ilustrasi presentasi (pexels.com/RODNAE Productions)
Self-esteem sehat ternyata gak berarti kamu harus selalu merasa percaya diri, lho. Franco menjelaskan bahwa orang yang merasa aman dengan dirinya tetap bisa mengakui ketika sedang cemas, marah, rentan, atau merasa gak yakin. Mereka gak langsung menganggap emosi tersebut sebagai bukti bahwa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain.
Misalnya, kamu merasa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang. Perasaan tersebut gak harus membuatmu menyimpulkan bahwa kamu adalah orang yang gak mampu. Kamu bisa mengakui rasa gugup tersebut, memahami penyebabnya, lalu tetap menjalani situasi yang sedang dihadapi.
Pandangan ini penting karena self-esteem gak hanya berkaitan dengan seberapa tinggi kamu menilai diri sendiri, tapi juga seberapa stabil penilaian tersebut ketika situasi berubah. Penelitian dalam Journal of Personality menjelaskan bahwa kestabilan self-esteem merupakan aspek penting dalam fungsi psikologis dan dapat membantu memahami perbedaan antara self-esteem tinggi yang aman dengan self-esteem tinggi yang rapuh.
Pada akhirnya, self-esteem sehat gak harus terlihat dari seseorang yang paling percaya diri di ruangan. Tanda-tandanya justru bisa muncul lewat hal sederhana, seperti mampu menghargai orang lain, mengelola emosi, menjadi diri sendiri, mengakui kesalahan, dan menerima rasa insecure.
Kamu juga gak perlu menunggu sampai merasa percaya diri sepenuhnya untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Perlahan mengenali emosi, menerima kekurangan, dan berhenti mengukur nilai diri dari pencapaian atau penilaian orang lain bisa menjadi bagian dari proses tersebut.