PoV Artis-Influencer soal Mindfulness, Kunto Aji: Mindful Itu Menjadi Aware

- Video Maudy Ayunda tentang mindfulness di era kabar buruk memicu kritik publik dan perbincangan media sosial, lalu mengundang tanggapan dari sejumlah artis serta influencer.
- Gita Savitri menilai mindfulness dan stoicism kerap menjadi kompromi psikologis di tengah ketimpangan sosial, sementara Kunto Aji menekankan mindfulness sebagai kesadaran dan empati.
- Dennis Adhiswara memaknai mindfulness melalui lingkungan terawat dan kehidupan warga yang tenteram, serta menekankan kontribusi, saling membantu, dan bergerak bersama untuk mencapainya.
Kontroversi soal mindfulness yang dibahas Maudy Ayunda masih menjadi perbincangan di media sosial. Video "Mindfulness in the Age of Bad News" milik Maudy Ayunda yang diunggah ke YouTube-nya pada 21 Agustus 2026 menuai kritik dari publik.
Sejumlah seleb turut menyampaikan pandangan mereka mengenai mindfulness. Di antara mereka ada Gita Savitri, Kunto Aji, dan Dennis Adhiswara yang menyampaikan perspektif mereka mengenai makna mindfulness dan penerapannya dalam situasi sosial.
1. Gita Savitri

Gita Savitri (threads.com/gitasav) Gita Savitri menjadi salah satu influencer yang membahas mindfulness melalui unggahan di Threads pada Senin (14/9/2026). Ia mengkritik, mindfulness dan stoicism kerap digunakan sebagai bentuk kompromi psikologis di tengah persoalan ketimpangan sosial. Pernyataan ini pun mendapatkan dukungan dari banyak warganet.
“Mindfulness dan stoicism memang akal-akalan kapitalisme. Saat segelintir orang menimbun kekayaan dan mayoritas harus kerja mati-matian, kompromi psikologis nggak akan bikin kita keluar dari keadaan ini,” tulis Gita pada Senin (14/9/2026).
2. Kunto Aji

Kunto Aji (threads.com/kuntoajiw) Kunto Aji juga menyampaikan pandangannya mengenai mindfulness. Ia menulis, menjadi mindful berarti menjadi aware atau sadar, yang menurutnya juga berkaitan dengan kemampuan untuk berempati.
“Menjadi mindful adalah menjadi aware. Menjadi aware adalah menjadi berempati,” tulis Kunto Aji pada Selasa (15/9/2026).
Kunto kemudian menanggapi unggahan Gita Savitri mengenai mindfulness. Ia menyebut kritik Gita bukan tanpa dasar, karena dalam praktiknya, menurut Kunto, sejumlah ajaran penerimaan memang dapat digunakan untuk meredam kritik. Namun, ia menilai mindfulness tidak sepenuhnya harus dimaknai demikian, karena kesadaran batin juga dapat menjadi alat untuk menghadapi situasi.
Kunto menulis, “Apa yang disampaikan @gitasav bukan tanpa dasar. Memang pada praktiknya banyak ajaran penerimaan dijadikan penguasa untuk meninabobokan kritik. Depolitisasi melalui equanimity (keseimbangan batin). Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena pada akhirnya kesadaran batin hanyalah kendaraan. Tools."
3. Dennis Adhiswara

Dennis Adiswara (threads.com/@dennisadishwara) Sementara itu, Dennis Adhiswara membagikan pandangannya mengenai mindfulness melalui sebuah video yang diunggah pada Selasa (15/9/2026). Ia mengaitkan mindfulness dengan kondisi lingkungan dan kehidupan sosial di sekitarnya. Menurut Dennis, ia bisa merasa mindful ketika melihat alam dan lingkungan terawat dengan baik serta tidak dirusak atau dicemari.
“Saya ingin berbicara tentang mindfulness di era bad news bagi saya. Nah, bagi saya bisa mencapai titik mindful ketika saya melihat alam dan isinya itu tidak dinodai dan tidak dicemari. Terawat dengan baik, itu saya bisa mindful," ungkapnya.
Dennis kemudian mengatakan, kondisi tersebut tidak cukup hanya diharapkan, tetapi membutuhkan kontribusi bersama. Ia menekankan pentingnya saling membantu dan bergerak sebagai sesama warga. Ia pun menegaskan ini adalah masanya untuk bergerak bersama.
“Yang kedua, saya juga senang bisa melihat sesama warga, kerabat saya, tetangga saya, itu bisa hidup tenteram tanpa saling merugikan. Jadi itu adalah mindfulness menurut saya. Gimana cara mencapainya? Ya mau gak mau memang kita harus bekontribusi semampu kita, bersama-sama. Sesama warga, saling bantu. Saling bekerja, semampu kita, gerak, intinya gerak, gerak,” ungkap Dennis Adhiswara.





















