ilustrasi menyesal (pexels.com/Ron Lach)
Sebelum mengambil keputusan, kamu mungkin sudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Bagaimana kalau ternyata pekerjaan baru tidak lebih baik? Bagaimana kalau hubungan yang ditinggalkan sebenarnya masih bisa diperbaiki? Bagaimana kalau orang-orang yang kecewa tidak mau lagi dekat denganmu? Pertanyaan semacam itu bisa membuatmu kembali bertahan pada keadaan lama meskipun kamu sendiri sudah tidak merasa bahagia.
Tidak ada keputusan yang bisa menjamin seseorang tidak akan menyesal. Bahkan pilihan yang terlihat paling tepat pun bisa membawa kesulitan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Karena itu, memilih kebahagiaan sendiri bukan berarti memastikan semuanya akan berjalan sempurna setelah keputusan dibuat. Karena yang bisa dilakukan adalah mempertimbangkan pilihan dengan matang, memahami risikonya, lalu menerima bahwa kehidupan memang tidak selalu memberikan kepastian sebelum seseorang berani melangkah.
Bagi beberapa orang, memilih kebahagiaan sendiri justru terasa menakutkan dan tidak menyenangkan sejak awal. Ada keputusan yang justru membuat takut karena kamu harus menghadapi kemungkinan mengecewakan orang lain, meninggalkan sesuatu yang sudah dikenal, atau menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Namun, rasa takut tidak selalu berarti kamu harus kembali ke keadaan sebelumnya. Kadang-kadang, perasaan itu muncul karena untuk pertama kalinya kamu mulai memilih sesuatu yang benar-benar kamu inginkan.