Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenali 5 Tanda Orang dengan Self-Esteem Sehat dan Stabil Menurut Ahli

5 min read
Kenali 5 Tanda Orang dengan Self-Esteem Sehat dan Stabil Menurut Ahli
ilustrasi self esteem, percaya diri, bercermin (magnific.com/senivpetro)
  • Psikolog Marisa G. Franco menyebut self-esteem sehat ditandai kemampuan menghargai kebutuhan orang lain, menjaga batasan, dan mencari solusi yang tidak merugikan pihak lain.
  • Orang dengan self-esteem stabil mampu mengelola marah, sedih, atau kecewa tanpa melampiaskan atau menarik diri sepenuhnya, serta berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab.
  • Self-esteem aman mendorong seseorang tampil autentik tanpa bergantung pada validasi, sekaligus mengakui rasa insecure tanpa menganggapnya sebagai bukti bahwa dirinya rendah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya self-esteem sehat gak selalu berarti kamu merasa hebat, percaya diri setiap saat, atau selalu yakin dengan kemampuan sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan self-esteem sehat justru bisa terlihat dari cara mereka memperlakukan orang lain dan menghadapi kekurangan diri sendiri.

Psikolog Marisa G. Franco menjelaskan bahwa orang dengan self-esteem yang benar-benar aman atau secure biasanya gak perlu terus-menerus membuktikan bahwa dirinya lebih unggul dari orang lain. Mereka juga mampu menerima dirinya secara lebih utuh, termasuk ketika sedang merasa cemas, marah, atau gak yakin pada diri sendiri. Lantas, seperti apa tanda-tandanya?

  1. 1. Mempertimbangkan kebutuhan orang lain

    ilustrasi birthday cake (pexels.com/Polina Tankilevitch)
    ilustrasi birthday cake (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Orang dengan self-esteem sehat biasanya gak merasa perlu memenangkan setiap situasi. Franco menjelaskan bahwa mereka cenderung melihat dirinya sendiri sekaligus orang lain sebagai pribadi yang sama-sama berharga. Karena itu, mereka lebih mencari situasi win-win daripada mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan orang lain.

    Sikap tersebut bisa terlihat dari hal-hal sederhana dalam hubungan sehari-hari. Misalnya, kamu sedang sangat sibuk sehingga gak bisa datang ke acara ulang tahun teman, tapi tetap mengakui kalau temanmu mungkin merasa kecewa. Kamu gak harus selalu memenuhi semua keinginan orang lain, tapi tetap bisa menunjukkan empati dan mempertimbangkan perasaan mereka.

    Sikap ini juga berbeda dari keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain. Self-esteem sehat membuatmu tetap bisa memiliki batasan tanpa harus merendahkan kebutuhan orang lain. Jadi, mengatakan "gak bisa" tetap mungkin dilakukan sambil menunjukkan rasa hormat dan kepedulian.

  2. 2. Mampu mengatur emosi

    ilustrasi bad mood
    ilustrasi bad mood (magnific.com/rawpixel.com)

    Self-esteem yang sehat juga bisa terlihat dari cara kamu menghadapi emosi yang gak nyaman. Menurut Franco, orang yang merasa aman dengan dirinya cenderung gak gampang kewalahan oleh emosi sampai akhirnya melampiaskannya kepada orang lain atau justru menarik diri sepenuhnya. Mereka tetap bisa marah, kecewa, atau sedih, tapi emosi tersebut gak otomatis mengendalikan seluruh perilakunya.

    Hal ini sejalan dengan penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology yang menunjukkan adanya hubungan antara keamanan dalam relasi dan kondisi kesehatan mental yang lebih positif. Meta-analisis tersebut mencakup 245 sampel dengan total 79.722 partisipan dan menemukan bahwa kecemasan maupun penghindaran dalam keterikatan berkaitan dengan lebih banyak dampak mental negatif serta lebih rendahnya aspek positif seperti kepuasan hidup dan self-esteem.

    Karena itu, orang dengan self-esteem stabil bukan berarti gak pernah mengalami bad mood. Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk tetap berpijak ketika emosi sedang naik turun. Sikap yang lebih tenang ini juga bisa membuat orang di sekitarnya merasa lebih aman ketika berinteraksi.

  3. 3. Mengekspresikan diri secara autentik

    ilustrasi pink color outfit, stylish, ootd, warna pink, ceria, percaya diri, tersenyum, bahagia
    ilustrasi pink color outfit, stylish, ootd, warna pink, ceria, percaya diri, tersenyum, bahagia (magnific.com/halayalex)

    Ciri berikutnya adalah kamu gak terus-menerus bertanya apakah dirimu sudah cukup baik di mata orang lain. Franco menjelaskan bahwa orang dengan self-esteem yang aman lebih banyak memikirkan bagaimana dirinya ingin mengekspresikan diri dibandingkan sibuk mencari validasi dari orang lain. Mereka memahami bahwa gak semua orang akan menyukai dirinya dan hal tersebut tetap bisa diterima.

    Kamu bisa melihatnya dari pilihan yang terlihat sederhana, seperti gaya berpakaian, hobi, selera musik, sampai cara menghabiskan waktu. Ketika pilihan tersebut memang sesuai dengan dirinya, seseorang gak selalu merasa harus mengikuti tren agar mendapatkan penerimaan sosial. Artinya, menjadi berbeda gak otomatis dianggap sebagai ancaman terhadap harga dirinya.

    Konsep kestabilan self-esteem juga sudah lama dibahas dalam penelitian psikologi. Menurut penelitian dalam Journal of Personality, kestabilan self-esteem memiliki nilai prediktif terhadap fungsi psikologis di luar sekadar seberapa tinggi tingkat self-esteem seseorang. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa kestabilan dapat membantu membedakan self-esteem tinggi yang lebih aman dari bentuk self-esteem tinggi yang rapuh.

  4. 4. Berani mengakui kesalahan

    ilustrasi minta maaf (freepik.com/user18526052)
    ilustrasi minta maaf (freepik.com/user18526052)

    Orang dengan self-esteem sehat gak menganggap sebuah kesalahan sebagai bukti bahwa dirinya adalah orang yang buruk. Franco menjelaskan bahwa ketika seseorang bisa memisahkan kesalahan dari nilai dirinya sebagai manusia, ia akan lebih mudah mengakui kekurangan dan bertanggung jawab atas dampaknya kepada orang lain. Jadi, meminta maaf gak terasa seperti penghinaan terhadap harga dirinya.

    Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini bisa terlihat ketika kamu melakukan kesalahan di kantor atau membuat teman kecewa. Alih-alih langsung mencari alasan, kamu bisa mengakui bagian yang memang menjadi tanggung jawabmu. Setelah itu, kamu dapat memikirkan cara memperbaiki situasi tanpa terus menghukum diri sendiri.

    Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology juga menemukan bahwa kestabilan self-esteem berkaitan dengan kecenderungan mengalami kemarahan dan permusuhan. Studi tersebut menunjukkan bahwa orang dengan self-esteem tinggi yang stabil memiliki kecenderungan kemarahan dan salah satu aspek permusuhan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang self-esteem-nya tinggi tapi gak stabil.

  5. 5. Tetap mengakui saat merasa insecure

    ilustrasi presentasi (pexels.com/RODNAE Productions)
    ilustrasi presentasi (pexels.com/RODNAE Productions)

    Self-esteem sehat ternyata gak berarti kamu harus selalu merasa percaya diri, lho. Franco menjelaskan bahwa orang yang merasa aman dengan dirinya tetap bisa mengakui ketika sedang cemas, marah, rentan, atau merasa gak yakin. Mereka gak langsung menganggap emosi tersebut sebagai bukti bahwa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain.

    Misalnya, kamu merasa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang. Perasaan tersebut gak harus membuatmu menyimpulkan bahwa kamu adalah orang yang gak mampu. Kamu bisa mengakui rasa gugup tersebut, memahami penyebabnya, lalu tetap menjalani situasi yang sedang dihadapi.

    Pandangan ini penting karena self-esteem gak hanya berkaitan dengan seberapa tinggi kamu menilai diri sendiri, tapi juga seberapa stabil penilaian tersebut ketika situasi berubah. Penelitian dalam Journal of Personality menjelaskan bahwa kestabilan self-esteem merupakan aspek penting dalam fungsi psikologis dan dapat membantu memahami perbedaan antara self-esteem tinggi yang aman dengan self-esteem tinggi yang rapuh.

    Pada akhirnya, self-esteem sehat gak harus terlihat dari seseorang yang paling percaya diri di ruangan. Tanda-tandanya justru bisa muncul lewat hal sederhana, seperti mampu menghargai orang lain, mengelola emosi, menjadi diri sendiri, mengakui kesalahan, dan menerima rasa insecure.

    Kamu juga gak perlu menunggu sampai merasa percaya diri sepenuhnya untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Perlahan mengenali emosi, menerima kekurangan, dan berhenti mengukur nilai diri dari pencapaian atau penilaian orang lain bisa menjadi bagian dari proses tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More