Banyak orang ingin punya teman dari negara lain, tapi sering mengurungkan niat karena merasa kemampuan bahasanya belum cukup mumpuni. Muncul rasa khawatir tidak bisa mengikuti obrolan, salah menangkap maksud, atau membuat suasana canggung karena bingung harus berkata apa.
Padahal, tidak sedikit persahabatan lintas negara yang justru berawal dari percakapan serba terbatas, yakni dengan saling mengandalkan aplikasi penerjemah, kalimat pendek yang terputus-putus, atau bertanya berulang kali tentang arti sebuah kata. Lalu, apa yang membuat hubungan semacam ini bisa tumbuh semakin dekat? Berikut lima alasannya.
