"Memasak di rumah dikaitkan dengan kualitas pola makan yang lebih baik. Memasak makan malam di rumah dikaitkan dengan tingkat kepatuhan yang lebih baik terhadap pedoman pola makan, tanpa peningkatan signifikan dalam pengeluaran untuk makanan. Sebaliknya, frekuensi makan di luar yang tinggi dikaitkan dengan pengeluaran yang lebih besar dan tingkat kepatuhan yang lebih rendah. Memasak di rumah dapat menjadi salah satu komponen ketahanan gizi," jelasnya Cooking at Home: A Strategy to Comply With U.S. Dietary Guidelines at No Extra Cost dalam PubMed.
Masak Sendiri Vs. Beli Makanan, Mana yang Sebenarnya Lebih Hemat?

Masak sendiri sering dianggap sebagai pilihan paling aman kalau ingin menghemat pengeluaran. Tinggal membeli bahan di pasar atau supermarket, memasaknya di rumah, lalu menyimpan sisanya untuk beberapa kali makan. Sementara itu, membeli makanan memang terasa lebih praktis karena kamu tidak perlu belanja bahan, memasak, mencuci peralatan, atau menghabiskan waktu di dapur.
Namun pertanyaannya, apakah masak sendiri selalu lebih murah? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Biaya bahan makanan, jumlah porsi, waktu memasak, peralatan dapur, listrik atau gas, hingga kemungkinan bahan terbuang semuanya perlu diperhitungkan.
1. Masak sendiri memang cenderung lebih hemat, terutama kalau dibuat beberapa porsi

ilustrasi masak sendiri di rumah (pexels.com/Monstera) Keuntungan terbesar memasak sendiri adalah satu kali belanja bahan bisa menghasilkan beberapa porsi. Misalnya, membeli ayam, telur, sayuran, tahu, tempe, dan bumbu mungkin terlihat mahal ketika dibayar sekaligus.
Namun, bahan tersebut dapat digunakan untuk beberapa kali makan, sehingga biaya per porsinya bisa lebih rendah dibandingkan membeli makanan jadi setiap kali lapar. Adam Drewnowski, PhD, profesor epidemiologi di University of Washington menjelaskan bahwa memasak sendiri gak hanya hemat, tetapi juga dapat membantu menjaga kualitas makanan tanpa harus membuat pengeluaran meningkat.
2. Tapi masak sendiri bisa jadi boros kalau banyak bahan yang terbuang

ilustrasi Masak sendiri di dapur penginapan (freepik.com/senivpetro) Ada satu jebakan yang sering tidak disadari ketika mulai rajin memasak: membeli terlalu banyak bahan. Kamu mungkin membeli satu kilogram wortel, satu botol saus, sekilo ayam, berbagai bumbu, dan beberapa jenis sayuran karena ingin membuat banyak menu.
Masalahnya, kalau sebagian bahan akhirnya tidak digunakan sampai rusak, penghematan yang diharapkan justru menghilang. Oleh karena itu, kalau ingin masak lebih hemat, jangan hanya menghitung harga bahan. Hitung juga berapa banyak bahan yang benar-benar akan digunakan.
3. Beli makanan bisa lebih masuk akal, kalau kamu tinggal sendiri

Ilustrasi perempuan membeli makanan kemasan (freepik.com/freepik) Memasak sendiri tidak otomatis menjadi pilihan paling murah untuk semua orang. Tapi kalau kamu tinggal sendirian, membeli bahan dalam jumlah besar terkadang justru tidak efisien. Satu ikat sayuran, satu botol saus, atau satu bungkus bahan tertentu mungkin terlalu banyak untuk dikonsumsi seorang diri sebelum kualitasnya menurun.
Situasi menjadi semakin menarik ketika makanan yang dibeli di luar memiliki harga yang relatif murah. Hal ini juga terhitung lebih murah dibandingkan kamu masak sendiri. Misalnya, kamu membeli sayur matang dengan harga Rp5-10ribu, ini bisa buat makan satu hingga dua kali.
Dan jika kamu memasak sendiri dengan menu yang sama, biaya belanja bahan baku bisa saja lebih besar. Karena mungkin, bahan tersebut dimasak gak hanya itu satu atau dua porsi. Jadi dalam situasi tertentu, beli membungkus makanan bisa jadi lebih murah.
Namun, tetap perlu membedakan antara membeli makanan sesekali dan menjadikannya kebiasaan setiap hari. Satu kali membeli nasi, lauk, dan sayur mungkin masih murah. Tetapi kalau ditambah kopi, camilan, ongkos kirim, biaya layanan, dan berbagai pembelian impulsif, totalnya bisa jauh lebih besar dalam sebulan.
4. Meal prep bisa menjadi jalan tengah antara hemat dan praktis

ilustrasi meal prep (vecteezy.com/Muhammad Hidayat) Kalau masalah utama memasak adalah waktu, kamu tidak harus memasak setiap kali akan makan. Salah satu solusinya adalah meal prep, yaitu menyiapkan bahan atau makanan dalam jumlah tertentu untuk digunakan selama beberapa hari. Cara ini memungkinkan kamu tetap mendapatkan keuntungan memasak sendiri tanpa harus setiap hari menghabiskan waktu lama di dapur.
Misalnya, kamu bisa memasak ayam dan telur dalam jumlah cukup untuk beberapa hari, menanak nasi dalam porsi tertentu, lalu menyiapkan sayuran sesuai kebutuhan. Tidak semua makanan harus langsung dimasak sampai matang. Kamu juga bisa sekadar memotong bahan, membuat bumbu dasar, atau membagi bahan ke dalam beberapa wadah.
Artinya, kunci hemat bukan sekadar “harus masak”. Yang lebih penting adalah bagaimana kamu mengatur prosesnya. Belanja dengan daftar, memilih bahan yang bisa digunakan untuk beberapa menu, memasak dalam jumlah yang masuk akal, dan menyimpan makanan dengan benar bisa membuat kegiatan memasak terasa lebih ringan sekaligus mengurangi pemborosan.
5. Cara paling hemat bukan masak atau beli, tapi tahu kapan harus melakukan keduanya

Ilustrasi memasak (pexels.com/Sarah Chai) Kalau harus memilih satu jawaban, memasak sendiri umumnya lebih menguntungkan secara finansial ketika kamu memasak beberapa porsi, menggunakan bahan secara maksimal, dan merencanakan menu dengan baik. Tetapi membeli makanan juga punya nilai yang sering dilupakan: waktu dan tenaga.
Setelah seharian bekerja atau kuliah, memasak, mencuci piring, dan membereskan dapur membutuhkan energi. Dalam kondisi tertentu, membayar makanan yang relatif murah bisa menjadi pilihan yang masuk akal, terutama jika membeli bahan baku dalam jumlah besar lalu membuang sebagian karena tidak sempat mengolahnya.
Jadi, daripada menerapkan aturan “selalu masak” atau “selalu beli yang murah”, coba gunakan strategi kombinasi. Masak sendiri untuk menu yang mudah dibuat dalam jumlah banyak. Sementara itu, beli makanan pada hari ketika waktu dan tenaga benar-benar terbatas. Dengan cara tersebut, kamu tetap bisa menghemat tanpa membuat aktivitas makan terasa seperti pekerjaan tambahan.
Memasak cenderung lebih hemat jika dilakukan dengan perencanaan, porsi yang tepat, dan minim pemborosan. Sebaliknya, membeli makanan bisa tetap masuk akal ketika harga porsinya murah, kebutuhanmu hanya sedikit, atau waktu untuk memasak sangat terbatas. Jadi, kalau tujuanmu adalah menghemat uang, jangan hanya bertanya “mana yang lebih murah?”, tetapi tanyakan juga “mana yang paling sedikit membuang uang, bahan makanan, waktu, dan tenaga?”



![[QUIZ] Film Favoritmu Ungkap Hubungan Ibu dan Anak yang Kamu Impikan](https://image.idntimes.com/post/20240810/pexels-cottonbro-5493783-000251c4b6f52040ebb6807f5eed97f7-31726b6b00c6b6ec62cec5676be02362.jpg)
















