Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Mindful Membuat Orang Jadi Tidak Mudah Kesal?
ilustrasi kesal (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Mindfulness tidak menghilangkan rasa kesal, tetapi membantu seseorang menyadari emosi sebelum bereaksi, sehingga tindakan yang dipilih tidak selalu impulsif.
  • Dengan memperhatikan kondisi diri seperti lelah, lapar, atau pekerjaan menumpuk, seseorang dapat mengenali pemicu sebenarnya dan tidak melampiaskan emosi pada hal kecil.
  • Mindfulness memberi jeda untuk membedakan masalah yang perlu ditanggapi dan yang bisa dilewatkan, sambil tetap memungkinkan seseorang menyampaikan batasan saat diperlakukan tidak nyaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akan ada hari ketika hal kecil saja rasanya cukup untuk bikin kesal. Suara orang yang terlalu berisik, chat yang belum dibalas, atau antrean yang berjalan lambat bisa terasa jauh lebih mengganggu ketika kepala sedang penuh.

Bersikap mindful sering dianggap bisa membantu kita menghadapi keadaan seperti ini dengan lebih tenang. Lalu, benarkah mindful membuat orang jadi tidak mudah kesal? Berikut jawabannya!

1. Mindful bukan berarti kamu gak pernah merasa kesal

ilustrasi mindful eating (vecteezy.com/dodotone)

Menjadi mindful bukan berarti semua hal harus diterima dengan tenang. Kamu tetap bisa kesal ketika seseorang memotong antrean, membuat janji lalu datang terlambat, atau berbicara seenaknya. Perbedaannya terletak pada apa yang kamu lakukan setelah menyadari rasa kesal tersebut.

Saat terbiasa memperhatikan apa yang sedang terjadi, kamu punya kesempatan untuk berhenti sebentar sebelum langsung bereaksi. Alih-alih buru-buru membalas dengan nada tinggi, kamu bisa menyadari bahwa dirimu memang sedang marah. Kesadaran kecil seperti ini memberi batas antara perasaan yang muncul dan tindakan yang kamu pilih.

2. Kamu jadi lebih sadar dengan hal yang sebenarnya bikin kesal

ilustrasi kesal (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Kadang kita merasa kesal pada satu kejadian, padahal penyebabnya sudah menumpuk sejak beberapa jam sebelumnya. Pekerjaan belum selesai, belum makan, kurang tidur, lalu seseorang mengajukan permintaan kecil saja rasanya sudah cukup mengganggu. Kalau terbiasa memperhatikan kondisi diri sendiri, kamu bisa lebih cepat menyadari bahwa masalahnya bukan cuma permintaan tersebut.

Kesadaran seperti ini membuat kita gak selalu melampiaskan rasa kesal kepada orang atau keadaan yang kebetulan ada di depan mata. Kamu bisa melihat, “Oh, ternyata aku memang lagi capek,” sebelum menganggap semua orang sedang menyebalkan. Bukan berarti rasa kesalnya langsung hilang, tetapi penyebabnya menjadi lebih jelas sehingga reaksinya bisa lebih masuk akal.

3. Ada jeda sebelum kamu bereaksi

ilustrasi bereaksi (pexels.com/Alex Green)

Rasa kesal biasanya lebih cepat muncul daripada pertimbangan yang kita ambil. Baru membaca satu kalimat di chat, tangan sudah ingin mengetik balasan panjang kali lebar. Begitu melihat pengendara lain menyerobot, mulut rasanya ingin langsung memaki.

Mindfulness melatih perhatian pada apa yang sedang terjadi saat itu, termasuk ketika emosi mulai naik. Istirahat beberapa detik mungkin terdengar sepele, tetapi cukup untuk membuatmu mempertimbangkan apakah sesuatu memang perlu dibalas atau sebenarnya bisa kita skip begitu saja. Kebiasaan semacam ini bisa membuat respons sehari-hari terhadap sesuatu terasa lebih terkontrol tanpa menuntutmu untuk selalu bersikap sabar.

4. Hal kecil gak selalu mendapat reaksi sebesar itu

ilustrasi reaksi (pexels.com/Liza Summer)

Ketika perhatian sedang terbagi ke banyak hal, gangguan kecil bisa terasa jauh lebih besar. Notifikasi yang terus berbunyi, meja berantakan, atau seseorang yang mengulang pertanyaan yang sama bisa membuat emosi cepat naik. Mindful membantu kita kembali memperhatikan satu hal yang sedang dihadapi, bukan ikut memikirkan sepuluh masalah lain sekaligus.

Dari hal semacam ini, kamu mungkin mulai lebih mudah membedakan mana yang memang perlu dihadapi dan mana yang sebenarnya gak perlu dipikirkan lama-lama. Kalau ada orang yang membalas chat lebih lama dari biasanya, misalnya, kamu gak langsung membuat banyak spekulasi. Arahkan kembali perhatianmu ke apa yang benar-benar terjadi, bukan ke cerita yang dibuat sendiri di kepala.

5. Tetap ada hal yang memang pantas bikin kamu kesal

ilustrasi kesal (vecteezy.com/Natallia Krechka)

Bukan berarti mindful membuat orang jadi tidak mudah kesal, menahan emosi, atau membiarkan orang lain memperlakukanmu sesuka hati. Kalau seseorang terus mengganggu, merugikan, atau melewati batas yang sudah kamu sampaikan, rasa kesal bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Bersikap tenang juga gak sama artinya dengan selalu diam atau selalu mengalah.

Justru dengan lebih sadar terhadap perasaan sendiri, kamu bisa menyampaikan keberatan tanpa harus menunggu sampai emosi menumpuk. Kamu tetap boleh bilang tidak, menegur orang, meninggalkan situasi yang gak nyaman, atau membicarakan masalah dengan serius. Bedanya, keputusan tersebut diambil karena kamu tahu apa yang sedang kamu rasakan, bukan semata-mata karena sedang terbawa emosi.

Kalau dipikir-pikir, mungkin tujuan bersikap mindful memang bukan mengubah kita menjadi orang yang gak pernah kesal. Sebab yang lebih masuk akal adalah belajar mengenali rasa kesal sebelum perasaan itu mengambil alih tindakan kita. Kalau ada hal kecil yang akhir-akhir ini gampang bikin kamu naik darah, pernah coba berhenti sebentar dan memperhatikan apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article