Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Journaling Bikin Bingung? Ini 5 Alasan Pikiran Terlalu Penuh
ilustrasi antusiasme saat menulis (pexels.com/karolina-grabowska)
  • Journaling bisa terasa membingungkan saat pikiran muncul acak dan terlalu banyak hal ingin ditulis sekaligus, sehingga sulit menentukan titik awal.
  • Kesulitan juga muncul ketika seseorang mengejar jawaban, menyensor kejujuran, atau merasa harus menulis sempurna demi menghadapi emosinya.
  • Journaling tidak wajib dilakukan setiap hari atau dengan alat rumit; catatan sederhana tentang beberapa pikiran dapat menjadi ruang refleksi tanpa tekanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Journaling adalah salah satu kegiatan yang biasa dilakukan orang untuk mengurangi beban pikiran. Tinggal ambil buku catatan, tulis apa yang dirasakan, lalu selesai. Namun kenyataannya, bagi orang yang punya banyak pikiran, membuka halaman kosong justru bisa terasa membingungkan.

Mau menulis apa? Harus mulai dari mana? Belum selesai memikirkan satu hal, sudah muncul banyak hal lain yang memenuhi kepala. Kondisi ini membuat journaling terasa sulit. Padahal, salah satu tujuannya adalah membantu kamu menuangkan isi kepala agar pikiran tenang. Kalau journaling terasa sulit, mungkin masalahnya bukan pada teknik menulisnya, melainkan pada ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kegiatan tersebut.

1. Terlalu banyak hal yang ingin ditulis sekaligus

ilustrasi menulis agenda (pexels.com/Vlada Karpovich)

Salah satu alasan journaling terasa sulit adalah karena isi kepala tak datang secara berurutan. Pikiran bisa muncul secara acak. Pagi tadi kamu memikirkan pekerjaan, lalu teringat percakapan dengan teman, kemudian memikirkan tagihan, masa depan, hubungan, sampai sesuatu yang terjadi bertahun-tahun lalu.

Ketika semua ingin ditulis sekaligus, kamu tidak tahu harus memulai dari mana. Padahal, journaling tidak harus mengikuti urutan yang rapi. Kamu gak lagi nulis novel yang membutuhkan alur cerita jelas. Kalau ada lima hal yang memenuhi pikiran, tuliskan saja semuanya tanpa memikirkan mana yang paling penting. Setelah itu, biarkan tulisan mengalir.

2. Kamu terlalu sibuk mencari jawaban

ilustrasi berpikir (pexels.com/Vanessa Garcia)

Orang yang banyak pikiran sering tak ingin menuliskan masalah, tapi langsung menemukan solusinya. Akibatnya, journaling berubah jadi ajang mencari pemecahan masalah. Contohnya, kamu sedang cemas tentang pekerjaan. Alih-alih hanya menuliskan perasaan tersebut, pikiranmu langsung bergerak mencari berbagai kemungkinan.

Akhirnya, satu halaman jurnal justru dipenuhi pertanyaan baru. Padahal, journaling gak selalu harus menghasilkan jawaban. Terkadang, menuliskan "Aku sedang takut kehilangan pekerjaan" saja sudah cukup. Dengan mengakui apa yang sedang kamu rasakan, kamu memberi ruang bagi emosi tersebut tanpa harus buru-buru menyelesaikannya.

3. Takut menulis sesuatu yang terlalu jujur

ilustrasi journaling (pexels.com/Ron Lach)

Ada kalanya journaling terasa sulit karena kamu tahu kalau menulis dengan jujur berarti harus berhadapan dengan pikiran sendiri. Mungkin kamu sebenarnya kecewa kepada seseorang, tapi selama ini berusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Menuliskannya di jurnal membuat perasaan tersebut menjadi lebih nyata.

Karena itu, sebagian orang akhirnya menyensor diri sendiri saat journaling. Kalimat yang muncul di kepala langsung diperbaiki agar terdengar lebih masuk akal atau lebih baik. Padahal, jurnal pribadi seharusnya menjadi salah satu tempat di mana kamu tidak perlu terlihat baik-baik saja. Dengan menuliskannya, kamu justru punya kesempatan untuk memahami dari mana perasaan tersebut muncul.

4. Menganggap journaling harus dilakukan setiap hari

ilustrasi journaling (pexels.com/cottonbro)

Media sosial membuat journaling terlihat harus dilakukan setiap hari. Ada jurnal dengan halaman cantik, gratitude list, mood tracker, hingga berbagai template yang membuat aktivitas ini terlihat sangat terstruktur. Gak ada yang salah dengan rutinitas tersebut. Namun, masalah muncul ketika kamu menganggap journaling harus dilakukan setiap hari.

Kalau melewatkan beberapa hari, kamu merasa gagal. Akhirnya, journaling yang seharusnya menjadi ruang untuk mengurangi beban pikiran justru berubah menjadi sumber tekanan baru. Padahal, tidak ada aturan harus menulis setiap hari. Kamu bisa menulis ketika pikiran sedang penuh, setelah mengalami sesuatu yang penting, ketika membutuhkan ruang untuk refleksi, atau bahkan saat sedang merasa baik-baik saja, lho!

5. Memulai dengan cara yang terlalu rumit

ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/cottonbro studio)

Journaling gak harus dimulai dengan membeli notebook mahal, pulpen khusus, atau mengikuti template yang memiliki banyak pertanyaan. Kalau pikiranmu sudah penuh, sistem journaling yang terlalu rumit justru bisa membuatmu semakin malas memulai. Cobalah membuatnya sesederhana mungkin.

Ambil kertas atau aplikasi catatan di ponsel, lalu tuliskan tiga hal yang sedang memenuhi pikiranmu. Tidak perlu membuat paragraf panjang. Kamu juga bisa menggunakan beberapa pertanyaan sederhana. Pertanyaan seperti ini membantu mempersempit ruang berpikir sehingga kamu tidak perlu menghadapi seluruh isi kepala sekaligus.

Journaling terasa sulit bagi orang yang terlalu banyak pikiran bukan karena gak bisa menulis. Justru terlalu banyak hal yang ada di kepala bisa membuat proses menulis jadi membingungkan. Jadi, kapan terakhir kali kamu menulis jurnal?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article