Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketika Iuran Agustusan Jadi Ajang Adu Gengsi Warga, Nyumbang Berapa?

Ketika Iuran Agustusan Jadi Ajang Adu Gengsi Warga, Nyumbang Berapa?
ilustrasi lomba Agustusan (pexels.com/Heru Dharma)
Share Article

Dalam setahun pasti ada momen-momen dalam kehidupan bersama di masyarakat yang membutuhkan pembiayaan cukup besar. Salah satunya, peringatan HUT RI tiap 17 Agustus. Agenda tahunan ini selalu diisi dengan beragam acara guna memeriahkan ulang tahun Republik Indonesia.

Kerja bakti dilakukan berulang kali. Lomba-lomba menarik diadakan. Berbagai hadiah juga disediakan untuk menambah kegembiraan serta semangat seluruh warga. Tak jarang di malam puncak perayaan ada hiburan musik oleh grup musik profesional.

Semua itu memerlukan dana besar. Mengandalkan kas RT saja gak cukup. Umumnya bakal ada iuran khusus guna keperluan HUT RI. Terdapat iuran wajib yang nilainya relatif kecil biar semua orang bisa bayar. Ada juga iuran yang ditujukan khusus pada warga tertentu yang dianggap berpunya. Donasi ekstra ini bisa menjadi ajang adu gengsi.

  1. 1. Warga yang didatangi dan dimintai donasi lebih berarti berduit

    lomba panjat pinang
    ilustrasi lomba panjat pinang (pexels.com/rakhmat suwandi)

    Seperti disebutkan dalam pembuka artikel, tidak semua orang dalam suatu kompleks permukiman akan didatangi dan dimintai iuran khusus HUT RI. Iuran buat masyarakat umum sudah ditarik ketika kumpulan RT, misalnya. Sementara permintaan menjadi donatur dilakukan kemudian.

    Caranya dengan menetapkan warga yang dirasa cukup mampu kasih sumbangan lebih. Mereka lantas didatangi di rumah. Maka terlihat jelas sekali siapa saja orang di kawasan tersebut yang dinilai lebih kaya daripada warga umumnya.

    Saking biasanya hal ini terjadi, banyak orang tak segera menyadari adanya adu gengsi yang diam-diam terbentuk di masyarakat. Orang yang tahun kemarin diminta jadi donatur pasti merasa malu sekali apabila tahun depan tak bisa lagi kasih iuran lebih banyak daripada warga lain. Nanti tampak oleh orang-orang yang mengamatinya bahwa ia gak kasih amplop ke pemungut iuran.

  2. 2. Nama dan jumlah sumbangan ditulis dalam daftar yang bisa dibaca siapa pun

    tarik tambang
    ilustrasi tarik tambang (pexels.com/Andy Pinaria)

    Biasanya orang yang ditugasi meminta iuran dari rumah ke rumah membawa buku atau kertas catatan. Memang penting mendata siapa menyumbang berapa. Data itu nantinya menjadi bagian dari laporan keuangan.

    Juga sebagai upaya menjaga transparansi. Hanya saja, daftarnya dapat dibaca oleh siapa pun. Misal, rumah nomor 1 didatangi pertama kali. Setelah itu rumah nomor 2 dan seterusnya. Tuan rumah dapat membaca dengan jelas tetangga sebelah kasih sumbangan berapa.

    Sistem seperti ini membuat orang gengsi untuk memberikan sumbangan yang lebih kecil. Warga menjadi cenderung memaksakan diri buat kasih lebih banyak uang demi jaga gengsi. Sekalipun sebenarnya gak ikhlas dan dalam hati agak ngomel.

  3. 3. Petugas pengumpul iuran membanding-bandingkan sumbangan

    lomba Agustusan
    ilustrasi lomba Agustusan (pexels.com/RUDI GUZTI)

    Sikap pengumpul iuran yang seperti ini sering kali tidak sengaja dimaksudkan untuk membuat tetangga sendiri gak nyaman. Cuma saking akrabnya sehingga dianggap candaan saja. Atau, semata-mata usaha supaya dana yang terkumpul lebih banyak.

    Biar acara lebih meriah serta bertabur hadiah. Contoh kalimatnya, si A saja menyumbang sekian. Masa kamu cuma mau kasih segitu? Ia lantas memaparkan sejumlah bukti bahwa dirimu seharusnya bisa kasih lebih.

    Seperti si A hanya pegawai biasa, sedangkan dirimu punya beberapa usaha. Mendengar perbandingan seperti itu langsung di hadapanmu, ada kemungkinan gengsimu tertantang. Tadinya dirimu cuma menyiapkan bujet 100 ribu rupiah menjadi mengeluarkan 200 ribu rupiah.

  4. 4. Pas acara puncak nama-nama donatur juga disebut

    lomba egrang
    ilustrasi lomba egrang (pexels.com/Muhammad Solikin)

    Di antara sekian banyak warga dalam satu RT, umumnya jumlah donatur untuk acara perayaan HUT RI cuma beberapa. Itu pun kadang ada donatur yang perlu agak dipaksa biar mau kasih iuran lebih banyak.

    Itu sebabnya orang-orang yang memberikan sumbangan lebih besar dianggap istimewa. Panitia mengapresiasi kedermawanan tersebut dengan menyebutkan nama-nama mereka dalam puncak perayaan. Biasanya di malam tirakatan.

    Siapa yang tidak bangga memperoleh ucapan terima kasih secara khusus di hadapan seluruh warga? Walaupun raut wajah tampak malu-malu, hati sebenarnya berbunga-bunga. Sedikit banyak ada rasa puas dalam diri karena termasuk dalam segelintir warga yang bisa serta mau iuran lebih gede.

  5. 5. Makanan untuk donatur lebih banyak serta diantar ke rumah

    lomba pecah air
    ilustrasi lomba pecah air (pexels.com/Yazid N)

    Gak semua panitia melakukan ini, tapi ada juga yang cukup mencolok. Warga yang kasih iuran wajib saja hanya memperoleh makan besar dan snack masing-masing satu kotak. Sementara para penyumbang ekstra mendapatkan jatah konsumsi lebih banyak.

    Seperti satu orang dikasih jatah untuk dua orang. Pun makanan-makanan itu sampai diantarkan panita ke rumah. Donatur gak datang di malam tirakatan pun tak apa. Jatah konsumsinya tetap disisihkan.

    Lain dengan warga biasa yang hanya membayar iuran wajib tak seberapa. Mereka gak menghadiri malam tirakatan berarti jatah konsumsinya hangus. Bentuk ucapan terima kasih panitia yang begitu besar ke donatur, tapi malah bisa menciptakan kesenjangan.

    Adu gengsi perkara sumbangan Agustusan perlu menjadi bahan renungan bersama. Niat bikin acara mesti diluruskan kembali. Seharusnya semata-mata untuk mempererat hubungan antarwarga serta membangkitkan rasa nasionalisme. Bukan perlombaan siapa yang paling kaya dan dermawan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More