Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Konsep “Spend with Intention”, Hemat Bukan Berarti Menolak Kesenangan
Ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/ali Shot80)

Hemat sering dipahami sebagai kebiasaan menahan diri dari berbagai pengeluaran. Tidak makan di luar, tidak membeli pakaian baru, selalu mencari harga paling murah, bahkan merasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya disukai. Padahal, mengatur keuangan dengan baik bukan berarti harus menghilangkan semua kesenangan dalam hidup.

Di sinilah konsep spend with intention atau membelanjakan uang dengan sengaja menjadi menarik. Prinsipnya bukan sekadar “belanja lebih sedikit”, melainkan memastikan uang digunakan untuk hal-hal yang memang penting, memberikan nilai, dan sesuai dengan tujuan.

1. Hemat bukan berarti harus selalu bilang “tidak”

ilustrasi belanja online (pexels.com/Ivan Samkov)

Ada perbedaan antara hidup hemat dan hidup terlalu membatasi diri. Hidup hemat berarti kamu sadar ke mana uang pergi dan memilih pengeluaran berdasarkan prioritas. Sementara itu, menolak semua kesenangan hanya karena takut mengeluarkan uang dapat membuat aktivitas finansial terasa seperti hukuman.

Akibatnya, kamu mungkin justru merasa tertekan dan suatu saat melakukan pengeluaran besar sebagai bentuk “balas dendam” setelah terlalu lama menahan diri. Psikolog dan peneliti kebahagiaan Elizabeth Dunn bersama para koleganya menjelaskan bahwa banyak orang sebenarnya belum memahami cara menggunakan uang untuk meningkatkan kebahagiaan.

"Kebanyakan orang tidak mengetahui fakta-fakta ilmiah dasar mengenai kebahagiaan-tentang apa yang mendatangkannya dan apa yang menjaganya tetap ada, sehingga mereka tidak tahu bagaimana menggunakan uang mereka untuk memperolehnya," tulis Dunn dan koleganya dalam penelitian yang dirangkum oleh Greater Good Science Center dari University of California, Berkeley.

Artinya, persoalannya bukan sekadar berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi untuk apa uang tersebut digunakan. Secangkir kopi sesekali bersama teman, tiket konser yang memang sudah lama dinantikan, atau makan di restoran untuk merayakan pencapaian bisa saja menjadi pengeluaran yang bermakna selama sudah diperhitungkan.

2. Spend with intention berarti uang mengikuti nilai dan prioritasmu

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari (pexels.com/Anna Shvets)

Konsep spend with intention pada dasarnya mengajak kamu melihat uang sebagai alat untuk menjalani kehidupan yang kamu inginkan. Sebelum membeli sesuatu, pertanyaannya bukan hanya “Apakah ini murah?” tetapi “Apakah ini memang penting buatku?” dan “Apakah pengeluaran ini sejalan dengan apa yang ingin aku capai?” Dengan cara ini, kamu tidak otomatis mengejar harga termurah, tetapi mencari pengeluaran yang paling memberikan nilai.

"Merenungkan pengeluaran mana yang memberikan kebahagiaan dan mana yang tidak juga dapat mendatangkan kesejahteraan finansial. Ini tentang memastikan uang kamu digunakan untuk hal-hal yang kamu anggap bernilai," Shar-Né Warren, seorang CFP (Certified Financial Planner) atau pakar perencanaan keuangan dikutip dari NerdWallet.

Prinsip ini membuat kamu boleh mengeluarkan lebih banyak uang pada sesuatu yang benar-benar penting, sekaligus mengurangi pengeluaran yang sebenarnya tidak memberikan banyak manfaat. Jadi, spend with intention bukan tentang menjadi pelit, tetapi tentang menggunakan uang sesuai prioritas.

3. Bedakan pengeluaran yang membuat senang dengan pengeluaran impulsif

ilustrasi belanja impulsif (unsplash.com/Julia Андрэй)

Tidak semua pengeluaran yang menyenangkan merupakan pemborosan. Perbedaan pentingnya ada pada kesadaran ketika mengambil keputusan. Jika kamu sudah mempertimbangkan harga, manfaat, anggaran, dan konsekuensinya, kemudian tetap memilih membeli sesuatu karena memang memberikan kebahagiaan. Itu berbeda dengan membeli secara spontan atau impulsif hanya karena sedang diskon, bosan, stres, maupun takut ketinggalan tren.

“Belanja kompulsif sangat erat kaitannya dengan emosi dan kesehatan mental. Hal ini sering kali menjadi cara untuk mengatasi stres, kecemasan, dan depresi,” ujar psikolog Susan Albers, PsyD, dikutip dari Cleveland Clinic.

Jadi, kamu bisa membuat kategori “uang untuk senang-senang” dalam anggaran bulanan. Besarnya tentu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Aturan anggaran ini hanyalah panduan dan setiap orang perlu menentukan aturan yang sesuai dengan kondisi finansialnya. Dengan memiliki batasan yang jelas, kamu bisa menikmati uang tanpa rasa bersalah sekaligus mencegah kesenangan hari ini mengambil jatah kebutuhan, tabungan, atau tujuan masa depan.

4. Pilih pengalaman yang benar-benar memberi nilai

ilustrasi liburan dengan sahabat (freepik.com/freepik)

Salah satu penerapan spend with intention adalah mempertimbangkan apakah suatu pengeluaran akan memberikan pengalaman yang bermakna. Penelitian psikologi konsumen telah lama menemukan bahwa pengalaman seperti perjalanan, makan bersama orang terdekat, atau aktivitas rekreasi dapat memberikan manfaat kebahagiaan yang berbeda dibandingkan sekadar membeli barang.

Namun, bukan berarti semua pengalaman otomatis lebih baik daripada barang. Penelitian yang dibahas Greater Good Science Center menunjukkan bahwa manfaat suatu pembelian juga bergantung pada alasan atau tujuan seseorang membelanjakan uangnya.

"Hasil dari dua studi menunjukkan bahwa konsumen mengaitkan kesejahteraan yang lebih tinggi dengan pembelian yang membantu mereka mencapai tujuan intrinsik. Oleh karena itu, atribusi kesejahteraan terhadap perilaku belanja dipengaruhi oleh jenis tujuan yang dipenuhi oleh pembelian tersebut," demikian laporan studi Beyond experiential spending: Consumers report higher well-being from purchases that satisfy intrinsic goals dalam The British Psychological Society.

Jadi, membeli sepatu untuk hobi olahraga yang benar-benar kamu jalani bisa lebih bermakna daripada membeli barang mahal hanya karena sedang populer. Cobalah mengevaluasi pengeluaran dengan pertanyaan sederhana: “Apakah aku akan mengingat pengalaman ini?”, “Apakah barang ini akan sering digunakan?”, atau “Apakah pembelian ini mendukung sesuatu yang memang penting bagiku?”

5. Buat anggaran yang memberi ruang untuk 'hidup'

ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Anggaran sering dianggap sebagai daftar larangan: tidak boleh makan di luar, tidak boleh belanja, tidak boleh nongkrong, dan harus menabung sebanyak mungkin. Padahal, anggaran yang sehat seharusnya menjadi rencana untuk menentukan bagaimana uang digunakan, termasuk menyediakan ruang untuk kebutuhan yang membuat hidup terasa menyenangkan.

"Hal ini memungkinkan kita untuk memusatkan sumber daya keuangan pada pengeluaran yang benar-benar meningkatkan kualitas hidup, sembari mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat sepadan dengan biayanya," kata Dr. Matt J. Goren, pakar keuangan dari University of Georgia yang menjelaskan manfaat membuat anggaran dikutip dari Greater Good.

Kamu bisa memulainya dengan membagi pengeluaran menjadi tiga kelompok: kebutuhan, tujuan finansial, dan kesenangan. Setelah kebutuhan serta kewajiban terpenuhi dan tabungan atau tujuan finansial mendapatkan porsinya, tidak apa-apa menyisakan sejumlah uang untuk hal-hal yang kamu nikmati.

Hemat bukan tentang seberapa sering kamu mengatakan “tidak” kepada diri sendiri, tetapi seberapa sadar kamu mengatakan “iya” pada hal yang benar-benar penting. Konsep spend with intention mengajak kamu berhenti mengejar pengeluaran paling sedikit dan mulai memikirkan pengeluaran yang paling berarti.

Curated For You

Editorial Team

Related Article