Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sikap Resiliensi Kak Ros di Upin Ipin yang Bisa Jadi Panutan Gen Z

Sikap Resiliensi Kak Ros di Upin Ipin yang Bisa Jadi Panutan Gen Z
kartun Upin dan Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)
  • Kak Ros digambarkan tangguh menjalankan peran sebagai pelajar, membantu Opah, serta mengurus Upin dan Ipin meski menghadapi tanggung jawab keluarga yang besar.
  • Ia memanfaatkan keterampilan memasak untuk mencari penghasilan, sekaligus membiasakan Upin dan Ipin mandiri mengerjakan kebutuhan rumah tangga dan mengambil keputusan dasar.
  • Di tengah kesibukan, Kak Ros tetap memprioritaskan pendidikan serta menunjukkan kepedulian kepada adik-adiknya, menegaskan pentingnya belajar, dukungan, dan hubungan dekat saat menghadapi tekanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau kamu sering menonton Upin & Ipin, Kak Ros mungkin lebih dikenal sebagai sosok yang galak dan tegas. Padahal, di balik sikapnya tersebut ia merupakan kakak yang tangguh karena harus membantu Opah, mengurus Upin dan Ipin, bersekolah, sekaligus mencari penghasilan tambahan.

Berbagai tanggung jawab itu membuat Kak Ros menunjukkan sikap resiliensi, yaitu kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan tetap berusaha menjalani kehidupan. Meski hanya karakter fiksi, beberapa sikapnya bisa jadi pelajaran bagi gen Z yang sedang menghadapi berbagai tantangan hidup. Lantas, sikap resiliensi apa saja yang bisa dipelajari dari Kak Ros? Yuk, cek artikel berikut!

  1. 1. Tetap menjalankan tanggung jawab meski berada dalam situasi sulit

    kak Ros di serial Upin Ipin
    kak Ros bersama Upin Ipin di meja makan (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Sebagai anak sulung, Kak Ros ikut membantu Opah mengurus keluarga sekaligus menjaga dan mendidik Upin dan Ipin. Tanggung jawab tersebut dijalankannya bersamaan dengan kewajibannya sebagai seorang pelajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kak Ros berusaha tetap menjalankan perannya meski situasi keluarga membuatnya harus tumbuh lebih cepat.

    Sikap tersebut bisa menjadi pelajaran bagi gen Z bahwa keadaan yang sulit gak selalu bisa dijadikan alasan untuk berhenti bergerak. Ketika menghadapi masalah, kita bisa mencoba mengerjakan hal-hal yang memang masih mampu dikendalikan satu per satu. Dengan begitu, rasa kewalahan bisa sedikit berkurang karena perhatian diarahkan pada langkah yang bisa dilakukan saat ini.

    "Anak perempuan sulung biasanya mendapat ekspektasi atau tanggung jawab paling banyak, sehingga mereka merasa perlu untuk berhasil, berprestasi, atau mengurus keluarga" ujar Avigail Lev, PsyD, seorang psikolog, dikutip dari Verywell Mind.

  2. 2. Mengubah keterampilan menjadi peluang untuk bertahan

    kak Ros di serial Upin Ipin
    kak Ros di serial Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Kak Ros gak hanya membantu pekerjaan rumah, tetapi juga memanfaatkan kemampuannya untuk mencari penghasilan. Ia memasak dan menjual nasi lemak, karipap, serta kue, bahkan pernah berjualan secara online. Dari sini, terlihat bahwa Kak Ros mampu mengubah keterampilannya menjadi peluang saat keluarga membutuhkan tambahan penghasilan.

    Buat gen Z, kemampuan yang dimiliki gak harus berhenti sebagai hobi. Skill memasak, menggambar, menulis, atau membuat konten bisa terus diasah hingga membuka peluang baru. Bukan berarti harus punya bisnis sampingan, tetapi belajar melihat peluang dan berani mencoba saat dibutuhkan.

    “Kemampuan memecahkan masalah dan memiliki pola pikir untuk mengambil tindakan merupakan bagian dari keterampilan dasar dalam membangun resiliensi,” ujar Mary Alvord, PhD, seorang psikolog, dikutip dari American Psychological Association.

  3. 3. Mau belajar mandiri dan gak selalu bergantung pada orang lain

    kak Ros di serial Upin Ipin
    kak Ros di serial Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Kak Ros terbiasa meminta Upin dan Ipin menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sendiri. Mulai dari membereskan kamar, menyapu, melipat pakaian, hingga membersihkan rumah menjadi bagian dari kebiasaan yang ia tanamkan kepada kedua adiknya. Baginya, membiasakan Upin dan Ipin melakukan pekerjaan sederhana merupakan cara untuk melatih mereka memiliki kemampuan hidup dasar.

    Nilai tersebut juga relevan bagi gen Z yang sedang berada dalam fase belajar mengurus kehidupannya sendiri. Mandiri bukan berarti harus menolak bantuan orang lain, tetapi memiliki kemampuan untuk mengurus kebutuhan dasar dan mengambil keputusan ketika diperlukan. Semakin terbiasa melakukan sesuatu sendiri, seseorang bisa menjadi lebih siap ketika harus menghadapi perubahan atau situasi yang gak terduga.

  4. 4. Tetap memprioritaskan pendidikan di tengah banyak kesibukan

    kak Ros di serial Upin Ipin
    kak Ros di serial Upin Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Meski punya banyak pekerjaan dan tanggung jawab di rumah, pendidikan tetap menjadi hal yang diperhatikan Kak Ros. Ia bahkan membantu Upin dan Ipin belajar, salah satunya dalam episode "Bijak Sifir" ketika mengajari mereka tentang perkalian sebelum membiarkan mereka bermain. Usahanya tersebut membantu Upin dan Ipin memahami pelajaran dan berhasil menghafal perkalian ketika penilaian tiba.

    Sikap ini bisa menjadi pengingat bahwa proses belajar tetap penting meski kehidupan sedang terasa sibuk. Gen Z juga gak harus selalu mengejar kesempurnaan dalam belajar, tetapi bisa membangun kebiasaan untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan secara bertahap. Sebab, kemampuan untuk terus belajar dapat membantu seseorang beradaptasi ketika menghadapi perubahan di masa depan.

  5. 5. Tetap peduli kepada orang terdekat meski sedang menghadapi tekanan

    Upin Ipin
    kartun Upin dan Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Kak Ros memang sering memarahi Upin dan Ipin ketika mereka berbuat salah, tetapi sebenarnya ia sangat menyayangi keduanya. Ia terlihat cemas ketika adik-adiknya belum pulang dan tetap merawat mereka saat sakit. Perhatian tersebut menunjukkan bahwa sikap keras Kak Ros gak menghilangkan rasa pedulinya.

    Hal ini mengajarkan gen Z bahwa menjadi tangguh gak berarti harus menghadapi semuanya sendirian. Orang-orang terdekat bisa menjadi tempat untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan. Jadi, gak perlu gengsi untuk meminta bantuan atau sekadar hadir bagi orang yang kita sayangi.

    “Kemampuan membangun hubungan yang suportif merupakan salah satu prediktor penting dari resiliensi,” jelas George S. Everly Jr., Ph.D., seorang psikolog dari Johns Hopkins University, dikutip dari Psychology Today.

    Dari Kak Ros, kita belajar bahwa menjadi tangguh bukan berarti gak pernah lelah atau punya masalah. Yang penting, tetap berusaha, mau beradaptasi, dan terus melangkah meski keadaan gak selalu mudah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More