdiri di antrean panjang, kamu gak perlu merasa itu keputusan yang aneh. Bisa jadi kamu memang penasaran, sudah terlanjur menunggu, atau sekadar gak mau ketinggalan sesuatu yang lagi ramai. Yang penting, jangan sampai setelah sampai depan kamu malah bingung kenapa kamu ikut antre.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More