Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mungkin Kamu Bukan Pemalas, Hanya Sedang Alami Trauma Masa Lalu

Mungkin Kamu Bukan Pemalas, Hanya Sedang Alami Trauma Masa Lalu
ilustrasi malas bekerja (Pexels.com/ Ketut Subiyanto)
  • Psikolog Robyn Koslowitz menyebut rasa malas dapat menjadi respons trauma, terutama dari lingkungan yang mengabaikan atau memberi penilaian buruk sejak masa lalu.
  • Pola mengaitkan produktivitas dengan harga diri membuat otak terus waspada; aktivitas terasa berat, motivasi menurun, dan penundaan dapat muncul sebagai kelelahan emosional.
  • Orang yang dicap pemalas mungkin sedang bertahan hidup dengan harga diri bersyarat; kebutuhan utamanya adalah memperlambat diri, mengatur ulang pola, dan menyembuhkan trauma.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika kamu tidak merasa termotivasi melakukan sesuatu, apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu berpikir, "Aku sangat malas, tidak termotivasi, aku kurang disiplin. Ini semua salahku."? Psikolog Robyn Koslowitz Ph.D dalam Psychology Today menyebut, rasa malas sering kali muncul sebagai respons atas trauma. Ia menilai sering kali keinginan untuk menunda suatu pekerjaan terjadi karena pengalaman di masa lalu yang diterima.

Kamu mungkin tak menyangka jika rasa malas yang kerap menghantuimu saat ini, memiliki hubungan dengan pengalaman atau perspektif dari masa lalu. Mengapa demikian? Berikut penjelasan lengkapnya!

  1. 1. Malas bisa jadi tanda trauma

    ilustrasi malas berubah (unsplash.com/Houcine Ncib)
    ilustrasi malas berubah (unsplash.com/Houcine Ncib)

    Sebagai psikolog di Center for Psychological Growth of New Jersey, Robyn menjelaskan bahwa tumbuh di lingkungan yang kerap mengabaikan atau memberikan penilaian buruk, dapat membuat seseorang menginternalisasi pesan negatif tentang dirinya. Misalnya, pertanyaan seperti, “Kamu seharian gak melakukan apa-apa?” dapat diinterpretasikan sebagai kritik dan memunculkan rasa malu. Seiring waktu, seseorang bisa terbiasa menganggap dirinya berharga ketika produktif atau sibuk, sementara istirahat justru dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Pola inilah yang terus terpatri di kepala.

    Ketika pola itu terus ada, menjadi sebuah kebiasaan dan trauma yang belum terselesaikan, inilah yang mendorong tubuh dan otak terus berada dalam mode waspada. Aktivitas sederhana pun dapat terasa lebih berat. Otak kemudian cenderung menghemat energi karena merasa perlu bersiap menghadapi ancaman, sehingga seseorang mungkin sulit memulai pekerjaan, cepat lelah, atau memilih menghindari aktivitas. Dengan begitu, ketika seseorang menunda pekerjaan, bisa jadi tubuhnya sedang berusaha menghemat energi untuk bertahan dalam kondisi yang dirasanya mengancam.

  2. 2. Produktivitas tinggi sama dengan harga diri yang bagus?

    Ilustrasi malas belajar (freepik.com/freepik)
    Ilustrasi malas belajar (freepik.com/freepik)

    Jika seseorang telah terbiasa memahami bahwa produktivitas memiliki nilai yang sangat berharga, di sisi lain, otak juga dapat memberontak ketika dihadapkan pada harapan yang terlalu besar. Pada akhirnya, kondisi ini justru dapat mematikan motivasi untuk menyelesaikan sesuatu. Sekilas, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti kemalasan, tetapi penundaan atau penghindaran bisa menjadi tanda kelelahan emosional yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.

    Ketika seseorang terbiasa melakukan sesuatu dengan baik untuk membuktikan nilai dirinya atau meredam ketakutan dan pikiran yang muncul akibat trauma, kritik yang diterima justru dapat memunculkan rasa sakit dan kelelahan. Pada akhirnya, bukan kemalasan yang membuat seseorang enggan melakukan sesuatu, melainkan pola yang terbentuk dari pengalaman tersebut.

  3. 3. Bukan pemalas, hanya saja sedang bertahan hidup

    Ilustrasi malas bekerja (freepik.com/freepik)
    Ilustrasi malas bekerja (freepik.com/freepik)

    Orang yang kerap dianggap sebagai 'pemalas' kerap kali menetapkan tujuan yang sangat tinggi demi membuktikan nilai dirinya. Namun ketika tujuan itu tidak tercapai, yang ia rasakan justru perasaan malu. Rasa malu atau kekecewaan karena harapan yang tidak tercapai itu, pada akhirnya mendorong diri untuk mengidentifikasi sebagai kemalasan.

    "Rasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa berasal dari keyakinan yang dipegang teguh bahwa kita harus mendapatkan nilai kita melalui output," ujar Emily Sotiriadis, LMFT, seorang terapis pernikahan dalam VeryWell Mind.

    Hal ini disebut harga diri bersyarat, di mana seseorang akan merasa berharga jika mampu mencapai target dan ekspektasi. Sementara itu, ia tidak menilai dirinya berharga jika yang terjadi sebaliknya.

    Jika melalui tanda semacam ini, yang dibutuhkan adalah memperlambat, mengatur ulang, dan menyembuhkan trauma itu. Pahami bahwa kamu tidaklah malas, melainkan sistem saraf terjebak dalam metode bertahan hidup.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More