Dini dan penyandang disabilitas di Dama Kara Foundation (damakarafoundation.com)
Seorang anak berkebutuhan khusus dari Inggris yang kemudian populer di media sosial karena karya lukisnya memberi inspirasi bagi Dini. Pada usia 3 tahun, anak bernama Iris tersebut dikenalkan pada seni lukis sebagai bagian dari terapi. Tak dikira, pada umur 6 tahun, Iris melahirkan lukisan-lukisan abstrak yang ekspresif dan menguasai pewarnaan secara mumpuni.
Dari kisah Iris, Dini menggali informasi lebih dalam tentang penyandang disabilitas di Indonesia. Menurutnya, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia bisa jadi lebih tinggi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencapai 22,97 juta jiwa. Ini karena masih ada masyarakat yang menganggap kondisi disabilitas sebagai aib, sehingga harus ditutupi.
Dini juga menelusuri tentang kekuatan seni sebagai medium terapi sekaligus potensi dan kelebihan yang dapat digali dari para difabel seperti halnya Iris Grace. Ide pun menyeruak: karya seni para disabilitas dapat dipadukan dengan produksi kain tradisional dari Dama Kara.
Sejak itu, Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024. Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama.
Dama Kara Foundation mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas. Melalui pendampingan oleh art fasilitator secara one on one—satu difabel satu pendamping, kelas ini tidak hanya melatih keterampilan seni dan motorik halus, tetapi juga mengasah imajinasi, konsentrasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri para difabel.
Karya-karya penyandang disabilitas ini kemudian dikembangkan melalui workshop kolaboratif dan pameran. Menurut Dini, para difabel yang bergabung di Dama Kara Foundation ini tidak harus mahir melukis atau mendesain.
“Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” ujarnya.
Dama Kara Foundation membuka ruang seluas-luasnya bagi difabel yang tertarik bergabung. Komitmen ini muncul setelah sejumlah keluarga penyandang disabilitas menyampaikan bahwa pendidikan formal bagi difabel hanya sampai setingkat SMA atau SMK.
“Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” katanya.
Dini menjelaskan setiap difabel memerlukan pendampingan khusus dengan gaya berbeda. Sebagai contoh, ada anak yang menggambar dengan cahaya redup, ada yang mengerjakan sambil mendengarkan musik. Dini dan tim akan menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan itu.
Demikian pula dengan hasil karya para penyandang disabilitas. Sembari terus didampingi dan diasah, Dama Kara tidak mengharuskan kualitas tertentu, dan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Sesuai komitmen kebermanfaatan yang dicetuskan Dini, semua program Dama Kara untuk difabel ini dilakukan secara cuma-cuma.
“Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkap Dini.