Banyak orang beranggapan bahwa mindfulness membuat orang jadi tidak mudah marah. Selain itu, orang yang belajar mindfulness terkadang dianggap harus lebih sabar, lebih tenang, dan jarang tersulut emosi. Gambaran seperti ini bikin seseorang bisa merasa gagal hanya karena masih kesal saat menghadapi hal yang menyebalkan.
Benarkah Mindfulness Membuat Orang Jadi Tidak Mudah Marah?

- Mindfulness tidak menghapus rasa marah; seseorang tetap wajar merasa kesal, kecewa, atau tersulut oleh situasi yang menyebalkan.
- Kesadaran saat marah memberi jeda agar tindakan dan ucapan tidak langsung impulsif, tanpa mengharuskan seseorang memendam atau menyangkal perasaannya.
- Kemajuan mindfulness lebih terlihat dari kemampuan mengenali pemicu, memahami kekesalan yang menumpuk, serta memperbaiki respons setelah marah.
Padahal, mindfulness bukan latihan supaya kita berubah menjadi orang yang tidak pernah marah. Yuk, lihat apa yang sebenarnya berubah ketika seseorang mulai lebih sadar akan apa yang sedang terjadi pada dirinya!
1. Orang mindful tetap bisa naik darah

ilustrasi marah (pexels.com/Alex Green) Bayangkan kamu sudah menunggu seseorang selama hampir satu jam, lalu dia datang tanpa merasa perlu meminta maaf. Wajar kalau rasa kesal langsung muncul. Begitu juga ketika sudah capek bekerja seharian, masih mendapat komentar yang menyebalkan dari orang lain.
Belajar mindfulness tidak membuat kejadian seperti itu tiba-tiba terasa menyenangkan. Kamu tetap bisa merasa jengkel, kecewa, bahkan marah. Perasaan tersebut bukan sesuatu yang harus buru-buru dihilangkan hanya supaya terlihat tenang.
2. Marah tidak harus langsung diikuti ucapan menyakitkan

ilustrasi marah (pexels.com/Budgeron Bach) Saat sedang marah, mulut memang sering ingin bergerak lebih cepat daripada kepala. Kita ingin membalas chat saat itu juga, membentak orang yang bikin kesal, atau mengeluarkan semua hal yang sudah lama dipendam. Beberapa menit kemudian, setelah suasana mereda, baru terpikir, “Kenapa tadi aku ngomong begitu, ya?”
Di sinilah mindfulness bisa berguna. Ketika sadar sedang marah, kita punya kesempatan untuk tidak langsung melakukan apa yang pertama kali terlintas di kepala. Bukan berarti harus duduk diam sambil memaksa diri untuk tenang, tetapi memberi waktu supaya keputusan tidak dibuat ketika emosi sedang tinggi-tingginya.
3. Kadang kita marah karena sudah membawa kekesalan dari sebelumnya

ilustrasi marah (pexels.com/Yan Krukau) Satu kejadian kecil bisa terasa jauh lebih menyebalkan ketika kita memang sudah punya banyak pikiran sejak sebelumnya. Gelas jatuh dan pecah mungkin biasanya cuma bikin kita mengelap lantai, tetapi setelah seharian menghadapi pekerjaan yang berantakan, suara pecahannya saja bisa terasa seperti puncak kesabaran. Orang yang kebetulan ada di dekat kita pun bisa ikut kena omelan.
Kalau terbiasa memperhatikan diri sendiri, kita bisa lebih cepat sadar bahwa masalahnya ternyata bukan cuma gelas yang pecah. Ada capek, kesal, atau urusan lain yang sudah terbawa sejak tadi. Kesadaran seperti ini bisa membuat kita berhenti menyalahkan satu kejadian kecil sebagai penyebab semua kemarahan.
4. Menahan marah bukan tujuan mindfulness

ilustrasi menahan marah (pexels.com/RDNE Stock project) Ada perbedaan antara tidak langsung meluapkan kemarahan dan pura-pura tidak marah. Kalau seseorang membuat kita tersinggung, kita tetap boleh mengaku bahwa perkataannya menyakitkan. Kalau ada perlakuan yang tidak adil, kita juga tetap boleh menyampaikan keberatan.
Mindfulness bukan menyuruh kita tersenyum sambil berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal sebenarnya sedang kesal. Justru dengan menyadari perasaan sendiri, kita bisa lebih jujur melihat apa yang membuat marah dan menentukan apa yang perlu dilakukan setelahnya. Bisa saja kita memilih membicarakannya, bisa juga memilih menunggu sampai kepala lebih dingin.
5. Ukuran untuk mindfulness bukan seberapa sering kita marah

ilustrasi marah (pexels.com/Keira Burton) Orang yang sudah belajar mindfulness tetap bisa kehilangan kesabaran. Ada hari ketika kita bangun dalam keadaan tidak enak badan, pekerjaan menumpuk, lalu satu masalah kecil saja sudah cukup membuat emosi naik. Tidak perlu merasa latihan selama ini sia-sia hanya karena masih mengalami hari seperti itu.
Coba lihat apa yang terjadi setelah marah. Apakah kita langsung menyakiti orang lain, atau sadar bahwa ucapan tadi kelewatan lalu memperbaikinya? Apakah masalahnya selesai setelah dibicarakan, atau kita terus membawa kemarahan itu ke mana-mana? Perubahan kecil semacam inilah yang lebih masuk akal dijadikan ukuran daripada berharap diri sendiri tidak pernah marah lagi.
Anggapan bahwa mindfulness membuat orang jadi tidak mudah marah sepertinya kurang tepat. Marah bukan berarti tanda seseorang gagal menjalani mindfulness. Kita tetap manusia yang bisa kesal ketika diperlakukan seenaknya atau menghadapi hari yang buruk. Justru yang bisa dilatih adalah kesadaran untuk mengenali kemarahan itu sebelum kita membiarkannya mengambil alih semua tindakan impulsif kita.





















