Nurdini Prihastiti (Dini), pendiri Dama Kara (dok. Tanoto Foundation)
Kepedulian Dini pada kaum rentan tak lepas dari perjalanan hidupnya. Bungsu dari tiga bersaudara ini sempat mengalami keterbatasan dari sisi ekonomi. Sang ayah meninggal dunia saat ia kelas 2 SMP. Alhasil, ibunya yang seorang guru SD mesti membesarkan tiga orang anak.
Seperti kiprahnya saat ini, jiwa wirausaha rupanya telah tumbuh pada Dini kecil. Pada usia SD, sepulang dari sekolah, ia sudah berani berjualan.
“Kalau siang saya duduk di madrasah atau sekolah agama ada yang jajan, saya ngelihat, ‘wah, ini peluang untuk jualan’. Akhirnya saya minta modal ke bapak Rp5 ribu untuk saya belikan jajanan yang kemudian saya jual,” kenang Dini.
Semangat wirausaha itu berlanjut ketika di SMA dan kuliah. Di IPB, Dini bahkan menyewa salah satu sudut kampus untuk membuka lapak jualan tas dan pakaian. Aktivitas bisnis ini harus diatur di antara jadwal kuliah dan seabrek kegiatan lain. Kala itu, Dini juga bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan menjadi penyiar radio.
“Jualan mungkin lebih ke hobi ya. Saya suka bertemu dan berinteraksi dengan orang. Toh, waktu itu akhirnya bisa menabung untuk membayar biaya kos. Selain hobi, ternyata bisa mengurangi pengeluaran,” katanya seraya tergelak.
Pendidikan formal Dini makin mengukuhkan antusiasmenya dalam interaksi sosial. Selama studi S1 di bidang komunikasi dan pengembangan masyarakat di IPB, mahasiswa dituntut untuk sering turun ke masyarakat. Hampir tiap semester, mahasiswa tinggal di rumah warga selama beberapa hari di sejumlah daerah.
Ketika S2 Administrasi Bisnis ITB, aktivitas kuliah dan riset Dini juga senada, bahkan lebih spesifik di bidang kain tradisional yang turut membuka jalan berdirinya Dama Kara. Pengalaman di kampus ini mengasah kepekaan sosialnya.
“Kita menggali problem di masyarakat, kemudian membuat analisis dan mengusulkan program yang cocok. Kita coba melihat keseharian dan menemukan masalah utama yang sering kali berbeda dari yang mereka sampaikan,” ungkapnya.
Di masa kuliah pula, Dini menemukan inspirasi awal untuk terjun ke dunia sosial. Saat itu, karena menyadari kondisi ekonomi keluarga, ia berburu beasiswa sejak semester pertama.
“Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa,” ujarnya.
Dari ketekunan itu, Dini akhirnya berhasil. Sebuah beasiswa menopang biaya kuliahnya. Namun, capaian ini tak menghentikan upayanya untuk mencari beasiswa lain yang dinilai lebih baik. Pada semester 2, ia melihat pengumuman suatu beasiswa yang menurutnya menawarkan nilai tambah.
Dini pun mengikuti seleksi beasiswa tersebut dan dinyatakan lolos, lantas mengundurkan diri dari beasiswa sebelumnya. Sejak itulah Dini menjadi Tanoto Scholar.
“Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain,” tuturnya.
Dini menegaskan pengalaman bertemu dan bertukar pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian pada sesama dari kegiatan Tanoto Foundation sungguh berkesan. Momen itu terus terpatri dan turut memantik semangat Dini untuk berbagi dan memberi manfaat bagi sesama, terutama bagi kalangan yang terpinggirkan.
“Banyak yang terbantu oleh Tanoto Foundation. Bukan hanya saya, tapi ratusan bahkan ribuan teman-teman lain. Ketika kita dikumpulkan dan mendengarkan kisah-kisah penuh perjuangan, terlintas juga kapan saya bisa mulai berbagi kalau tidak dari sekarang,” ungkap Dini.