Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 MBTI yang Suka Memilih Silent Treatment Saat Marahan

5 MBTI yang Suka Memilih Silent Treatment Saat Marahan
ilustrasi silent treatment (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Beberapa tipe MBTI seperti INFJ, INFP, ISTP, INTJ, dan ISFP cenderung memilih diam atau menarik diri saat marah untuk menenangkan emosi sebelum berbicara kembali.
  • INFJ dan INFP lebih memilih menjaga jarak karena takut mengucapkan hal yang disesali atau memperburuk suasana, sementara mereka memproses perasaan secara mendalam.
  • ISTP, INTJ, dan ISFP menggunakan silent treatment sebagai cara menjaga kontrol diri serta melindungi hati dari konflik emosional yang intens sebelum akhirnya membuka komunikasi lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat sedang marah atau kecewa, setiap orang punya cara berbeda dalam menghadapi emosinya. Ada yang langsung ingin membahas semuanya sampai selesai, tetapi ada juga yang memilih diam dan menjaga jarak dulu supaya pikirannya lebih tenang. Sikap seperti ini sering disebut silent treatment, meskipun kadang sebenarnya mereka hanya butuh waktu untuk memproses perasaan sendiri.

Dalam MBTI, beberapa tipe memang akan menarik diri ketika konflik terjadi. Mereka lebih nyaman memendam emosi sementara waktu daripada langsung mengungkapkannya dalam keadaan masih panas. Penasaran siapa saja mereka? Ini lima MBTI yang sering tiba-tiba jadi dingin atau sulit diajak bicara saat sedang marahan.

1. INFJ

ilustrasi ribut dengan pasangan
ilustrasi ribut dengan pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)

INFJ termasuk tipe yang cukup sensitif terhadap konflik emosional, sehingga mereka sering memilih diam ketika sedang kecewa atau terluka. Mereka tidak suka berbicara dalam keadaan emosi yang belum stabil karena takut mengatakan sesuatu yang nantinya disesali. Dari situ, mereka lebih memilih menjaga jarak sementara untuk menenangkan diri.

INFJ akan memproses perasaan secara mendalam di dalam pikirannya sendiri. Mereka membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya dirasakan sebelum akhirnya siap membuka percakapan lagi. Sikap diam ini sering membuat pasangan bingung karena INFJ terlihat tiba-tiba menjauh tanpa banyak penjelasan.

2. INFP

ilustrasi bertengkar
ilustrasi bertengkar (unsplash.com/Getty Images)

INFP punya emosi yang dalam dan mudah merasa terluka oleh ucapan atau sikap pasangan, terutama kalau menyangkut hal yang sensitif bagi mereka. Saat sedang kecewa, mereka biasanya memilih menghindari percakapan dulu karena takut emosinya semakin tidak terkendali. Diam menjadi cara mereka melindungi diri sendiri.

Di sisi lain, INFP juga tidak suka konflik yang terlalu keras atau penuh tekanan. Mereka lebih nyaman menarik diri sementara sambil menenangkan hati dan merapikan pikirannya terlebih dahulu. Setelah emosinya mulai stabil, barulah mereka perlahan mau kembali berbicara.

3. ISTP

ilustrasi marahan
ilustrasi marahan (pexels.com/Timur Weber)

ISTP merasa tidak nyaman menghadapi konflik emosional yang terlalu intens dan berlarut-larut. Ketika suasana mulai memanas, mereka lebih memilih diam daripada harus terjebak dalam perdebatan panjang yang melelahkan. Dari situ, mereka sering terlihat cuek atau seolah tidak peduli.

Padahal sebenarnya, ISTP hanya butuh ruang untuk berpikir tanpa tekanan dari situasi yang sedang terjadi. Mereka lebih mudah menghadapi masalah ketika pikirannya sudah tenang dan tidak dipenuhi emosi. Karena itu, mereka biasanya baru mau bicara lagi setelah suasana mulai mereda.

4. INTJ

ilustrasi bertengkar
ilustrasi bertengkar (pexels.com/Vera Arsic)

INTJ termasuk tipe yang sangat menjaga kontrol diri saat menghadapi konflik. Ketika sedang marah, mereka menahan emosi dan memilih diam supaya tidak membuat situasi semakin kacau. Sikap ini membuat mereka terlihat dingin dan sulit ditebak.

INTJ juga tidak akan pernah membahas masalah dalam keadaan emosional karena mereka ingin semuanya tetap logis dan terarah. Mereka biasanya akan menjauh sementara untuk menyusun pikiran sebelum akhirnya kembali membicarakan masalah dengan lebih tenang. Bagi mereka, diam terasa lebih aman daripada berbicara tanpa arah.

5. ISFP

ilustrasi adu argumen
ilustrasi adu argumen (unsplash.com/Andrej Lišakov)

ISFP punya hati yang lembut dan mudah terpengaruh suasana emosional di sekitarnya. Saat konflik terjadi, mereka sering memilih memendam perasaan daripada langsung mengungkapkannya karena takut memperkeruh keadaan. Dari situ, mereka jadi lebih banyak diam dan menjaga jarak.

Selain sulit mengungkapkan emosi saat marah, ISFP juga membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan suasana hatinya. Mereka lebih nyaman menenangkan diri dulu sebelum kembali membuka komunikasi dengan pasangan. Karena itu, silent treatment sering muncul sebagai bentuk perlindungan emosional mereka.

Diam saat marahan memang kadang membuat pasangan merasa bingung atau diabaikan. Namun, beberapa MBTI sebenarnya melakukan itu karena sedang mencoba menenangkan diri dan menghindari konflik yang lebih besar. Selama komunikasi tetap dibangun setelah emosi mereda, hubungan masih bisa kembali berjalan dengan lebih sehat dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us

Related Articles

See More